Konten dari Pengguna

Fenomena "Validasi Online": Mengapa Like dan View Bisa Membuat Kita Minder?

Nabila Azwa Shahira

Nabila Azwa Shahira

Mahasiswa Psikologi UIN syarif hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Azwa Shahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Cuma 20 like?”

Kalimat itu mungkin terdengar sepele. Namun bagi sebagian orang, angka kecil di media sosial bisa merusak mood seharian. Ada yang langsung menghapus postingannya karena dianggap “sepi”

Ada yang terus-menerus mengecek notifikasi setiap beberapa menit. Ada juga yang diam-diam membandingkan jumlah view miliknya dengan orang lain, lalu merasa hidupnya kurang menarik.

Fenomena ini dikenal sebagai online validation, yaitu kondisi ketika seseorang merasa lebih berharga setelah mendapat perhatian dan respons dari internet. Secara psikologis, manusia memang memiliki kebutuhan untuk diterima dan dihargai oleh lingkungan sosialnya. Karena itu, perhatian, pujian, dan pengakuan dari orang lain sering kali memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri (Chen, 2025).

Masalahnya, media sosial membuat kebutuhan tersebut berubah menjadi angka-angka digital. Like, komentar, view, dan jumlah pengikut perlahan menjadi tolak ukur untuk menilai diri sendiri. Ketika unggahan ramai, seseorang bisa merasa lebih percaya diri dan diterima. Namun ketika responsnya sedikit, muncul rasa kecewa, minder, bahkan merasa dirinya kurang menarik.

freepick

Kalau rasa berharga kita hanya bergantung pada media sosial, mood dan rasa percaya diri jadi mudah naik turun karena perhatian orang lain (Voggenreiter et al., 2024).

Kebiasaan Membandingkan Diri di Media Sosial

Salah satu hal yang paling melelahkan dari media sosial adalah kebiasaan membandingkan diri. Saat membuka TikTok atau Instagram selama beberapa menit saja, seseorang bisa melihat teman yang sudah sukses di usia muda, pasangan romantis, orang dengan tubuh ideal, pencapaian karier, atau kehidupan yang tampak sempurna. Lama-kelamaan, muncul pertanyaan kecil dalam diri:

“Kok semua orang keliatan lebih sukses ya?”

”Kenapa aku masih gini-gini aja?"

“Apa aku emang kurang dibanding mereka?”

Kebiasaan membandingkan diri seperti ini disebut social comparison, yaitu kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai dirinya sendiri. Tanpa sadar, media sosial membuat kebiasaan ini terjadi terus-menerus setiap hari.

Saat melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih menarik, seseorang bisa mulai merasa dirinya kurang. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri di media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental, konsep diri, dan rasa percaya diri seseorang (Chen, 2025).

Media sosial juga perlahan memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri. Fenomena ini berkaitan dengan teori Looking Glass Self dari Charles Horton Cooley yang menjelaskan bahwa manusia sering melihat dirinya berdasarkan bagaimana orang lain memandang dirinya.

Dalam media sosial, komentar dan jumlah like menjadi semacam “cermin digital”. Ketika seseorang mendapat banyak respons positif, ia merasa dirinya lebih berharga. Sebaliknya, ketika respons yang diterima sedikit, rasa percaya dirinya ikut turun (Jones, 2016).

Saat Like dan View Mulai Memengaruhi Mental

Pada dasarnya manusia memang senang merasa dihargai dan diperhatikan oleh orang lain. Ketika seseorang mendapat banyak like atau komentar positif, otak melepaskan dopamin, yaitu hormon yang menimbulkan rasa senang dan dihargai. Itulah mengapa banyak orang terus mengecek notifikasi. Bukan karena benar-benar penting, tetapi karena otak mulai terbiasa mencari rasa senang singkat dari perhatian orang lain.

Masalahnya, rasa puas itu tidak bertahan lama. Setelah perhatian menurun, seseorang kembali merasa kurang. Akibatnya, banyak orang terus merasa harus terlihat menarik dan sempurna agar tetap mendapat perhatian. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa lelah secara mental. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa minimnya respons di media sosial dapat memicu stres, kecemasan, dan rendahnya self-esteem atau harga diri (Karim et al., 2020).

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara manusia memandang dan menghargai dirinya sendiri.

Pada akhirnya, jumlah like dan view bukan ukuran nilai diri seseorang. Manusia tetap berharga, meski tidak selalu dilihat, dipuji, atau viral di internet.

Penulis : Nabila Azwa Shahira, Dr Rachmat Mulyon0 M.SI., Psikolog.

Refrensi :

Chen, Y. H. (2025). A comparative study of state self-esteem responses to social media feedback loops in adolescents and adults. Frontiers in Psychology, 16(September), 1–11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1625771

Jones, J. M. (2016). The Looking Glass Lens: Self-concept Changes Due to Social Media Practices. The Journal of Social Media in Society, 4(1), 100–125.

Karim, F., Oyewande, A., Abdalla, L. F., Chaudhry Ehsanullah, R., & Khan, S. (2020). Social Media Use and Its Connection to Mental Health: A Systematic Review. Cureus, 12(6). https://doi.org/10.7759/cureus.8627

Voggenreiter, A., Brandt, S., Putterer, F., Frings, A., & Pfeffer, J. (2024). The Role of Likes: How Online Feedback Impacts Users’ Mental Health. Proceedings of the 16th ACM Web Science Conference, WebSci 2024, 302–310. https://doi.org/10.1145/3614419.3643995