Kampus Mengajar: Sudah Berjalan Efektif?

Mahasiswi Administrasi Publik Universitas Negeri Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabila Meta Ferronisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Program Kampus Mengajar Angkatan 1
Pada awal tahun 2021 Kemendikbud dan LPDP membuat program kampus mengajar. Nah, melalui beberapa seleksi akhirnya terpilihlah 14.000 mahasiswa di seluruh Indonesia dari berbagai universitas. Dalam program ini mahasiswa dapat melakukan kegiatan di luar jam kuliah dan mahasiswa pun dapat mengabdi ke masyarakat. Untuk mengetahui profil Kampus Mengajar lebih lanjut dapat dilihat di sini.
Saat mengetahui informasi tentang Kampus Mengajar ini, saya pun tertarik dan akhirnya memutuskan untuk mendaftar. Dalam program ini mahasiswa yang terpilih ini ditargetkan untuk membantu meningkatkan kualitas pengajaran di SD, terutama yang ada di daerah 3T dan membantu kegiatan belajar mengajar di masa pandemi. Selain memberikan inovasi pada SD tersebut.
Mahasiswa mengajar di SD yang sudah dipilih yang memiliki kriteria SD yang masih terakreditasi C, tetapi ternyata masih banyak yang salah sasaran, seperti SD yang sebenarnya sudah akreditasi A tetapi dalam data dapodik masih C. Program ini dilaksanakan dalam waktu tiga bulan, mulai dari akhir bulan April hingga akhir bulan Juni. Mahasiswa diminta memiliki program kerja yang akan dilaksanakan di SD tersebut dan diharapkan memberikan perubahan yang lebih baik kepada SD tersebut.
Saya sendiri terpilih di SD N 3 Giritirto, Kabupaten Kebumen. Jaraknya sekitar 40km dari rumah saya, pun jalannya sangat jelek, beberapa kali saya dan teman saya terjatuh dari motor akses jalannya yang benar-benar jelek. Oh iya, keuntungan dari Program Kampus Mengajar ini ada banyak, yang paling menyenangkan adalah mendapatkan uang saku 1,2 juta/bulan dan mendapatkan konversi 12 SKS.
Evaluasi Program Kampus Mengajar Angkatan 1
Tetapi, program Kampus Mengajar ini belum sepenuhnya berjalan secara sempurna. Masih banyak kendala dan kekurangan dalam program ini seperti kurangnya komunikasi dengan dinas kabupaten, sistem MBKM yang eror selama dua minggu, dan pencairan uang saku yang mengalami keterlambatan.
Ada juga konversi SKS yang dijanjikan di awal program tidak berlaku di semua Universitas. Hal ini tentu akan memberatkan karena tidak sedikit mahasiswa yang bersedia mengikuti program kampus mengajar demi mendapat konversi sks tersebut. Masalah ini menunjukkan kurang ada koordinasi yang baik dari berbagai stakeholder.
Contohnya saja di Universitas saya, yang ternyata masih belum jelas dan besar kemungkinan bahwa 12 SKS dari keuntungan Kampus Mengajar ini tidak bisa dikonversikan. Mengapa tidak satu Indonesia disamaratakan bahwa semua universitas wajib untuk melakukan konversi kepada mahasiswa yang mengikuti Program Kampus Mengajar. Kemudian saat jadwal kuliah saya bertabrakan dengan jadwal saya ke SD, karena SD saya tidak ada sinyal maka susah sekali untuk bisa melakukan kegiatan di SD dan kuliah sekaligus, dan dosen saya pun tidak semua bisa memaklumi ketika ada kegiatan ini.
Saya sendiri bingung, mengapa banyak terjadi kendala dalam program ini? Saya sebagai mahasiswa yang mengikuti program Kampus Mengajar ini, sangat senang dengan program yang ada tetapi juga kecewa karena masih banyak yang perlu diperbaiki, dan tidak sesuai janji diawal pembekalan. Tapi tidak apa apa karena memang ini masih program baru sehingga masih memerlukan penyesuaian.
Harapan untuk ke Depannya
Dengan banyaknya kekurangan tersebut, harapannya semoga program kampus mengajar angkatan pertama ini menjadi bahan evaluasi mendalam bagi kemendikbud dan pihak universitas. Program ini memiliki tujuan yang sangat baik untuk pengembangan mahasiswa.
Mahasiswa bisa melatih berbagai softskill secara langsung, seperti kepemimpinan, kematangan emosional, dan kepekaan sosial. Untuk ke depannya Kemendikbud dan LPDP diharapkan mampu berkolaborasi lebih baik dengan banyak pihak agar program ini dapat memberikan manfaat secara maksimal baik untuk semua pihak.
