Emotional Contagion: Nonton Drama Bikin Baper?
Tulisan dari Nabila Diyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalian suka nonton drama gak? Pernah nangis atau ketawa-ketawa sendiri waktu nonton? Atau mungkin malah marah-marah karena geregetan sama tokohnya? Ternyata ada penjelasannya loh kenapa kita bisa merasakan hal itu. Semua emosi yang kita rasakan waktu nonton drama bisa disebut emotional contagion atau penularan emosi.
Emotional contagion adalah keadaan ketika kita secara otomatis meniru dan menyinkronkan ekspresi, vokalisasi, postur, dan gerakan dengan orang lain sehingga menyatu secara emosional (Elaine Hatfield, 1993). Kita dapat merasakan emosi yang serupa dengan orang yang kita perhatikan. Menurut Hatfield, penularan emosi ini dipengaruhi oleh dua hal, yaitu mimicry dan feedback.
Emotional Contagion Theory
Perilaku dapat menular melalui ekspresi, suara, gerakan, dan instrumental lain dari satu orang ke orang lain (Hatfield, Cacioppo, & Rapson, 1994). Emotional contagion dapat ditularkan secara otomatis bahkan tanpa disadari oleh pelaku dalam sepersekian detik kemudian secara otomatis meniru dan menyinkronkan emosi dengan orang lain. Peniru ini akan merasakan emosi yang sama dengan subjek yang ia perhatikan (Panksepp & Lahvis, 2011).
Penelitian awal mengenai emotional contagion menemukan bahwa penularan emosi dipengaruhi oleh feedback dan mimicry. Penularan emosi yang terjadi memengaruhi pengalaman emosional seseorang yang ternyata dikendalikan oleh central nervous system. Setelah itu peneliti menemukan bahwa mimicry terjadi secara otomatis karena adanya mirror neurons di cerebral cortex (Bastiaansen, Thioux, & Keysers, 2009).
Mirror Neurons
Mirror neurons pertama kali ditemukan pada tahun 1990-an oleh ahli saraf Giacomo Rizzolatti bersama rekan-rekannya di Universitas Parma. Mereka pertama kali menemukannya ketika mengamati otak monyet. Ketika monyet tersebut mengambil suatu benda dan memerhatikan monyet lain mengambil benda yang sama dengannya, para peneliti mendapati sel tunggal. Sel tunggal tersebut adalah mirror neurons yang berada di prefrontal cortex dan parietal cortex.
Untuk memastikan sel tunggal tersebut bukan bereaksi terhadap makanan, para peneliti melakukan uji coba. Setelah melakukan uji coba, para peneliti mencatat bahwa mirror neurons merespons ketika monyet lain yang ia perhatikan sedang menggenggam makanan, bukan karena memerhatikan makanannya. Ini berarti mirror neurons merupakan jenis sel otak yang merespons ketika kita memerhatikan dan melakukan sesuatu yang sama dengan orang lain sehingga kita dapat berempati dan bersimpati. Para peneliti kemudian menyadari bahwa mirror neurons dapat membandingkan tindakan seseorang dengan orang lain apabila mendapatkan stimulasi.
Stimulasi Mirror Neurons
Emotional contagion dapat terjadi apabila mirror neurons mendapat stimulasi berupa auditori dan visual. Salah satu contoh dari auditori dan visual adalah drama. Ketika menonton drama, secara otomatis kita ikut menyatu dengan emosi dari adegan yang sedang kita tonton. Pengenalan emosi berdasarkan ekspresi merupakan budaya universal (Brown, 2004) sehingga dari negara mana pun drama yang kita tonton, tidak akan membuat kita kesulitan mengenali emosi.
Ketika menonton drama, retina kita menangkap gambar dan meneruskannya ke visual cortex. Visual cortex yang telah menerima sinyal gambar meneruskannya ke mirror neurons lalu menerjemahkan ekspresi, gerakan, serta postur dari gambar tersebut. Begitu juga dengan suara yang kita dengar ketika menonton drama. Otak menerima suara dari telinga dan menerjemahkan emosi berdasarkan ritme dan nada yang ada di dalam suara tersebut. Mirror neurons yang telah menerjemahkan stimulasi auditori dan visual memberitahu bagaimana emosi dari setiap adegan drama dan membuat kita menyatu dengan emosi dari adegan tersebut. Itulah yang membuat kita secara otomatis ikut tertawa, menangis, ataupun marah ketika menonton drama.
Nabila Diyah Cesar, Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Referensi
Baars, B. J., & Gage, N. M. (2010). Chapter 14: social cognition: perceiving the mental states of others. Cognition, brain, and cosciousness (second edition), 444-463.
Bastiaansen, J. A. C. J., Thioux, M., & Keysers, C. (2009). Review evidence for mirror system in emotions. Review. A mosaic of mirror system, 364, 2391-2404. https://doi.org/10.1098/rstb.2009.0058
Brown, D. E. (2004). Human universals, human nature & human culture. Daedalus, 133 (4), 47-54.
Hatfield, E., Cacioppo, J. T., & Rapson, R. L. (1993). Emotional contagion. Current directions in psychological science, 2 (3), 96-100.
Hatfield, E., Cacioppo, J. T., & Rapson, R. L. (1994). Primitive emotional contagion. Review of personality and social psychology, 151-177.
Panksepp, J. B., & Lahvis, G. P. (2011). Review rodent emphaty and affective neuroscience. Neuroscience and biobehavioral reviews, 35 (9), 1864-1875.

