Konten dari Pengguna

DSSA, Merger, dan Akuisisi: Satu Arah, Dua Strategi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Eka Mufareza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi gambar dibuat menggunakan AI (2026)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi gambar dibuat menggunakan AI (2026)

Ketika mendengar istilah merger dan akuisisi, yang sering terlintas banyak orang mungkin hanyalah perusahaan besar yang bersatu dan menggabungkan atau membeli perusahaan lainnya. Sebenarnya, di balik keputusan itu biasanya ada strategi jangka panjang yang sudah direncanakan dan dipikirkan matang-matang.

Saya berpikir bahwa merger dan akuisisi bukan sekadar cara untuk memperbesar perusahaan. Yang lebih penting justru apa yang ingin dicapai setelah perusahaan itu tergabung atau diakuisisi.

Hal ini menarik untuk dilihat dari langkah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) pada tahun 2026. Perusahaan ini melaksanakan dua tindakan korporasi sekaligus, yaitu merger dan akuisisi, keduanya bertujuan untuk memperkuat bisnis di sektor digital dan teknologi.

Uniknya, DSSA tidak memakai merger dan akuisisi untuk tujuan yang sama. Keduanya justru digunakan untuk keperluan yang berbeda, tetapi tetap berada dalam arah strategi bisnis yang sama.

Merger Bukan Hanya Menggabungkan Dua Perusahaan

Salah satu langkah DSSA adalah merger antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dan PT Ekamas Republik (MyRepublic). Merger tersebut mulai berlaku 22 April 2026 dan menghasilkan perusahaan baru bernama PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic). Setelah merger, DSSA memegang 50,5% saham secara efektif.

Kalau dilihat sekilas, merger ini tampak seperti gabungan dua perusahaan telekomunikasi. Tetapi menurut saya, ada hal yang lebih menarik di baliknya.

MORA dan MyRepublic mempunyai keunggulan masing-masing. MORA memiliki jaringan fiber optic backbone, sedangkan MyRepublic memiliki jaringan yang menghubungkan langsung ke rumah pelanggan lewat layanan internet. Kalau dua kekuatan itu digabung, peluang muncul untuk membuat bisnis yang lebih terintegrasi.

Disinilah alasan mengapa merger masuk akal.

Jika dua perusahaan menjalankan jaringan dan bisnis secara terpisah, penggabungan akan menghubungkan sumber daya yang ada. DSSA menyebut merger ini sebagai langkah membangun ekosistem infrastruktur digital dan teknologi.

Jadi, saya melihat merger ini bukan hanya sebagai cara atau usaha memperbesar perusahaan. Lebih dari itu, DSSA tampaknya berusaha menggabungkan beberapa unit bisnis supaya mereka dapat beroperasi lebih efektif dalam satu ekosistem.

Lalu, Mengapa Masih Melakukan Akuisisi?

Yang membuat kasus DSSA semakin menarik adalah setelah melakukan merger, perusahaan juga melakukan akuisisi.

Pada 29 Juni 2026, DSSA mengambil alih sekitar 11,19 miliar saham PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) dengan nilai sekitar Rp4 triliun. BMT sendiri memegang sekitar 24,57% saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Saya rasa keputusan ini memperlihatkan bahwa DSSA tidak hanya memperkuat bisnis yang ada, tetapi juga mencari posisi baru yang bisa mendukung pertumbuhan perusahaan.

Kalau merger MORA dan MyRepublic lebih menekankan pada penggabungan kekuatan, akuisisi BMT lebih ke cara untuk mendapatkan akses ke posisi strategis yang sudah ada. DSSA tidak harus memulai bisnis telekomunikasi dari nol. Dengan BMT, perusahaan dapat mengakses kepemilikan di EXCL secara tidak langsung.

Saya melihat akuisisi seperti ini sebagai salah satu alasan utama mengapa perusahaan memilih akuisisi. Membangun bisnis baru memakan waktu yang lama dan proses yang panjang. Sementara lewat akuisisi, perusahaan bisa masuk lebih cepat atau memperkuat posisi di bidang tertentu.

