Sepotong Kisah W.S Rendra "Si Burung Merak"

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari nabilaaputriii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenal W.S Rendra
Willybrordus Surendra Bhawana Rendra nama lengkapnya atau yang lebih dikenal dengan nama W.S Rendra mempunyai julukan ‘si burung merak’ yang didapatkan dari sahabatnya alm Mbah Surip. Salah seorang pujangga terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Lahir di kampung Jayengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah pada hari Kamis Kliwon, 7 November 1935 pukul 17.05. Meninggal dunia pada 6 Agustus 2009, di Desa Cipayung Jaya, kota Depok.
Willy, begitu Rendra akrab disebut. Ayahnya bernama R. Cyprianus Sugeng Brotoatmojo merupakan seorang dramawan tradisional dan guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di sekolah Katolik, Solo. Ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah merupakan seorang penari serimpi di keraton Surakarta. Mempunyai tiga orang istri yaitu, Sunarti Suwandi, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, dan Ken Zuraida. Serta mempunyai sebelas orang anak yaitu, Teddy Satya Nughara, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, Klara Sinta, Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, Rachel Saraswati, Isaias Sadewa, dan Maryam Supraba.
Rendra adalah seorang Kristen yang kemudian menjadi muallaf untuk memeluk agama islam ketika ia menikahi istrinya yang kedua. Kabarnya, inisial W.S berubah menjadi Wahyu Sulaiman, setelah Rendra menjadi seorang muslim.
Siapa itu W.S Rendra?
W.S Rendra adalah seorang penyair besar, aktor panggung, sutradara teater, penulis esai, penulis naskah lakon, cerpenis andal dan produktif di era 1950-1960-an, serta budayawan. Ia dikenal garang dan lantang menentang keadilan dan sering kali mengadakan gerakan-gerakan penyadaran kebudayaan seperti perkeahan kaum urakan di Parangtritis Yogyakarta sekitar tahun 1975.
Perjalanan Hidup W.S Rendra
Pada waktu memasuki sekolah TK ayahnya ingin memasukkan Rendra ke sekolah Belanda (TK di Susteran Fransiskan) tetapi eyangnya Sosrowinoto tidak setuju, ia menginginkan cucunya masuk ke sekolah Kasatrian (sekolah kaum ningrat di Solo atau Yogya). Akhirnya Rendra masuk TK Marsudirini milik yayasan Kartinisius yang dikelola oleh Suster Fransiskan dari Misi Katolik Belanda. Rendra merasa beruntung dididik di sekolah Barat modern yang progresif dibanding dengan sekolah-sekolah di Eropa lainnya dan Amerika pada waktu itu. Dari TK sampai SMA, Rendra ditempa untuk mengungkapkan diri dengan bebas, jelas dan teratur, serta dilatih untuk menganalisis secara ilmiah dengan keras dan tuntas. Sejak kecil Rendra sudah diajarkan olah kesadaran pancaindra, kesadaran pikiran, dan kesadaran naluri oleh kerabatnya, mas Janadi.
Sejak kecil jiwa seni Rendra sudah ada, yang menginginkan kebebasan. Ketika usianya lima tahun terjadi konflik pertama ia dengan ayahnya, sebagai anak kecil selalu bicara dengan jujur dan ayahnya menganggap bohong serta mengatakan suka berkhayal.
Waktu mengetahui anaknya mau menjadi penyair, ayahnya tidak percaya. Karena baginya, hanya dengan menjadi penyair orang tidak bisa hidup dan mencari nafkah. Sehingga pertentangan ini mengakibatkan perang dingin di antara Rendra dengan ayahnya. Dan mereka rukun kembali ketika Rendra pamit untuk meneruskan sekolahnya ke Yogyakarta. Di sana ia menemukan ayah-ayah baru: P.K Ojong, Soedjatmoko dan lain-lain, yang kemudian membina Rendra.
Dalam sajak-sajak baladanya Atmo Karpo, Lelaki Tanah Kapur, Gerilya, Lelaki yang Luka, ia menuliskan bahwa perlakuan dan tekanan dari ayahnya adalah pengalaman terpahit yang membuatnya selalu ingin melawan dan memberontak pada dunia. Karya-karya Rendra dianggap mewakili hati nurani kaum yang tertindas. Pikiran dan ucapannya simbol perjuangan demokrasi yang menuntut terselenggaranya “daulat rakyat” dan bukan “daulat tuanku”.
Rendra dididik dalam tradisi katolik sejak Taman Kanak-Kanak Susteran, lalu berlanjut ke SD, SMP dan SMA Bruderan tamat pada tahun 1955. Waktu di SMA, ia menerbitkan majalah drama sebanyak 500 eksemplar. Ia pernah kuliah di jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada tetapi tidak tamat, karena kecewa dengan sistem kuliah di fakultasnya itu yang banyak disuruh menghafal. Ia hanya disuruh mengerti kesimpulan tanpa diajarkan prosesnya. Akhirnya ia bosan dan tidak mempedulikan ijazahnya. Kemudian ia memperdalam pengetahuan di American Academy of Dramatical Arts, AS (1964-1967). Dan sepulang dari Amerika Serikat membentuk Teater di Yogyakarta (Bengkel Teater Yogya) yang sekaligus menjadi pemimpinnya.
Sebetulnya Rendra tidak suka teater. Waktu kecil senang nonton wayang. Pertama kali melihat sandiwara, merasa asyik juga, karena bisa mengidentifikasikan mereka yang main dengan wayang.
Sekitar tahun 1955 di Yogya bermunculan teater modern dari Kirjomulyo, Imam Sutrisno, Teater Gadjah Mada, Umar Kayam, Subagio Sastrowadoyo dan Purbatin Hadi. Kemudian Rendra diajak Umar Kayam main teater, tetapi malu. Karena ada beberapa hal yang menurutnya tidak mengenakkan, dimake up dan menjadi orang lain, persiapan di belakang layar dan lalu layar dibuka kembali, tetapi akhirnya Rendra Main juga. Itulah pertama kalinya Rendra bermain drama.
Kemudian setelah itu Rendra diajak kembali untuk bermain teater dan ia mau dengan motivasi pacaran. Lalu Jim Adi Limas memberi dorongan bahwa teater itu serius. Pernah suatu ketika Rendra membantah teater yang disutradarai Subagio Sastrowardoyo sampai ia merasa kesal. Rendra sampai ditantang untuk menjadi sutradara dan akhirnya sejak saat itu ia sering menyutradarai pementasan.
Setelah larangan dari rezim orde baru longgar, bersama dengan aktifnya kembali Rendra, bengkel teater ikut bangkit. Yang sebelumnya sering disebut Bengkel Teater Yogya maka mulai di Depok itu namanya menjadi Bengkel Teater Rendra.
Sejak 1987, Bengkel Teater Rendra berpindah ke Desa Cipayung Jaya, Depok, dan tempat seluas 3 hektare lebih ini dikenal sebagai Kampus Bengkel Teater Rendra. Dari kampus ini lahir karya drama Selamatan Anak-Cucu Sulaiman dan dipentaskan di New York, Jepang dan Korea Selatan. Di Kampus ini pula Rendra menyediakan areal untuk pemakaman. Sudah Sembilan seniman dan tokoh pergerakan Indonesia dimakamkan di situ. Areal pemakaman yang dipilihnya itu yang akhirnya menjadi tempat peristirahatan abadi W.S Rendra.
Beberapa karya dan kegiatan Rendra
1.Kumpulan puisi: Ballada orang-orang Tercinta (1957), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972), Nyanyian Orang Urakan (1985), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapa (1997).
2.Drama: Dataran Lembah Neraka (1952), Orang-Orang di Tikungan Jalan(1954), Selamatan Anak-Cucu Soleman (1957), Mastodon & Burung Kondor (1972), Kisah Perjuangan Suku Naga (1975), Sekda (1977), Panembahan Reso (1986), Tuyul Anakku (2000).
3.Kumpulan Cerita Pendek: Ia Sudah Berpetualang (1963).
4.Kumpulan Esai: Mempertimbangkan Tradisi (1983), Penyair & Kritik Sosial (2001), Tentang Bermain Drama (1986), Mengataruh (2001).
5.Produksi Teater: Suara-Suara Mati, Kereta Kencana, Paraguay Tercinta, Oidipus Sang Raja, Menunggu Godot, Kasidah Barzanji, Hamlet, Macbeth, Pangeran Hamburg, Mastodon & Burung Kondor, Antigone, Oidipus di Kolonus, Lisistrata, Perjuangan Suku Naga, Egmont, Perampok, Sekda, Panembahan Reso, Buku Harian seorang Pencopet, Paraguay Tercinta.
6.Penghargaan: Kementerian P dan K, Yogyakarta (1954), BMKN (1957), Menteri P & K: Anugerah Seni (1970), Akademi Jakarta (1975), Adam Malik Award (1989), Wertheim Award (1989), Hendar Fahmi Ananda Award - Lombok (1993), SEA Write Award (1996), Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa (1996), Kaj Tyl - Kedutaan Besar Ceko (1997).
