Saat Orang Kecil Menghitung Uang, Para Penguasa Menghitung Kepentingan

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Nabila Zafira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis: ketika kemiskinan menjadi keseharian, sementara kekuasaan justru pandai menyembunyikan kebobrokan.
Jakarta sering dibayangkan sebagai kota yang menjanjikan banyak kemungkinan. Gedung-gedung berdiri tinggi, kendaraan memenuhi jalan, dan orang-orang berlomba mengejar kehidupan yang lebih baik. Namun, bagaimana jika di balik semua kesibukan itu, ada orang-orang yang bahkan harus menghitung uang berkali-kali hanya untuk memastikan mereka bisa makan esok hari?
Pertanyaan itulah yang muncul ketika membaca novel Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis. Diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia dalam edisi 2009 yang menjadi dasar pembacaan ini, novel tersebut menghadirkan potret kehidupan perkotaan yang jauh dari kesan gemerlap. Di dalamnya, Jakarta bukan sekadar latar tempat, melainkan ruang yang memperlihatkan ketimpangan sosial, pergulatan hidup masyarakat kecil, serta perilaku orang-orang yang berada dekat dengan kekuasaan.
Menariknya, Mochtar tidak menyampaikan kritik sosial hanya melalui pidato panjang atau perdebatan politik. Ia justru membawa pembaca memasuki kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya: perut yang lapar, rumah yang sempit, pekerjaan yang melelahkan, hingga pertemuan-pertemuan yang menyimpan kepentingan di balik percakapan yang tampak biasa.
Dari sana, pembaca perlahan menyadari bahwa persoalan sebuah kota tidak selalu terlihat dari bangunan yang berdiri di atas tanahnya. Terkadang, persoalan itu justru tersembunyi dalam kehidupan orang-orang yang setiap hari berusaha bertahan di dalamnya.
Ketika sebatang rokok terasa seperti kemewahan
Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah kehidupan Saimun, seorang kuli pengangkut sampah yang harus bekerja di tengah keadaan serba kekurangan. Sejak awal cerita, pembaca langsung diperkenalkan pada tubuh yang lelah, kaki yang kotor, cuaca yang tidak bersahabat, dan perut yang terus menuntut untuk diisi.
Saimun bukan tokoh yang sedang mengejar kemewahan. Keinginannya sangat sederhana: mendapatkan makanan, menerima upah, membayar utang, dan menjalani hari tanpa terus-menerus dihantui kekurangan.
Dalam novel ini, Mochtar Lubis menulis:
“Pagi itu sebatang rokok kretek menguasai seluruh jiwanya.”
(Mochtar Lubis, Senja di Jakarta, hlm. 4)
Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika dibaca dalam konteks kehidupan Saimun, sebatang rokok bukan lagi sekadar benda untuk dinikmati. Rokok itu menjadi sesuatu yang begitu berarti karena hampir semua hal dalam hidupnya terasa sulit didapatkan.
Saimun bahkan mengingat masa ketika ia masih tinggal di desa, sebelum kehilangan kedua orang tuanya akibat serangan gerombolan dan akhirnya melarikan diri ke Jakarta. Kehidupannya yang dahulu terasa biasa kini menjadi sesuatu yang jauh, seolah-olah merupakan bagian dari kehidupan orang lain.
Bagi saya, bagian ini memperlihatkan bagaimana kemiskinan dapat mengubah cara seseorang memandang hal-hal kecil. Sesuatu yang mungkin mudah dibeli oleh orang lain bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi seseorang yang hidup dalam kekurangan. Bukan karena orang tersebut tidak memiliki keinginan yang lebih besar, melainkan karena kebutuhan paling dasar saja belum tentu terpenuhi.
Saya juga merasa bahwa Saimun mewakili orang-orang yang sering kali hadir di sekitar kita, tetapi jarang benar-benar kita perhatikan. Kita mungkin melihat petugas kebersihan bekerja di jalanan setiap pagi, tetapi belum tentu memikirkan bagaimana mereka memenuhi kebutuhan keluarga, membayar tempat tinggal, atau bertahan ketika upah yang diterima tidak mencukupi.
Melalui Saimun, novel ini mengajak pembaca melihat manusia di balik pekerjaan yang kerap dianggap biasa. Ada kehidupan, harapan, dan kelelahan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Jakarta yang sama, tetapi tidak memberikan kehidupan yang sama
Hal menarik lainnya adalah cara Mochtar Lubis mempertemukan kehidupan masyarakat kecil dengan kehidupan orang-orang yang memiliki kedudukan lebih baik.
