Mencintai Rasul, Semudah Itu?

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Nabila Zafira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Tanganku penuh doa, tetapi kosong empati. Lidahku fasih menyebut namanya, tetapi kakiku enggan melangkah membela yang lemah."
Kalimat itu menjadi salah satu bagian paling menggetarkan dalam cerpen Jejak Cahaya di Pasir yang Diam karya Salman Alfariji. Di tengah banyaknya cerita tentang kerinduan kepada Rasulullah ﷺ, cerpen ini justru tidak membawa pembaca pada kisah sejarah atau romantisasi masa lalu. Sebaliknya, pengarang mengajak pembaca masuk ke ruang yang lebih sunyi, yaitu ruang pergulatan batin manusia ketika menyadari bahwa cinta kepada Rasul belum tentu tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita dibuka dengan suasana padang pasir yang sunyi. Tokoh "aku" duduk seorang diri sambil menunggu sesuatu yang bahkan tidak ia pahami bentuknya. Ia hanya merasakan getaran kerinduan yang sulit dijelaskan. Gambaran itu langsung membangun kesan bahwa perjalanan yang akan dilalui bukanlah perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin. Padang pasir bukan hanya menjadi latar tempat, tetapi berubah menjadi ruang kontemplasi yang mempertemukan tokoh dengan dirinya sendiri.
Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa karya fiksi merupakan hasil perenungan pengarang terhadap kehidupan manusia, hubungan antarsesama, hubungan dengan diri sendiri, hingga hubungan dengan Tuhan. Melalui imajinasi, pengarang menghadirkan dunia yang mungkin tidak benar-benar terjadi, tetapi mampu menyampaikan kebenaran tentang kehidupan. Dengan demikian, karya sastra tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan mengajak pembaca merenungkan nilai-nilai kemanusiaan.
Pemikiran tersebut terasa sangat relevan dengan cerpen ini. Meski dipenuhi dialog imajiner antara tokoh "aku", pasir, dan suara tanpa wujud, cerita justru terasa dekat dengan realitas kehidupan sekarang. Pembaca tidak sedang diajak mempercayai bahwa pasir benar-benar berbicara, melainkan diajak memahami kegelisahan yang sering muncul ketika seseorang mempertanyakan kualitas keimanannya sendiri.
Pergulatan batin tokoh utama mulai terlihat ketika ia berkata, "Aku menunggu Rasul." Jawaban sederhana itu langsung dibalas oleh pasir, "Rasul sudah wafat. Yang tersisa hanya nama dan riwayat." Percakapan singkat tersebut menjadi titik awal konflik batin dalam cerita. Tokoh "aku" tidak sedang mencari sosok Nabi secara fisik, tetapi sedang mencari makna bagaimana mencintai beliau di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi simbol-simbol agama, namun perlahan kehilangan nilai kemanusiaan.
Menurut Nurgiyantoro, tokoh merupakan unsur penting dalam karya fiksi karena melalui tokohlah pengarang menyampaikan gagasan, nilai, dan persoalan kehidupan kepada pembaca. Tokoh tidak selalu harus digambarkan secara rinci. Dalam cerpen, justru keterbatasan penggambaran tokoh membuat pembaca ikut melengkapi dan menafsirkan kepribadiannya sendiri.
Hal itu tampak jelas pada tokoh "aku". Pengarang hampir tidak memberikan identitas apa pun. Tidak diketahui usia, pekerjaan, maupun latar belakangnya. Tokoh tersebut sengaja dibuat universal sehingga siapa pun dapat merasa bahwa dirinya adalah tokoh itu sendiri. Saat membaca pengakuannya, pembaca seperti sedang bercermin pada kehidupan masing-masing.
Puncak pergulatan batin muncul ketika tokoh utama menyadari kenyataan yang selama ini ia abaikan. Ia berkata,
"Tanganku penuh doa, tetapi kosong empati. Lidahku fasih menyebut namanya, tetapi kakiku enggan melangkah membela yang lemah."
Pengakuan tersebut menjadi momen paling kuat dalam keseluruhan cerita. Tokoh tidak lagi menyalahkan keadaan, lingkungan, atau orang lain. Ia justru mengakui bahwa persoalan terbesar berada dalam dirinya sendiri. Kesadaran seperti inilah yang membuat konflik dalam cerpen terasa hidup. Musuh utama bukanlah siapa pun di luar sana, melainkan ego dan kemunafikan yang diam-diam tumbuh dalam diri manusia.
Konflik batin itu semakin diperdalam melalui dialog yang berbunyi,
"Rindu bukan air mata. Rindu adalah keberanian untuk jujur pada dirimu sendiri."
Kalimat tersebut mengubah makna rindu yang selama ini sering dipahami secara emosional. Dalam cerpen ini, rindu tidak diukur dari banyaknya pujian atau shalawat yang diucapkan, melainkan dari keberanian seseorang mengoreksi dirinya sendiri. Di sinilah Salman Alfariji menghadirkan makna cinta kepada Rasulullah ﷺ dalam bentuk yang lebih reflektif dan menyentuh.
Selain tokoh, kekuatan cerpen ini juga terletak pada penggunaan latar yang sangat simbolik. Nurgiyantoro menyebutkan bahwa latar tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya peristiwa, tetapi juga mampu membangun suasana, memperkuat karakter tokoh, bahkan mendukung penyampaian tema.
Padang pasir dalam cerpen ini bukan sekadar bentang alam Timur Tengah. Pasir menjadi lambang kesunyian batin manusia. Ketika tokoh duduk sendirian di tengah hamparan pasir, pembaca sebenarnya sedang diajak memasuki ruang hati yang kosong, tempat seseorang mulai mempertanyakan kembali tujuan hidup dan kualitas imannya.
Begitu pula dengan langit yang digambarkan "runtuh ke dalam dada". Gambaran tersebut tidak dimaksudkan sebagai peristiwa nyata, melainkan simbol bahwa kesadaran terbesar justru lahir dari dalam diri manusia. Langit yang runtuh bukan menghancurkan dunia, melainkan meruntuhkan kesombongan tokoh utama.
Keindahan cerpen ini juga tampak dari keberanian pengarang menggunakan metafora untuk menyampaikan kritik sosial. Salah satunya ketika ia menulis,
"Orang-orang berteriak menjual iman dalam kantong plastik. Ada yang menimbang pahala dengan timbangan curang."
Kalimat tersebut memang bersifat imajinatif, tetapi maknanya terasa sangat nyata. Pengarang sedang menyindir kondisi masyarakat yang terkadang lebih sibuk mempertontonkan simbol-simbol keagamaan daripada menghadirkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Kritik itu disampaikan secara halus sehingga tidak terasa menggurui, justru mengajak pembaca merenung bersama.
Sebagai pembaca, saya melihat cerpen ini berhasil menyampaikan kritik yang relevan dengan kehidupan saat ini. Di era media sosial, ekspresi keberagamaan sering kali lebih mudah terlihat daripada sikap peduli terhadap sesama. Banyak orang berlomba-lomba menunjukkan ibadahnya, tetapi masih sulit menunjukkan empati kepada mereka yang membutuhkan. Cerpen ini seolah mengingatkan bahwa ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada lisan, melainkan tampak dari bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain.
Perjalanan batin tokoh "aku" mencapai titik yang lebih dalam ketika ia bertemu seorang tua yang sedang menyuapi seekor anjing pincang. Adegan ini tampak sederhana, tetapi menyimpan makna yang besar. Tokoh "aku" yang selama ini sibuk mencari Rasulullah ﷺ justru dipertemukan dengan seseorang yang menunjukkan nilai-nilai yang diajarkan beliau melalui tindakan nyata. Ketika tokoh itu bertanya, "Apakah engkau mengenal Rasul?", orang tua tersebut menjawab, "Kenal? Aku hidup dari akhlaknya." Jawaban singkat itu menjadi penegas bahwa mengenal Rasul tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan tercermin dalam cara seseorang memperlakukan makhluk hidup dan sesama manusia.
Bagian ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengarang sengaja membangun konflik bukan melalui pertentangan antar tokoh, melainkan melalui benturan antara keyakinan dan kenyataan. Tokoh utama mulai memahami bahwa selama ini ia terlalu sibuk mencari sosok Rasul dalam simbol-simbol, sementara keteladanan beliau justru hadir dalam tindakan yang sering dianggap sepele. Inilah bentuk pergulatan batin yang menjadi kekuatan utama cerpen.
Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tema merupakan gagasan dasar yang menopang keseluruhan cerita. Dalam cerpen, tema biasanya hanya satu sehingga seluruh unsur, mulai dari tokoh, latar, hingga alur, saling mendukung untuk memperkuat makna tersebut. Kepaduan antarunsur inilah yang membuat cerita terasa utuh dan mampu meninggalkan kesan bagi pembaca.
Jika ditelusuri lebih jauh, tema utama dalam Jejak Cahaya di Pasir yang Diam bukan sekadar kerinduan kepada Rasulullah ﷺ, melainkan pencarian makna cinta yang diwujudkan melalui akhlak. Seluruh rangkaian peristiwa dalam cerpen bergerak menuju satu kesadaran, bahwa mencintai Rasul bukan hanya mengucapkan shalawat, tetapi menghadirkan kasih sayang, kejujuran, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap dialog, simbol, dan perjalanan tokoh saling menguatkan tema tersebut.
Pengarang juga menghadirkan kritik sosial yang terasa halus, tetapi tajam. Salah satu kutipan yang paling membekas adalah ketika tokoh melihat keadaan di sekitarnya.
"Masjid-masjid berdiri megah, tapi pintunya sempit bagi orang miskin dan janda."
Kalimat tersebut tidak ditujukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, pengarang mengajak pembaca bertanya kepada dirinya sendiri: apakah tempat ibadah benar-benar telah menjadi ruang yang ramah bagi semua orang, atau justru masih menyisakan sekat-sekat sosial? Kritik seperti ini terasa relevan karena disampaikan melalui bahasa sastra yang puitis, bukan melalui ceramah yang menggurui.
Kegelisahan tokoh semakin memuncak ketika ia mengejar sosok lelaki yang memikul beban. Tokoh itu bertanya dengan penuh harap, "Apakah engkau Rasulullah?" Namun lelaki tersebut menjawab,
"Jika aku menoleh dan kau melihat wajahku, kau akan sibuk memujaku dan lupa menolong di sekitarmu."
Menurut saya, inilah dialog paling kuat dalam keseluruhan cerpen. Salman Alfariji seolah ingin mengingatkan bahwa kekaguman kepada sosok Rasul tidak boleh berhenti pada pujian. Kekaguman itu seharusnya berubah menjadi tindakan nyata. Pesan ini terasa sederhana, tetapi sangat relevan di tengah kehidupan modern ketika ekspresi keagamaan sering kali lebih mudah terlihat daripada kepedulian kepada sesama.
Cerpen ini juga menarik karena tidak menawarkan akhir yang spektakuler. Tokoh utama tidak benar-benar bertemu Rasulullah ﷺ. Ia tidak memperoleh mukjizat ataupun jawaban yang pasti. Sebaliknya, ia hanya memperoleh kesadaran bahwa jalan menuju Rasul justru dimulai dari manusia di sekitarnya. Kesadaran tersebut dirangkum melalui kalimat yang menjadi inti cerita,
"Jika kau ingin mencintaiku, cintailah manusia."
Kalimat itu menjadi amanat yang mengikat seluruh cerita. Amanat tidak disampaikan secara langsung melalui nasihat, melainkan lahir dari pengalaman batin tokoh. Cara penyampaian seperti ini membuat pesan cerita terasa lebih menyentuh karena pembaca ikut mengalami perjalanan tokoh hingga menemukan maknanya sendiri.
Dalam kehidupan sekarang, pesan tersebut terasa semakin penting. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, manusia semakin mudah menunjukkan identitas keagamaannya kepada publik. Namun, di saat yang sama, masih banyak orang yang kesulitan menunjukkan empati kepada tetangga, teman, bahkan keluarga sendiri. Cerpen ini menjadi pengingat bahwa ukuran keimanan tidak hanya tampak dalam ibadah yang terlihat, tetapi juga dalam sikap menghargai, menolong, dan memperlakukan orang lain dengan kasih sayang.
Bagi saya, kekuatan terbesar Jejak Cahaya di Pasir yang Diam terletak pada kemampuannya membuat pembaca berhenti sejenak untuk bercermin. Cerpen ini tidak mengajak pembaca mencari kesalahan orang lain. Sebaliknya, ia menghadapkan pembaca pada pertanyaan yang jauh lebih sulit: sudahkah cinta kepada Rasul benar-benar hadir dalam perilaku kita sehari-hari? Pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban yang sama bagi setiap orang, tetapi justru di sanalah letak kekuatan karya sastra. Ia membuka ruang refleksi tanpa memaksa pembaca menerima satu kebenaran.
Pada akhirnya, Jejak Cahaya di Pasir yang Diam menunjukkan bahwa kerinduan kepada Rasulullah ﷺ bukanlah perjalanan menuju masa lalu, melainkan perjalanan menuju diri sendiri. Melalui tokoh yang terus bergulat dengan hati nuraninya, Salman Alfariji mengingatkan bahwa akhlak adalah jejak cahaya yang tidak pernah padam. Selama manusia masih berusaha menghadirkan empati, kejujuran, dan kasih sayang dalam kehidupannya, keteladanan Rasul akan tetap hidup. Mungkin itulah pesan yang paling membekas dari cerpen ini: mencintai Rasul bukan sekadar mengenang beliau, tetapi berani melanjutkan akhlaknya dalam setiap langkah kehidupan.
