India dan Minyak Rusia di Tengah Huru-Hara Tarif AS

BA (Hons) Queen's University of Belfast MA Columbia University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabila Aulia Hasrie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertemuan 2 minggu lalu antara PM India, Narendra Modi dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) terjadi di tengah memanasnya hubungan India-AS. Washington beberapa waktu lalu memang memberlakukan tarif sekunder terhadap India sebagai respons atas kelanjutan impor minyak mentah dari Rusia. AS menuduh India memperkuat kemampuan militer Rusia secara tidak langsung, sementara New Delhi menolak tuduhan ini dengan menegaskan bahwa kebijakan energinya didasarkan pada kebutuhan keamanan nasional, bukan kalkulasi geopolitik.
Alih-alih menjauh, tekanan ini justru mempererat hubungan India dengan Moskow, yakni, sebuah kemitraan yang sudah lama terbangun dan kini menemukan momentumnya kembali.
Kerja sama India-Rusia bukan hubungan dadakan. Sejak lama, kedua negara memiliki kepentingan bersama dalam merombak tatanan global yang selama ini didominasi Barat. Di berbagai forum seperti SCO, BRICS dan G20, India dan Rusia telah lama bersinergi untuk memperkuat suara negara-negara global south.
Kerja sama pertahanan tetap menjadi fondasi utama. Meski proporsi impor senjata Rusia ke India menurun (dari 62% pada 2017 menjadi 45% pada 2022), lebih dari 60% platform militer India masih berasal dari Rusia. Kedua belah pihak masih berkomitmen memperkuat kerja sama teknis militer.
Dalam bidang ekonomi, hubungan ini mengalami lonjakan. Nilai perdagangan bilateral mencapai $68,7 miliar pada 2024; naik hampir enam kali lipat dibandingkan era sebelum pandemi. India menjadi mitra dagang terbesar kedua bagi Rusia, terutama berkat impor minyak Rusia yang dijual dengan harga diskon.
Minyak Sebagai Mata Uang Strategis
Ketertarikan India pada minyak Rusia bukan hal baru. Pada era 1960-an, Uni Soviet juga pernah menawarkan diskon serupa walaupun sejak 2022, situasinya berubah drastis. Ketika pasar Barat tertutup karena sanksi dan pembatasan harga, Rusia menawarkan potongan harga hingga $20 per barel. Bagi India yang sangat sensitif terhadap harga, ini adalah tawaran yang sulit ditolak.
Untuk menghindari sistem keuangan Barat, kedua negara membentuk mekanisme pembayaran baru, termasuk transaksi dalam mata uang nasional dan asuransi maritim alternatif. Akibatnya sejak 2022, India mengimpor minyak senilai sekitar $140 miliar dari Rusia, menghemat sekitar $12,6 miliar.
Ada penurunan impor sesaat pada pertengahan 2025 akibat serangan Ukraina ke infrastruktur Rusia dan berkurangnya diskon. Tapi kini, setelah AS memberlakukan tarif baru, diskon meningkat lagi dan para penyuling India kembali meningkatkan pembelian. Diperkirakan, impor minyak mentah dari Rusia akan naik 10–20% bulan ini.
Dengan porsi hampir 40% dari total impor minyak India berasal dari Rusia, sulit membayangkan adanya alternatif jangka pendek. Bahkan jika diskonnya kecil, skalanya tetap menggoda. Tak heran jika pemerintah India tidak mau ambil risiko terhadap stabilitas energinya.
Sementara itu langkah AS, khususnya di bawah pemerintahan Trump, menuai kritik. Di satu sisi, Washington memberi sanksi ke India, sementara di sisi lain perusahaan AS justru mencari peluang investasi di sektor energi Rusia. Ketidakkonsistenan ini memperkuat argumen India untuk tetap menjaga hubungan dengan Moskow.
Otonomi, bukan Dikotomi
Pilihan India untuk terus merangkul Rusia di tengah tekanan Barat mencerminkan strategi otonomi strategis yang konsisten. India tidak berpaling dari Barat, tapi juga tidak akan tunduk pada tekanan atau moralistik Barat.
Negosiasi yang sedang berlangsung dalam kerangka Komisi Antarpemerintah India-Rusia (IRIGC) mencakup kerja sama pertahanan, perdagangan, energi, bahkan kawasan Arktik.
Namun, India tetap menjaga jarak dari kerangka pikir Rusia yang cenderung menyelaraskan diri dengan Tiongkok dalam posisi anti-Barat. India tidak ingin masuk dalam dikotomi geopolitik semacam itu. Sikapnya jelas: bukan pro-Barat, tapi juga tidak anti-Barat. India ingin menjadi kekuatan mandiri, bukan pion dalam pertarungan adidaya.
Tuduhan aneh dari kubu Trump, termasuk menyebut perang Ukraina sebagai “perangnya Modi”, hanya akan memperkuat alasan India untuk melanjutkan kerja sama substansial dengan Rusia.
