High Potential dan Politik Gender

Mahasiswa S-2 Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Nabila Kharisma Zahiya Insani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

High Potential adalah serial prosedural polisi yang diam-diam membicarakan siapa yang dianggap pantas disebut cerdas. Tokohnya, Morgan Gillory (Kaitlin Olson), adalah ibu tunggal tiga anak dengan IQ 160 yang bekerja sebagai petugas kebersihan malam di kantor polisi Los Angeles (LAPD).
Serial ABC ini tayang perdana pada 17 September 2024 dan diadaptasi dari serial Prancis HPI (Haut Potentiel Intellectuel), yang dibintangi Audrey Fleurot sebagai Morgane Alvaro. Sampai November 2026, serial ini sudah menyelesaikan dua musim; musim ketiga sedang diproduksi dan dijadwalkan tayang pada pertengahan musim 2027.
Di permukaan, ini cerita detektif ringan. Namun premisnya, perempuan kelas pekerja yang kecerdasannya baru terlihat saat ia "mengacak-acak" barang bukti, membuat gender menjadi lensa yang wajar untuk membacanya.
Kecerdasan yang tak terlihat
Adegan pembuka serial ini adalah pernyataan politis: perempuan paling cerdas di gedung itu adalah orang yang paling tidak diperhatikan. Morgan memecahkan kasus karena ia membereskan papan bukti saat membersihkan ruangan, dan para detektif baru sadar ada yang aneh keesokan harinya.
Pekerjaan kebersihan adalah kerja yang secara historis dilekatkan pada perempuan, terutama perempuan miskin dan imigran. Kerja ini dibutuhkan setiap hari, tetapi hampir tidak pernah dianggap sebagai keahlian. Serial ini membalik logika itu: kebiasaan Morgan memperhatikan noda, susunan barang, dan kekacauan rumah tangga justru menjadi alat investigasi. Di episode awal, pengalamannya sebagai petugas kebersihan langsung berguna di TKP pembunuhan di kamar hotel.
Yang menarik, Morgan sendiri tidak menganggap kecerdasannya sebagai anugerah. Olson menyebut dalam wawancara dengan TheWrap bahwa ketidakpedulian Morgan terhadap "kejeniusannya" adalah bagian yang membuat tokoh ini terasa dekat dengan penonton. Kecerdasan yang tidak pernah mendapat ruang di sekolah atau kantor memang lebih sering terasa sebagai beban daripada modal.
Pengulas The Upcoming mencatat bahwa televisi Amerika kerap menggambarkan ibu tunggal kelas pekerja sebagai sembrono atau tidak layak, dan Morgan menjadi pengecualian yang menyegarkan. Di sini gender dan kelas tidak bisa dipisahkan: Morgan diremehkan bukan hanya karena ia perempuan, tetapi karena ia perempuan yang memegang pel.
Ibu tunggal dan beban ganda
Morgan tidak pernah berhenti menjadi ibu saat bekerja sebagai konsultan polisi. Ia menangani putrinya yang remaja, Ava, anak lelakinya Elliot, dan si bungsu, sambil mengejar pembunuh. Telepon dari sekolah, urusan kencan anak, dan jadwal penjemputan muncul di tengah penyelidikan.
Ini adalah gambaran jujur tentang "beban ganda" (double burden): perempuan bekerja di ruang publik tanpa dibebaskan dari kerja domestik. Bedanya, serial ini tidak memperlakukan keibuan sebagai gangguan terhadap karier. Naluri Morgan sebagai ibu justru sering menjadi sumber wawasan, misalnya dalam kasus penculikan anak yang membuatnya bekerja tanpa henti karena kasus itu terasa dekat dengannya.
Morgan juga bukan ibu ideal versi iklan. Ia berantakan, bicaranya kasar, punya anak dari dua mantan pasangan, dan hidupnya penuh keputusan impulsif. Namun serial ini tidak menghukumnya atas ketidaksempurnaan itu. Pesan yang muncul: seorang ibu bisa tidak rapi dan tetap mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati.
Latar keluarga Morgan juga menyimpan misteri yang bergender. Roman, ayah Ava, menghilang bertahun-tahun lalu, dan pencarian Morgan atas dirinya menjadi benang utama di musim pertama dan kedua. Morgan terus membawa beban pertanyaan yang ditinggalkan seorang laki-laki.
Morgan dan Karadec: membalik formula detektif jenius
Genre detektif lama punya pola yang mapan: laki-laki jenius yang eksentrik, dari Sherlock Holmes sampai Monk dan The Mentalist, didampingi rekan yang lebih "normal". Kerap kali rekan itu perempuan yang bertugas menjinakkan, merapikan, atau mengagumi sang jenius.
High Potential membalik pembagian peran itu. Morgan yang jenius, impulsif, dan melanggar aturan. Detektif Adam Karadec (Daniel Sunjata) adalah pihak yang teratur, taat prosedur, dan awalnya skeptis bahwa seorang petugas kebersihan pantas berada di ruang investigasi. Sunjata sendiri menggambarkan bahwa energi Morgan membuat Karadec harus belajar melonggarkan diri (ABC7).
Pembalikan ini penting karena menyentuh asumsi lama bahwa rasionalitas dan disiplin adalah sifat "maskulin", sementara intuisi dan kekacauan adalah sifat "feminin". Di serial ini, kejeniusan Morgan bukan intuisi mistis; ia mengamati, menghitung, dan menalar dengan cepat. Karadec, sebaliknya, digambarkan sebagai laki-laki yang peduli, sabar, dan rela tidak menjadi pusat perhatian.
Kemitraan mereka berkembang dari saling curiga menjadi saling menghormati. Laki-laki di sini belajar mempercayai kecerdasan perempuan, bukan sebaliknya.
Perempuan di ruang kuasa
Orang yang pertama kali melihat potensi Morgan adalah seorang perempuan. Letnan Selena Soto (Judy Reyes), kepala unit Kejahatan Besar (Major Crimes), yang merekrut Morgan dan menyebut kecerdasannya sebagai anugerah, sementara Karadec masih ragu.
Ini adalah detail kecil yang bermakna. Dalam banyak cerita, perempuan berpangkat tinggi digambarkan sebagai penjaga gerbang yang dingin terhadap perempuan lain. Soto justru membuka pintu. Ia mewakili gagasan bahwa perempuan yang sudah berada di puncak bisa menarik perempuan lain naik, alih-alih menutup jalan.
Detektif Daphne Forte (Javicia Leslie) menambah lapisan lain. Ia perempuan kulit hitam yang piawai menyamar dan bermain peran, kemampuan yang di serial ini diperlakukan sebagai keterampilan profesional, bukan sekadar daya tarik. Daphne dan Morgan berbeda gaya, tetapi persahabatan mereka tidak dibangun di atas persaingan.
Musim kedua menghadirkan Kapten Wagner (Steve Howey) sebagai figur otoritas baru di kantor. Kehadirannya menguji apakah jaringan kepercayaan yang sudah dibangun Morgan, Soto, dan timnya tetap bertahan ketika struktur komando berubah.
Wajah maskulinitas dalam serial
Laki-laki di High Potential jarang tampil sebagai pahlawan yang menyelamatkan Morgan. Mereka hadir dalam beragam versi maskulinitas yang lebih lunak dan lebih manusiawi.
• Karadec adalah laki-laki yang teratur dan berprinsip, tetapi juga lembut dan bersedia mengakui bahwa rekannya lebih pintar.
• Ludo (Taran Killam), mantan pasangan Morgan dan ayah dua anaknya yang lebih kecil, digambarkan sebagai ayah yang hadir dan rekan pengasuhan yang kooperatif, bukan mantan suami yang jahat.
• Oz (Deniz Akdeniz), detektif muda di tim, membawa energi hangat dan jenaka yang jauh dari citra polisi keras.
• Tom (JD Pardo), petugas kebersihan yang beralih menjadi perawat, adalah minat romantis yang juga berasal dari kelas pekerja.
Roman menjadi pengecualian penting: ia adalah laki-laki yang absen. Ketidakhadirannya menggerakkan plot dan menunjukkan bagaimana kepergian seorang ayah meninggalkan beban yang ditanggung ibu dan anak.
Secara keseluruhan, serial ini menolak gagasan bahwa laki-laki harus dominan agar tetap menarik. Banyak tokoh laki-lakinya justru menarik karena mereka mampu mendengarkan.
Catatan kritis: batas dan jebakan representasi
Pembacaan yang adil juga harus melihat di mana serial ini masih bermain aman.
Jebakan "ibu super". Morgan bisa mengurus tiga anak, bekerja penuh waktu, dan memecahkan pembunuhan dalam sehari. Fantasi ini menghibur, tetapi juga bisa memperkuat tuntutan tak realistis bahwa perempuan hebat adalah perempuan yang sanggup menanggung segalanya sendirian. Masalah struktural seperti biaya penitipan anak dan upah rendah jarang dibahas serius.
Pengecualian, bukan perubahan. Morgan keluar dari pekerjaan kebersihan karena IQ-nya luar biasa. Pesan tersiratnya bisa dibaca begini: perempuan kelas pekerja layak dihargai jika ia jenius. Petugas kebersihan lain yang "biasa" tetap tak terlihat.
Romansa sebagai daya tarik utama. Ketegangan romantis antara Morgan dan Karadec, juga deretan pria lain dalam hidupnya, banyak mendapat sorotan promosi dan penggemar. Ada risiko kehidupan cinta Morgan lebih banyak dibicarakan daripada pekerjaannya, pola yang jarang menimpa detektif jenius laki-laki.
Kecantikan yang tetap standar. Morgan tampil eksentrik dengan baju warna-warni, tetapi tetap dalam batas kecantikan yang diterima televisi arus utama. Keberantakannya bersifat gaya, bukan tantangan nyata terhadap standar tubuh perempuan.
High Potential bukan manifesto feminis, tetapi ia mengajukan pertanyaan yang tajam lewat format yang ringan: berapa banyak kecerdasan perempuan yang terbuang karena terkubur di balik kerja domestik dan upah rendah?
Kekuatannya ada pada Morgan, perempuan yang tidak perlu menjadi rapi, lembut, atau patuh agar dianggap layak. Serial ini juga menawarkan laki-laki yang tidak terancam oleh perempuan yang lebih pintar, serta perempuan berkuasa yang membuka jalan bagi perempuan lain. Keterbatasannya terletak pada kecenderungan menjadikan Morgan pengecualian yang istimewa, bukan cermin persoalan banyak perempuan.
