Pengaruh Adiksi Media Sosial Terhadap Kualitas Belajar Anak

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari Nabila Putri Zahara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tingkat pengguna media sosial di Indonesia cenderung tinggi. Berdasarkan data masyarakat menggunakan internet untuk bermedia sosial mencapai 75%. Hal ini yang membuat Indonesia berada pada peringkat ke-4 di dunia sebagai negara dengan pengguna aktif media sosial.
Media sosial atau yang biasa disebut Medsos merupakan wadah sarana untuk berinteraksi dengan sesama pengguna dari dalam maupun luar negeri. Tidak hanya berinteraksi, namun media sosial juga sarana untuk mengekspresikan diri. Ini juga dapat disebut sebagai situs tempat untuk pertukaran pikiran atau ide.
Media sosial sudah dianggap sebagai alat komunikasi bagi anak serta wadah untuk menggali informasi bahkan sumber pengetahuan. Tidak ada salahnya anak menggunakan media sosial.
Fenomena yang belakangan ini terjadi, adalah tentang banyaknya anak yang bermain media sosial terutama di antara 7-12 tahun. Di mana pada masa itu anak cenderung memiliki sifat yang labil. Labil dalam artian belum tegas dalam hal yang sedang ia lakukan, sebagai contoh tidak dapat membedakan mana yang berguna dan mana yang tidak.
Di usia tersebut anak sedang berada dalam fase peralihan yang seharusnya lebih energik dalam bergaul dengan teman temannya. Tidak hanya bergaul, melainkan menambah pengalaman pun harus. Tetapi pada faktanya banyak anak yang tertarik berinteraksi secara virtual karena mereka merasa ini tidak membuang tenaga. Tentu ini akan mempengaruhi perilaku dan pikiran dalam anak bersosialisasi dan mengurangi rasa kepercayaan diri. Dengan begitu anak kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan menurunnya kualitas belajar.
Kualitas belajar adalah pencapaian dari wujud efektivitas belajar. Di mana dapat dikatakan memiliki kualitas yang tinggi berdasarkan hasil yang didapat. Jika mendapat hasil yang bagus, kualitas pun bagus dan berlaku sebaliknya. Ini didorong dengan kecanggihan teknologi yang semakin maju.
Namun, Semakin bergantinya hari dan kecanggihan teknologi, semakin banyak pula anak yang memiliki/bermain media sosial. Adiksi merupakan salah satu dampak negatif dari bermain media sosial. Adiksi atau kecanduan adalah kondisi di mana seseorang terobsesi dengan suatu zat atau aktivitas yang membuat mereka merasa senang. Tetapi berujung mengganggu kebiasaan, tanggung jawab dan masalah. Fenomena yang sedang terjadi di kalangan anak salah satunya adalah adiksi terhadap media sosial.
Menurut Andreassen and Pallesen pada tahun 2015 adiksi media sosial adalah kondisi berlebihan terhadap media sosial yang menyebabkan pengguna menggunakannya secara terus menerus, dan mengganggu berbagai aktivitas sosial. Setyatiningrum (2015) sebelumnya melakukan penelitian yang menyatakan bahwa “Media sosial dapat digunakan untuk media pembelajaran."
Akan tetapi, beberapa ada yang menyalahgunakan hanya untuk aktivitas diluar konteks pembelajaran. Sari (2017) pun melakukan penelitian yang menyatakan bahwa kebanyakan anak menggunakan akun media sosial hanya untuk bersenang-senang seperti mengupload foto, video dan membuat status. Media sosial yang mudah diakses ini terbukti adanya peningkatan yang signifikan.
Hal ini dibuktikan adanya data yang menyatakan bahwa 59 persen dari 272,1 juta total penduduk adalah pengguna media sosial. Angka yang menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan lebih dari 8,1 persen atau setara dengan lebih dari 12 juta pengguna dari April 2019. Instagram, TikTok, Twitter, dll merupakan contoh media sosial yang memiliki persentase tinggi sering digunakan. Memang ini dihadirkan bertujuan untuk memberikan hiburan kepada anak yang merasa jenuh.
Akan tetapi, tidak sedikit pula anak yang salah mengartikan istilah ‘penghilang rasa jenuh’. Banyak dari mereka menjadikan bermain media sosial adalah sesuatu yang wajib. Sehingga memainkan hingga melupakan waktu dan segala kewajibannya, yakni bermain hingga larut malam, lupa ibadah, lupa sekitar, dan tidak ada niat untuk belajar.
Salah satu Universitas di Inggris yaitu Universitas Nottingham Trent melakukan riset yang berhubungan dengan penggunaan media sosial. Hasil dari pengamatan menemukan jelas bahwa seseorang yang mengalami kecanduan media sosial akan mengabaikan kehidupannya sendiri.
Yang membuat mereka melupakan kewajiban dan prioritas mereka. Bagi anak tentu prioritas mereka adalah menjaga kualitas belajar dan menggali pengetahuan.
Dari penjelasan artikel dan riset yang telah dipaparkan dapat digaris bawahi bahwa adiksi kecanduan bermain media sosial sangat merugikan beberapa anak dalam konteks kualitas belajar. Tentu ini sangat mengkhawatirkan bagi anak.
Karena anak adalah penerus bangsa yang memiliki tugas untuk melanjutkan roda kehidupan bangsa dan keberlangsungan negara. Dan apabila mereka dibiarkan, hal ini akan semakin sulit disembuhkan dari adiksi media sosial tersebut. Tentu ini membuat mereka akan sulit untuk tumbuh dan berkembang.
Kualitas belajar anak memang harus diperhatikan sehingga dapat menutupi dampak-dampak negatif yang sudah dijelaskan. Untuk mengurangi obsesi terhadap media sosial ini dapat dilakukan berbagai cara. Yakni peran utama adalah kedua orang tua. Yang di mana harus mengatur dan membatasi dalam bermain media sosial. Begitu juga peran penting dari orang-orang terdekat dan lingkungan yang harus memberikan dorongan dalam mementingkan kualitas belajar anak.
Dorongan berupa semangat dan motivasi tidak lupa dengan edukasi tentang negatifnya adiksi media sosial. Ini adalah beberapa cara yang dapat membantu anak dalam mengurangi adiksi bermain media sosial.
Dengan begitu mereka paham dan akan lebih banyak menghabiskan waktu berada di media nyata dan berinteraksi/bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Dan dalam menggunakan media sosial sendiri, anak akan lebih bijak sehingga menjadikan pendidikan/kualitas belajar tersebut sebagai prioritas utama mereka dan media sosial sebagai penunjang mereka untuk mengetahui berbagai hal secara global.
Dengan begitu terwujudnya anak-anak pelajar Indonesia yang memiliki wawasan, pengetahuan, serta pengalaman yang luas. Dan anak akan memiliki niat dalam memperbaiki kualitas belajar dan disertai turunnya kasus adiksi media sosial.
