Konten dari Pengguna

Fusha dan Amiyah: Sama-Sama Arab, Tapi Tak Selalu Sama

Nabila Aulia Putri

Nabila Aulia Putri

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Aulia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/id-id/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/id-id/

Bahasa Arab dikenal sebagai salah satu bahasa yang paling kaya dan kompleks di dunia. Namun, kekayaan ini tidak hanya terletak pada kosakata atau struktur gramatikalnya, tetapi juga pada keberadaan dua bentuk utama yang hidup berdampingan: Fusha (Bahasa Arab Baku) dan Amiyah (Bahasa Arab Dialek). Meski keduanya sama-sama “bahasa Arab”, keduanya tidak selalu berjalan seiring, baik dalam penggunaan sehari-hari maupun dalam pemahaman lintas wilayah.

Fusha adalah bentuk standar Bahasa Arab yang digunakan dalam media resmi, dokumen pemerintahan, pidato kenegaraan, dan tentu saja, Al-Qur’an. Ia adalah bahasa penghubung dunia Arab, dari Maroko hingga Irak. Siapa pun yang belajar Bahasa Arab secara formal pasti akan diperkenalkan dengan Fusha terlebih dahulu. Ia dianggap “tinggi” dan berwibawa, tapi di sisi lain, terasa kaku dan kadang tidak hidup dalam percakapan sehari-hari.

Sebaliknya, Amiyah adalah bahasa Arab versi rakyat dialek lokal yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Arab di berbagai negara. Dialek Mesir berbeda jauh dengan dialek Lebanon, yang juga berbeda dengan dialek Maghribi. Bahkan, ada kasus di mana penutur Amiyah dari dua negara Arab yang berbeda sulit memahami satu sama lain tanpa bantuan Fusha sebagai jembatan.

Di sinilah letak tantangannya. Banyak pelajar asing merasa “terjebak” ketika setelah mempelajari Fusha bertahun-tahun, mereka menyadari bahwa dalam kehidupan sosial masyarakat Arab, Fusha nyaris tidak terdengar digantikan oleh Amiyah yang lebih cair dan fleksibel. Hal ini bisa menimbulkan kebingungan, frustrasi, bahkan kesenjangan komunikasi.

Namun, justru dari perbedaan ini kita bisa melihat fleksibilitas Bahasa Arab sebagai bahasa hidup. Fusha menjaga kesatuan linguistik dan identitas formal dunia Arab, sementara Amiyah mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan konteks lokal. Sama-sama Arab, tapi tidak selalu sama dan mungkin memang tidak perlu selalu sama.

Nabila Aulia Putri, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab