Senioritas : Menghidupkan atau Mengkerdilkan?

Mahasiswa S1 Sistem Informasi Universitas Airlangga
Tulisan dari Nabila Erwintria Zaahiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dewasa ini banyak kebiasaan-kebiasaan yang berciri khas perploncoan masih tumbuh subur di tengah masyarakat. Hal-hal yang demikian ini erat kaitannya pula dengan senioritas dalam jenjang pendidikan yang seringkali terjadi dalam kegiatan pengenalan sekolah ataupun organisasi. Pada dasarnya kegiatan pengenalan sekolah merupakan hal yang positif untuk memberikan ruang bagi siswa beradaptasi. Seperti kutipan yang dipaparkan oleh Najwa Shihab dalam video Youtubenya bahwa “Tjokro dan rumahnya menjadi teladan, tentang senioritas yang menghidupkan bukan mengkerdilkan.” Gagasan tersebut memberikan penekanan bahwa senioritas seharusnya dilakukan dengan cara yang positif tanpa adanya penindasan, perploncoan, kekerasan verbal, kekerasan fisik, serta hal lainnya yang bersifat negatif.
Tradisi perploncoan dan senioritas dalam kegiatan pengenalan sekolah/kampus serta organisasi masih tumbuh subur di tengah lingkungan pendidikan karena telah menjadi sebuah kebiasaan. Sayangnya dalam pelaksanaannya seringkali terdapat cara-cara yang tergolong negatif seperti maraknya tindakan pembentakan dari senior terhadap juniornya yang kemudian memberikan batasan antara senior dan junior. Hal demikian ini yang menyebabkan timbulnya stigma negatif mengenai senioritas.
Awalnya senioritas digunakan oleh senior untuk mendidik karakter junior nya agar bisa lebih sopan dan menghormati orang yang lebih tua. Kenyataannya, tanpa adanya senioritas setiap orang pasti mempunyai sikap saling menghormati. “Respect is earned not given” yang berarti untuk mendapatkan respect dari seseorang, juga harus menunjukkan kenapa kita pantas mendapatkan respect tersebut, seperti dengan menorehkan sebuah prestasi serta pencapaian yang digapai. Bukan karena memaksa orang lain hanya dengan alasan lebih tua ataupun lebih berpengalaman.
Dalam konteks ini, junior harus menghormati seniornya, tetapi bukan berarti senior dapat bersikap seenaknya terhadap juniornya. Sikap saling menghormati pada dasarnya memang perlu dibentuk baik bagi senior maupun junior. Tetapi realitanya, senior lebih berlaku seenaknya terhadap juniornya dan menindas para juniornya dengan mengungkit kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya. Dan apabila junior melawan ataupun memberontak, hal tersebut dipandang tidak sopan oleh para senior.
Banyak orang berpendapat bahwa senioritas bertujuan untuk melatih mental agar bisa lebih tahan banting saat menghadapi dunia perkuliahan, dunia kerja, ataupun dunia luar. Kenyataanya, tanpa dilatih apalagi dengan bentakan, mental para juniornya pasti akan terlatih serta terbentuk dengan sendirinya. Mental akan terbentuk seiring hubungan yang terjalin baik dengan dosen (Djunaedird, 2015)hingga dunia kerja.
Bahkan psikolog mengatakan, mental seseorang hanya bisa berubah dengan sendirinya, dengan kemauan dari dirinya sendiri, dengan dorongan dan support dari sekitarnya tanpa adanya tekanan. Malah sebaliknya, dengan adanya tekanan tersebut mental seseorang bisa saja menjadi lebih lemah.
Senioritas boleh dilakukan, asalkan mengarah ke kegiatan yang positif tanpa adanya bentakan-bentakan dari para seniornya. Karena dari bentakan tersebut nantinya akan menciptakan kecanggungan sehingga sulit untuk saling berkomunikasi antara senior dan junior. Seharusnya senioritas dapat dilakukan dengan hal-hal yang lebih positif tanpa bentakan, seperti : melakukan kegiatan-kegiatan sosial, mengadakan bakti sosial, menulis esai dan hal-hal positif lainnya. Hal yang demikian ini kiranya akan lebih bermanfaat bagi semua elemen termasuk memberikan kesiapan bagi junior untuk berprestasi. Pada akhirnya senioritas diperlukan dalam memberikan pengaruh positif, seperti memberikan motivasi belajar serta tips-tips yang berguna dalam menempuh pendidikan. Namun sebaliknya, senioritas akan menjadi momok menakutkan apabila dilakukan dengan hal-hal negatif berciri khas perploncoan.