Ketika Saimun harus menghitung sisa uangnya untuk membeli makanan dan membayar utang, pembaca juga diperkenalkan kepada tokoh-tokoh seperti Suryono dan Raden Kaslan. Kehidupan mereka bergerak dalam lingkungan yang berbeda, dengan persoalan, kebiasaan, serta akses yang tidak sama dengan kehidupan Saimun.
Perbedaan tersebut terasa jelas dalam penggambaran Suryono. Ia pernah tinggal di New York dan terbiasa dengan kehidupan yang lebih nyaman. Ketika kembali ke Jakarta, ia justru merasa jengkel karena harus menghadapi keadaan kantor dan lingkungan yang menurutnya tidak menyenangkan.
Sementara itu, Saimun menghadapi persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana caranya bertahan hidup.
Kontras ini membuat saya melihat Jakarta dalam novel tersebut sebagai kota yang tidak memberikan pengalaman serupa kepada setiap orang. Ada orang yang merasa tidak nyaman karena kehilangan kenyamanan yang biasa dinikmati. Ada pula orang yang tidak memiliki kemewahan untuk sekadar memikirkan kenyamanan, sebab seluruh tenaganya sudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keduanya sama-sama hidup di kota yang sama, tetapi jarak kehidupan mereka begitu lebar.
Menurut saya, inilah salah satu kekuatan Senja di Jakarta. Mochtar tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa masyarakatnya timpang. Ia cukup memperlihatkan kehidupan tokoh-tokohnya secara berdampingan, lalu membiarkan pembaca merasakan sendiri perbedaan tersebut.
Dari perbedaan itu, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: ketika sebuah kota terus bergerak maju, siapa sebenarnya yang ikut menikmati kemajuannya?
Ketika kekuasaan lebih sibuk mengurus kepentingan sendiri
Jika kemiskinan menjadi salah satu wajah Jakarta dalam novel ini, persoalan kekuasaan menjadi wajah lainnya yang tidak kalah penting.
Melalui Raden Kaslan, Sugeng, Halim, dan sejumlah tokoh yang bergerak di lingkungan politik serta pemerintahan, Mochtar Lubis menggambarkan bagaimana kepentingan pribadi dapat berkelindan dengan jabatan, hubungan politik, dan urusan bisnis.
Salah satu bagian yang memperlihatkan persoalan tersebut muncul ketika Sugeng menyadari bahwa dirinya ikut terlibat dalam praktik yang bertentangan dengan sikap yang selama ini ditunjukkan oleh seseorang yang lantang mengkritik korupsi.
Dalam novel, Sugeng memandang Halim dengan perasaan mencemooh karena orang yang setiap hari menghantam korupsi melalui surat kabarnya ternyata juga terlibat dalam kepentingan serupa.
Bagi saya, bagian ini terasa penting karena kritiknya tidak berhenti pada tindakan korupsi itu sendiri. Novel ini juga menyoroti persoalan ketika ucapan dan tindakan seseorang berjalan ke arah yang berbeda.
Seseorang bisa berbicara tentang kepentingan rakyat, mengkritik keburukan orang lain, bahkan menampilkan dirinya sebagai pembela kebenaran. Namun, semua itu kehilangan maknanya ketika ia sendiri bersedia mengambil bagian dalam praktik yang merugikan masyarakat.
Di sinilah persoalan kekuasaan dalam Senja di Jakarta terasa rumit. Kebobrokan tidak selalu hadir melalui tindakan yang terang-terangan. Ada kepentingan yang disamarkan, hubungan yang saling menguntungkan, dan perkataan yang terdengar benar, tetapi tidak sejalan dengan perbuatan.
Saya membaca bagian ini sebagai pengingat bahwa kritik terhadap korupsi tidak cukup berhenti pada keberanian menunjukkan kesalahan orang lain. Keberanian yang sama juga harus berlaku ketika seseorang perlu memeriksa dirinya sendiri.
Sebab, yang membuat sebuah persoalan bertahan bukan hanya orang yang melakukan kesalahan, melainkan juga lingkungan yang membiarkan kesalahan tersebut terus berlangsung selama kepentingan mereka tidak terganggu.
