Konten dari Pengguna

Tidak Tuntas Motorik: Apa Dampaknya Terhadap Kinerja Seseorang?

Nabila Rahmah

Nabila Rahmah

Haloo! Aku Nabila. Saat ini, aku seorang mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis. Aku tertarik dengan film, game, bahasa, dan tulisan.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kemampuan motorik (sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kemampuan motorik (sumber: https://pixabay.com/id/)

Fase anak usia dini merupakan saat di mana seorang individu mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Masa ini sering disebut sebagai masa emas anak (golden age) yang hanya terjadi sekali seumur hidup dan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas individu tersebut. Pengoptimalan dalam membentuk pondasi pada masa emas ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan kecerdasan di masa mendatang. Hal ini sejalan dengan Teori Bloom yang dikemukakan oleh Benjamin Bloom yang mengatakan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada usia awal kehidupan anak. Sekitar 50% dari potensi kecerdasan manusia berkembang pada usia 4 tahun, kemudian mencapai 80% pada usia 8 tahun, dan mencapai puncaknya pada sekitar usia 18 tahun.

Perkembangan motorik adalah suatu proses menuju kematangan dalam mengontrol gerak tubuh pada anak yang melibatkan otot, otak, dan syaraf. Ketika ketiga unsur tersebut tidak berperan secara maksimal, maka seseorang tidak dapat mengendalikan pergerakan tubuhnya dengan baik. Kemampuan motorik ini dikembangkan pada anak dari sejak lahir hingga usia 5 tahun. Pada usia dini, kemampuan motorik pada anak merupakan pondasi dalam tumbuh kembang anak. Kemampuan motorik sendiri memiliki beberapa fase yang harus dilewati secara bertahap oleh anak agar tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal. Tahapan-tahapan perkembangan motorik ini, meliputi:

1. Usia 0-3 bulan

- Mengangkat kepala saat tengkurap.

- Menggerakkan tangan dan kaki secara refleksif.

2. Usia 3-6 bulan

- Menyokong berat badan dengan lengan saat tengkurap.

- Berguling dari tengkurap ke telentang dan sebaliknya.

- Memegang mainan dan membawanya ke mulut.

3. Usia 6-9 bulan

- Duduk tanpa tumpuan tangan.

- Merangkak atau bergerak dengan cara lain (seperti berguling).

- Berdiri dengan bantuan.

4. Usia 9-12 bulan

- Berdiri tanpa bantuan.

- Berjalan dengan bantuan (memegang tangan atau furnitur).

- Mengambil benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.

5. Usia 12-18 bulan

- Berjalan tanpa bantuan.

- Memanjat furnitur.

- Menendang bola.

6. Usia 18-24 bulan

- Berlari.

- Melompat di tempat.

- Menendang bola dengan lebih akurat.

7. Usia 2-3 tahun

- Berlari dengan lebih stabil.

- Melompat dari ketinggian rendah.

- Mengendarai sepeda roda tiga.

8. Usia 3-4 tahun

- Berdiri dengan satu kaki selama beberapa detik.

- Melempar bola dengan tangan terangkat.

- Menangkap bola besar dengan kedua tangan.

9. Usia 4-5 tahun

- Berjalan naik turun tangga dengan satu kaki di tiap anak tangga.

- Melompat jauh dan tinggi.

- Mengendalikan keseimbangan saat melakukan gerakan lebih kompleks.

Penting bagi seorang anak untuk berkembang secara bertahap, khususnya pada usia 0-12 bulan. Namun, beberapa anak justru melewatkan beberapa tahapan dari perkembangan motorik. Beberapa anak pada usia 8-10 bulan melewatkan fase merangkak dan justru malah langsung berdiri serta berjalan beberapa langkah. Hal tersebut mungkin saja terjadi dan merangkak bukanlah suatu hal wajib bagi anak, tetapi semua anak tetap membutuhkan gerakan merangkak. Hal ini dikarenakan fase merangkak membutuhkan koordinasi yang baik antara pikiran dan gerakan sehingga menciptakan keseimbangan. Keseimbangan yang disertai dengan refleks menjadikan anak mampu mengontrol gerak tubuhnya dan menjadikan gerakannya terkoordinasi.

