Konten dari Pengguna
Mimpi yang Tak Sampai: Antara Realita dan Harapan
24 Juni 2025 11:49 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Mimpi yang Tak Sampai: Antara Realita dan Harapan
Tulisan ini berisi tentang mimpi yang tak sampai: antara realita dan harapanNabila Aulia Putri
Tulisan dari Nabila Aulia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Setiap orang memiliki mimpi. Sejak kecil, kita diajarkan untuk bercita-cita tinggi menjadi dokter, guru, arsitek, bahkan astronot. Mimpi-mimpi itu tumbuh bersama kita, menjadi bahan bakar semangat dan arah hidup. Namun, tidak semua mimpi berakhir di garis finis. Beberapa mimpi hanya sampai di tengah jalan, terhenti oleh kenyataan yang tak bisa dihindari.
ADVERTISEMENT
Tidak mudah menerima bahwa apa yang kita perjuangkan sepenuh hati, pada akhirnya tak bisa kita genggam. Tapi kenyataan sering kali tidak peduli pada seberapa keras kita berusaha. Ada hal-hal yang berada di luar kendali kita kondisi keluarga, kesehatan, ekonomi, bahkan keputusan orang lain. Mimpi yang dulunya terang benderang bisa tiba-tiba meredup, tergantikan oleh kewajiban dan tanggung jawab yang datang lebih dulu.
Namun, apakah mimpi yang tidak tercapai selalu berarti kegagalan? Jawabannya: tidak. Tidak tercapainya sebuah mimpi bukanlah akhir dari segalanya. Kadang, mimpi yang tak sampai justru membuka jalan baru yang lebih bermakna. Jalan yang mungkin tidak pernah kita rencanakan, tapi justru lebih sesuai dengan siapa kita sebenarnya.
Mengikhlaskan mimpi bukan berarti menyerah. Justru di sanalah letak kedewasaan: saat kita mampu membedakan antara harapan yang ideal dan kenyataan yang nyata. Ikhlas bukan pasrah, melainkan kemampuan untuk menerima bahwa hidup punya rencana lain dan mungkin, rencana itu lebih baik.
ADVERTISEMENT
Setiap mimpi yang tertinggal, menyisakan pelajaran. Tentang usaha, tentang harapan, tentang menerima. Dan dari semua itu, kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang mendapat apa yang kita inginkan, tapi tentang bagaimana kita tumbuh dari apa yang kita lalui.
Mimpi yang tak sampai bukan cerita yang harus disesali, melainkan bab yang harus dimaknai. Karena di antara realita dan harapan, kita menemukan diri kita yang sebenarnya.
Nabila Aulia Putri, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab

