Konten dari Pengguna

Tak Lagi Dihafal, Siswa Kelas VIII Temukan Sendiri Rumus Barisan Aritmatika

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Vitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret kebersamaan mahasiswa PK UNY bersama murid kelas VII SMP Negeri 7 Yogyakarta setelah kegiatan pembelajaran. Foto: Nabila Vitasari
zoom-in-whitePerbesar
Potret kebersamaan mahasiswa PK UNY bersama murid kelas VII SMP Negeri 7 Yogyakarta setelah kegiatan pembelajaran. Foto: Nabila Vitasari

Kegiatan pembelajaran matematika dengan materi pola bilangan tepatnya pada barisan aritmatika dilaksanakan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) pada 11 September 2026, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan PK yang berlangsung sejak 20 Juli hingga 26 September 2026, bertempat di ruang kelas VIII SMP Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mengajar mahasiswa PK dengan sasaran peserta didik kelas VIII sebanyak 32 siswa. Pembelajaran dirancang untuk membantu siswa memahami konsep barisan aritmatika secara konkret melalui penggunaan alat peraga sederhana, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), dengan menghadirkan metode pembelajaran yang inovatif dan mudah dipahami.

Potret mahasiswa PK UNY sedang menjelaskan materi barisan aritmetika kepada murid kelas VIII SMP Negeri 7 Yogyakarta dalam kegiatan pembelajaran pada 11 September 2026. Foto: Nabila Vitasari
zoom-in-whitePerbesar
Potret mahasiswa PK UNY sedang menjelaskan materi barisan aritmetika kepada murid kelas VIII SMP Negeri 7 Yogyakarta dalam kegiatan pembelajaran pada 11 September 2026. Foto: Nabila Vitasari

Kegiatan diawali dengan penjelasan singkat mengenai pengertian pola bilangan dan ciri-ciri barisan aritmatika, yaitu barisan bilangan dengan selisih (beda) yang tetap antarsukunya. Untuk memperjelas konsep abstrak tersebut, mahasiswa PK menggunakan alat peraga berupa poster berjudul "Barisan Aritmatika" yang memuat tabel bertingkat dari suku ke-1 (U1) hingga suku ke-8 (U8). Setiap kotak pada tabel diisi dengan push pins berwarna sebagai representasi visual jumlah suku, sehingga siswa dapat melihat langsung pertambahan nilai suku secara bertahap: a, a+b, a+2b, a+3b, hingga a+7b. Poster tersebut juga dilengkapi dengan rumus suku ke-n (Un = a + (n-1)b) dan rumus jumlah suku ke-n (Sn) sebagai rujukan visual bagi siswa.

Mahasiswa PK UNY sedang mendampingi murid dalam mengerjakan LKPD dan memberikan bimbingan selama kegiatan diskusi kelompok. Foto: Nabila Vitasari

Kegiatan dipandu menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang disusun secara bertahap dalam tiga bagian utama. Pada bagian pertama, "Mengamati Pola Barisan", siswa diminta mengisi tabel berisi nomor suku, bentuk suku, dan banyaknya beda (b) yang ditambahkan pada setiap suku berdasarkan pengamatan terhadap alat peraga. Pada bagian kedua, "Menemukan Rumus Suku ke-n", siswa diarahkan melihat pola U1 hingga U5 yang dituliskan dalam bentuk a + (n-1)b, kemudian menyimpulkan sendiri rumus umum suku ke-n barisan aritmatika. Pada bagian ketiga, "Ayo Buktikan", siswa menerapkan rumus yang telah ditemukan pada contoh soal pola bilangan untuk membuktikan kebenaran rumus yang telah ditemukan. Mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator yang mendampingi jalannya diskusi kelompok serta memberikan penguatan konsep di akhir sesi.

Alat peraga pembelajaran barisan aritmetika yang dibuat dan digunakan oleh mahasiswa PK UNY untuk membantu murid memahami pola dan rumus barisan aritmetika. Foto: Nabila Vitasari

Penggunaan alat peraga yang dipadukan dengan LKPD terbukti meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret dan mudah diikuti. Karena menemukan sendiri rumus barisan aritmatika melalui proses pengamatan, sebagian besar siswa mampu menyelesaikan latihan soal penentuan suku ke-n dengan lebih percaya diri dibandingkan pembelajaran konvensional berbasis ceramah. Kegiatan ini juga melatih keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan komunikasi siswa selama diskusi kelompok. Bagi mahasiswa PK, kegiatan ini menjadi sarana melatih kompetensi pedagogik dalam merancang media pembelajaran yang kontekstual, sejalan dengan upaya mendukung pemerataan akses pendidikan berkualitas sebagaimana diamanatkan dalam SDGs poin ke-4.

Melalui kegiatan ini, diharapkan metode pembelajaran berbasis alat peraga dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara berkelanjutan oleh guru maupun mahasiswa PK selanjutnya, khususnya untuk materi matematika yang bersifat abstrak. Pihak sekolah menyambut baik inovasi pembelajaran ini dan berharap kolaborasi antara mahasiswa PK dan sekolah dapat terus berlanjut demi peningkatan mutu pembelajaran di kelas.