Dua Strategi, Satu Arah

Kalau dilihat, merger dan akuisisi yang dilakukan DSSA memang dua langkah yang saling melengkapi. Merger MORA dan MyRepublic digunakan untuk menggabungkan bisnis dan menciptakan sinergi. Sedangkan akuisisi BMT dipakai untuk memperluas posisi DSSA dalam ekosistem telekomunikasi.

Menurut saya, justru kombinasi inilah yang bikin strategi DSSA menjadi menarik.

Perusahaan tidak memandang hanya dari satu cara untuk berkembang saja. Ketika ada bisnis yang bisa saling melengkapi, mereka akan memakai merger. Ketika ada peluang untuk dapat posisi strategis lewat perusahaan lain, mereka akan memakai akuisisi. Jadi, merger dan akuisisi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai tujuan bisnis yang lebih besar.

Tapi, Apakah Akuisisi Pasti Menguntungkan?

Di bagian ini saya rasa perusahaan harus sangat hati-hati..

Akuisisi yang bernilai triliunan rupiah tentu bukan keputusan kecil. Setelah perusahaan berhasil mengambil alih perusahaan lain, pekerjaan sebenarnya justru baru dimulai.

Pada 6 Juli 2026, DSSA melalui anak perusahaannya, PT DSST Mas Gemilang, menambah modal sekitar Rp8,54 triliun ke BMT. Langkah ini menunjukkan bahwa setelah proses akuisisi, perusahaan masih perlu memperkuat permodalan dan mengembangkan bisnis perusahaan yang diakuisisi agar dapat memberikan nilai tambah bagi DSSA.

Bagi saya, hal ini menjadi pengingat bahwa akuisisi tidak bisa dinilai hanya dari “berhasil membeli perusahaan atau tidak”.

Perusahaan harus bisa menjawab pertanyaan yang lebih penting, setelah dibeli, apa yang bisa dihasilkan?

Kalau aset, jaringan, teknologi, dan sumber daya yang diperoleh bisa menciptakan sinergi, maka akuisisi tersebut berpotensi memberikan nilai tambah. Tetapi bila tidak dikelola dengan baik, biaya yang dikeluarkan justru bisa menjadi beban.

Hal yang sama juga berlaku pada merger. Menggabungkan dua perusahaan tidak otomatis membuat perusahaan menjadi lebih efisien. Ada sistem yang harus disatukan, karyawan harus beradaptasi, dan budaya kerja yang mungkin berbeda.

Melihat langkah DSSA secara keseluruhan, saya melihat perusahaan sedang mencoba membangun posisi yang lebih kuat di bidang digital dan teknologi.

Merger MORA dan MyRepublic dapat memperkuat jaringan dan layanan yang sudah ada. Sementara akuisisi BMT memberi akses ke posisi strategis di sektor telekomunikasi.

Keberhasilan strategi ini tidak dapat diukur hanya dari besarnya transaksi. Hasil sebenarnya muncul ketika DSSA mengelola dan mengembangkan bisnis tersebut setelah merger dan akuisisi dilakukan.

Bagi saya, inilah bagian paling menarik dari kasus DSSA. Merger dan akuisisi ternyata bukan hanya sekadar soal siapa yang bergabung atau siapa yang membeli siapa. Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan memanfaatkan hasil dari transaksi tersebut untuk membangun bisnis yang lebih kuat.

Jika sinergi yang direncanakan benar-benar berjalan, merger dan akuisisi bisa menjadi jalan untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan. Tetapi kalau hanya dilakukan karena ingin terlihat semakin besar, hasilnya belum tentu sesuai harapan.

Pada akhirnya, strategi merger dan akuisisi yang baik bukan soal seberapa banyak perusahaan yang bisa dimiliki, melainkan seberapa besar nilai yang bisa diciptakan setelah perusahaan-perusahaan tersebut bergabung menjadi bagian dari satu strategi yang sama.