Tokoh-tokohnya tidak sekadar baik atau buruk
Sebagai sebuah novel, Senja di Jakarta juga menarik karena menghadirkan tokoh-tokoh dengan kehidupan dan persoalan yang saling bertautan. Mereka tidak bergerak dalam satu cerita yang sederhana, melainkan dalam berbagai lingkungan sosial yang memperlihatkan sisi berbeda dari masyarakat.
Saimun menghadirkan perjuangan untuk bertahan hidup. Suryono memperlihatkan kegelisahan seseorang yang memiliki kenyamanan, tetapi tidak menemukan kepuasan dalam kehidupannya. Raden Kaslan dan tokoh-tokoh lain di lingkaran kekuasaan membuka ruang untuk membaca hubungan antara kepentingan pribadi, jabatan, dan politik.
Menurut saya, kekuatan penggambaran tokoh-tokoh tersebut terletak pada cara kehidupan pribadi mereka berhubungan dengan persoalan sosial yang lebih besar. Keputusan dan perilaku mereka tidak hanya berpengaruh pada diri sendiri, tetapi juga memperlihatkan keadaan masyarakat yang melingkupinya.
Karena itu, membaca novel ini tidak cukup hanya dengan menentukan siapa tokoh yang baik dan siapa yang buruk. Pembaca perlu memperhatikan bagaimana setiap tokoh menjalani hidup, kepentingan apa yang mereka kejar, dan bagaimana pilihan mereka memperlihatkan masalah dalam lingkungan sosialnya.
Namun, memahami keadaan yang melatarbelakangi perilaku tokoh bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Justru di situlah pembaca diajak berpikir lebih jauh: bagaimana seseorang dapat terlibat dalam persoalan sosial, dan sejauh mana ia tetap bertanggung jawab atas pilihannya sendiri?
Pertanyaan tersebut membuat novel ini terasa lebih dari sekadar cerita tentang kehidupan Jakarta. Ia menjadi ruang untuk menimbang kembali hubungan antara manusia, moralitas, dan lingkungan yang membentuk kehidupannya.
Apakah novel yang terbit puluhan tahun lalu masih terasa dekat?
Menurut saya, salah satu alasan Senja di Jakarta layak dibaca kembali adalah karena persoalan yang diangkatnya tidak hanya penting untuk memahami masa ketika novel itu ditulis. Novel ini juga membuka ruang bagi pembaca masa kini untuk memikirkan hubungan antara kemiskinan, ketimpangan, dan tanggung jawab orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Tentu saja, Jakarta dalam novel Mochtar Lubis merupakan Jakarta dalam dunia cerita dan konteks zamannya. Kita tidak bisa begitu saja menyamakan seluruh keadaan yang digambarkan dengan kondisi masyarakat sekarang. Namun, persoalan yang dihadirkan novel ini dapat menjadi titik berangkat untuk mempertanyakan hal-hal yang masih relevan bagi kehidupan bersama.
Misalnya, bagaimana nasib masyarakat yang bekerja keras tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar? Mengapa kepentingan pribadi dapat begitu mudah mengalahkan kepentingan umum? Dan mengapa seseorang yang memiliki jabatan atau pengaruh terkadang justru sulit dimintai pertanggungjawaban?
Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu membuat novel ini menarik dibaca oleh generasi sekarang, terutama pembaca muda yang ingin melihat bagaimana karya sastra dapat membantu kita memahami kehidupan sosial.
Sastra memang tidak selalu memberikan jawaban yang siap digunakan. Akan tetapi, sastra dapat membuat kita berhenti sejenak, memperhatikan sesuatu yang sebelumnya terlewat, dan memikirkan persoalan yang selama ini mungkin dianggap biasa.
Ketika membaca kehidupan Saimun, misalnya, kita tidak hanya melihat seorang tokoh fiktif yang kelaparan. Kita juga diajak memikirkan bagaimana rasanya hidup ketika sebagian besar tenaga dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar. Ketika membaca tokoh-tokoh yang bergerak di lingkungan kekuasaan, kita diajak melihat bahwa masalah moral tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali.
Bagi saya, pengalaman membaca seperti inilah yang membuat karya sastra tetap berarti meskipun waktu terus berjalan.
