Di Balik Layar yang Terang, Ada Jiwa yang Gelap

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nabila Aulia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital seperti sekarang, kita hidup dalam dunia yang seolah tak pernah gelap. Layar-layar ponsel, laptop, dan televisi menyala hampir 24 jam, menyajikan segalanya mulai dari berita dunia, candaan ringan, hingga potongan kehidupan orang lain yang terlihat begitu sempurna. Namun, di balik semua cahaya itu, sering kali tersembunyi hal yang tidak terlihat: kegelapan di dalam jiwa manusia.
Media sosial, misalnya, menjadi ruang publik yang sangat terang—semua orang menunjukkan yang terbaik dari diri mereka. Tawa, pencapaian, liburan, dan kebahagiaan seolah menjadi standar baru kebiasaan daring. Tapi di balik unggahan yang tersusun rapi, tak sedikit orang yang sebenarnya merasa kosong, cemas, dan tidak baik-baik saja.
Ironisnya, layar yang seharusnya mendekatkan, justru sering menciptakan jurang. Kita lebih banyak menggulir layar daripada menyapa orang terdekat. Kita bisa tertawa bersama orang asing di internet, tapi lupa menanyakan kabar orang yang tinggal serumah. Kita bisa terlihat bahagia dalam filter, namun menangis saat layar dimatikan.
Kondisi ini menciptakan generasi yang semakin rentan terhadap tekanan mental. Banyak yang merasa harus selalu “terlihat bahagia” agar diterima. Padahal, tidak ada manusia yang bahagia terus menerus. Semua orang punya hari buruk, punya luka, punya trauma namun hal itu jarang dibagikan karena takut dianggap lemah atau tidak menarik.
Opini ini bukan untuk menyalahkan teknologi. Layar memang memberi banyak manfaat. Tapi kita perlu jujur dan sadar: terang dari layar tidak selalu menyinari isi hati kita. Justru kadang, terlalu sibuk menyalakan layar membuat kita lupa menerangi diri sendiri.
Sudah saatnya kita mengurangi sorotan ke luar, dan mulai memeriksa ke dalam. Bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar bahagia? Apakah aku merasa cukup, atau hanya pura-pura kuat demi tampak baik di dunia yang serba visual?
Karena pada akhirnya, secerah apa pun layar kita, jika hati dibiarkan gelap terlalu lama, tak ada filter yang mampu menutupi luka yang tumbuh diam-diam.
Nabila Aulia Putri, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab
