PPN BBM Dipangkas, Masyarakat Terbantu atau Penerimaan Negara Berkurang?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabila Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga minyak dunia yang masih tinggi membuat kenaikan harga BBM menjadi perhatian banyak negara. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Dalam situasi seperti ini, kebijakan pajak menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan pemerintah untuk mengurangi tekanan terhadap masyarakat.
Hal tersebut terlihat dari rencana pemerintah Latvia yang ingin menurunkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas BBM dari 21% menjadi 12% hingga akhir 2026. Kebijakan ini dibuat ketika harga minyak masih berada pada tingkat yang tinggi. Dengan adanya penurunan PPN, pemerintah berharap beban harga BBM yang ditanggung masyarakat dapat berkurang.
Jika seluruh pengurangan pajak diteruskan kepada konsumen, harga BBM diperkirakan dapat mengalami penurunan. Berdasarkan perhitungan Kementerian Ekonomi Latvia, harga solar berpotensi turun sekitar Rp3.815 per liter, sementara bensin sekitar Rp2.891 per liter. Penurunan tersebut tentunya dapat memberikan sedikit ruang bagi masyarakat untuk menghemat pengeluaran, terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada kendaraan dalam aktivitas sehari-hari.
Namun, pemangkasan PPN juga memiliki konsekuensi terhadap penerimaan negara. Pemerintah harus rela kehilangan sebagian penerimaan pajak yang sebenarnya dapat digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan negara. Dalam kasus Latvia, potensi penerimaan yang hilang diperkirakan mencapai sekitar EUR6,3 juta atau sekitar Rp128,65 miliar setiap bulan.
Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan penurunan pajak tidak bisa hanya dilihat dari sisi manfaat bagi konsumen. Pemerintah juga perlu memperhitungkan dampaknya terhadap kondisi keuangan negara. Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan yang penting, sehingga pengurangannya harus memiliki alasan dan perhitungan yang jelas.
Selain itu, penurunan tarif PPN belum tentu secara otomatis membuat harga BBM di tingkat konsumen turun sesuai dengan jumlah pengurangan pajaknya. Harga BBM juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti harga minyak dunia, biaya distribusi, dan kebijakan harga dari pihak terkait. Karena itu, pengawasan tetap diperlukan agar manfaat dari kebijakan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Menurut saya, yang paling penting bukan sekadar seberapa besar PPN BBM diturunkan, tetapi bagaimana kebijakan tersebut dapat memberikan manfaat yang nyata tanpa mengganggu kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan lainnya. Pemerintah perlu mencari titik keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan penerimaan negara.
Rencana Latvia ini menjadi contoh bahwa pajak dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk merespons perubahan kondisi ekonomi. Akan tetapi, setiap keputusan untuk mengurangi pajak tetap perlu mempertimbangkan manfaat jangka pendek dan dampak fiskalnya. Dengan perhitungan yang matang dan pengawasan yang baik, kebijakan pajak diharapkan tidak hanya membantu masyarakat menghadapi tingginya harga BBM, tetapi juga tetap menjaga keberlanjutan keuangan negara.