Sebagai sebuah karya sastra, Senja di Jakarta memiliki kekuatan pada keberaniannya menghadirkan berbagai lapisan kehidupan masyarakat. Novel ini tidak hanya mengikuti perjalanan satu tokoh, tetapi mempertemukan kehidupan masyarakat kecil, lingkungan keluarga, dunia pekerjaan, politik, pers, dan kepentingan bisnis.
Penggambaran keseharian tokoh membuat persoalan sosial terasa dekat. Pembaca tidak hanya diberi tahu bahwa kemiskinan dan korupsi merupakan masalah, tetapi diperlihatkan bagaimana persoalan tersebut hadir dalam kehidupan manusia.
Bahasanya juga memiliki kekuatan dalam membangun suasana. Pada bagian kehidupan Saimun, misalnya, penggambaran hujan, sampah, rasa lapar, dan sebatang rokok membuat keadaan tokoh terasa konkret. Sementara itu, bagian yang melibatkan tokoh-tokoh politik menghadirkan percakapan dan hubungan yang memperlihatkan benturan kepentingan.
Meski demikian, novel ini membutuhkan kesabaran. Banyak tokoh dan jalur cerita yang saling bergantian, sehingga pembaca perlu memperhatikan hubungan antartokoh dan perubahan situasi agar tidak kehilangan arah. Pembaca yang mengharapkan cerita dengan satu tokoh utama dan alur yang selalu bergerak lurus mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Namun, bagi saya, keluasan cerita tersebut justru mendukung gambaran masyarakat yang ingin dihadirkan Mochtar Lubis. Kehidupan sosial tidak hanya ditentukan oleh satu orang atau satu kejadian. Ada banyak kepentingan yang bertemu, bertentangan, dan saling memengaruhi.
Karena itu, saya merekomendasikan novel ini kepada pembaca yang tertarik pada sastra Indonesia, kritik sosial, persoalan politik, dan cerita yang mengajak pembacanya berpikir setelah halaman terakhir ditutup.
Novel ini mungkin tidak selalu memberikan kenyamanan saat dibaca. Beberapa bagiannya justru membuat pembaca merasa gerah ketika melihat bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya. Akan tetapi, ketidaknyamanan tersebut merupakan salah satu hal yang membuat pengalaman membaca novel ini berharga.
Senja yang belum tentu berakhir
Ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya setelah membaca Senja di Jakarta: kehidupan masyarakat kecil dan kehidupan orang-orang yang memiliki kekuasaan seolah berjalan di dua dunia yang berbeda, meskipun keduanya berada di kota yang sama.
Saimun harus memikirkan makanan dan uang yang tersisa. Sementara itu, di lingkungan lain, orang-orang dapat sibuk mengurus kedudukan, hubungan, dan kepentingan yang nilainya jauh melampaui persoalan sehari-hari Saimun.
Perbedaan itu membuat saya bertanya apakah kemajuan sebuah kota benar-benar dapat disebut keberhasilan apabila masih ada begitu banyak orang yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Saya tidak membaca novel ini sebagai ajakan untuk memandang semua orang yang berkuasa dengan kecurigaan. Bagi saya, yang lebih penting adalah keberanian untuk mempertanyakan bagaimana kekuasaan digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang justru menanggung akibatnya.
Pada akhirnya, Senja di Jakarta mengingatkan saya bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung, jalan, dan berbagai kesibukan yang terlihat dari luar. Kota juga dibentuk oleh cara manusia memperlakukan sesamanya, oleh kesempatan yang dibagikan atau ditahan, serta oleh keputusan orang-orang yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Judul novel ini menghadirkan bayangan tentang senja, waktu ketika cahaya perlahan meredup. Namun, setelah membaca kisah-kisah di dalamnya, saya justru merasa bahwa yang perlu dipertanyakan bukan hanya kapan senja itu berakhir, melainkan apakah orang-orang yang hidup di dalamnya memiliki kesempatan yang sama untuk melihat hari esok.
Sebab, selama ada manusia yang harus menahan lapar di tengah kota yang sibuk, dan selama kepentingan pribadi masih dapat mengalahkan tanggung jawab terhadap sesama, senja yang digambarkan Mochtar Lubis akan tetap menyisakan pertanyaan bagi pembacanya.
Dan mungkin, itulah alasan sebuah novel lama masih layak dibicarakan hari ini: bukan karena semua keadaan di dalamnya sama persis dengan kehidupan sekarang, melainkan karena ia membuat kita berani melihat kembali persoalan yang tidak boleh dianggap biasa.