Lalu, apa hubungan dari setiap tahapan motorik tersebut dengan perilaku seseorang di usia dewasa?

Beberapa orang yang melewatkan fase merangkak atau tidak melakukan gerakan merangkak saat masih bayi berkemungkinan memiliki sikap ceroboh, mudah cemas, mudah marah, dan kurang bisa mengontrol pergerakan anggota tubuhnya dengan baik, misalnya kerap kali menjatuhkan barang yang sedang dipegang dan mudah tersandung. Hal ini dikarenakan kurangnya kemampuan mengoordinasikan antara gerak otot, otak, dan syaraf, sehingga ketiga unsur tersebut tidak memiliki kontrol yang selaras. Jika ketiga unsur tersebut tidak dilatih sedini mungkin, maka kesulitan dalam mengontrol gerak tubuh dan emosi akan terus terbawa hingga usia dewasa.

Selain itu, gerakan merangkak juga membantu melatih otot tangan, kaki, punggung, koordinasi mata, mengembangkan keterampilan visual dan spasial pada anak. Merangkak membantu otak belajar mengoordinasikan sisi kiri dan kanan, yang nantinya berperan dalam kemampuan kognitif dan keterampilan bahasa. Stimulasi merangkak ini tidak hanya bermanfaat untuk fisik, tetapi juga untuk perkembangan otak dan rasa percaya diri pada anak. Anak-anak yang memiliki perkembangan motorik yang baik biasanya juga mempunyai keterampilan sosial positif. Anak yang memiliki kemampuan motorik yang baik akan percaya diri dan bangga terhadap setiap kemampuan dan kegiatan yang mereka miliki. Sehingga, keterampilan sosialnya juga dapat berjalan dengan baik.

Lalu, apa dampaknya terhadap kinerja seseorang di dunia kerja?

Sikap ceroboh, mudah cemas, kurang percaya diri, kesulitan dalam mengontrol gerak tubuh serta emosi, dan kurangnya keterampilan sosial tentu akan berpengaruh terhadap kinerja seseorang di dunia kerja. Hal-hal tersebut dapat mengganggu konsentrasi, efisiensi, dan kemampuan untuk bekerja sama dalam tim, yang pada akhirnya mempengaruhi produktivitas dan hasil kerja secara keseluruhan. Namun, hal-hal ini dapat diatasi dengan terapi, stimulasi, dan pelatihan mandiri.

Bagi anak-anak, hal ini dapat diantisipasi sejak usia dini dengan memberikan stimulasi melalui permainan yang banyak menggunakan gerak tubuh, seperti merangkak dan mengambil mainan. Selain itu, orang tua juga dapat berkonsultasi dengan para ahli di klinik tumbuh kembang anak, yang kemudian akan dilakukan observasi mendalam. Jika dibutuhkan, anak dapat diberikan penanganan lebih lanjut melalui terapi. Sedangkan, pada seseorang yang sudah menginjak usia dewasa, hal ini dapat dilatih melalui aktivitas yang berkaitan dengan kekuatan, koordinasi, serta fleksibilitas, seperti yoga, pilates, dan lain sebagainya.

Nabila Rahmah, mahasiswi Administrasi Bisnis Universitas Mulawarman.

Sumber:

American Academy of Pediatrics. (2019). Caring for Your Baby and Young Child: Birth to Age 5. Bantam Books.

Amini, M., Sujiono, B., & Aisyah, S. (2021). Metode Pengembangan Fisik. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2021). Important Milestones: Your Child by Eighteen Months.

Christina, A. (2018). Tuntas Motorik. Surabaya: Filla Press.

Hunafa, D. [@fearlessbarb13]. (2024, November 6). X. https://x.com/fearlessbarb13/status/1854124032247078964.

Fitriani, R. (2018). Perkembangan Fisik Motorik Anak Usia Dini. Journal Golden Age Hamzanwadi University, 3(1).

Karyadi, A. C., & Jannah, R. (2023). Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Permainan Dampu Bulan. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(1).

Trenggonowati, D. L., & Kulsum. (2018). Analisis Faktor Optimalisasi Golden Age Anak Usia Dini Studi Kasus di Kota Cilegon. Journal Industrial Servicess, 4(1).