Konten dari Pengguna

Evaluasi Sistem Kesehatan: Mengapa Kita Tak Boleh Membiarkan Perawat Kelelahan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabilah noor Krisnayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber ilustrasi: freepik
zoom-in-whitePerbesar
sumber ilustrasi: freepik

Pahlawan tidak selalu memakai jubah. Di lorong-lorong rumah sakit, mereka memakai seragam putih dan masker, bersiaga 24 jam tanpa jeda. Namun, apa jadinya jika sang penyelamat nyawa justru sedang berada di ambang kehancuran? Narasi pengabdian heroik perawat kini sedang diuji oleh realitas beban kerja yang tak lagi manusiawi.

Menurut Sigalingging dkk. (2025), beban kerja perawat di Indonesia saat ini telah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Kondisi ini bukan sekadar soal banyaknya pasien, melainkan akumulasi persoalan sistemik. Perawat tidak lagi hanya fokus pada pemulihan klinis, tetapi terpaksa membagi konsentrasi menjadi "manajer administrasi" yang mengurus dokumentasi rumit serta koordinator lintas profesi. Multiperan yang menguras energi ini, jika tidak segera dibenahi, akan mengancam efektivitas pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Kenyataan di lapangan sering kali melampaui batas wajar. Handayani dan Hotmaria (2021) mengungkapkan bahwa beban kerja berlebih ini memicu kelelahan fisik dan mental yang merusak kesejahteraan pribadi perawat. Dampaknya tidak berhenti di sana; stabilitas psikologis yang terganggu berisiko menurunkan mutu pelayanan kepada pasien.

Lebih mengkhawatirkan lagi, Sholikhah dkk. (2021) menemukan hubungan signifikan antara beban kerja dengan peningkatan stres kronis. Fenomena burnout atau kelelahan emosional ini sering mencapai titik tertinggi saat perawat harus menghadapi shift panjang di tengah situasi darurat yang tak terduga. Perawat yang mengalami burnout kehilangan motivasi, yang pada akhirnya secara sistemik menurunkan standar keselamatan bagi masyarakat luas.

Di tengah risiko tinggi dan tanggung jawab hidup-mati, isu pendapatan menjadi duri dalam daging. Anggriyani (2023) menekankan bahwa ada hubungan kuat antara beban kerja, tingkat pendapatan, dan kepuasan kerja. Ketika dedikasi besar tidak diimbangi kompensasi finansial yang adil, muncul perasaan kurang dihargai secara profesional. Hal ini menandakan adanya masalah struktural mendasar dalam sistem kesehatan kita.

Senada dengan hal tersebut, Istiqamah (2025) menekankan bahwa kunci utama layanan kesehatan optimal adalah keseimbangan antara beban kerja, jumlah tenaga kerja, dan sistem penghargaan yang adil. Tanpa keseimbangan ini, kita hanya sedang menunggu waktu hingga sistem ini tumbang.

Minimnya apresiasi, baik finansial maupun dukungan moral, menjadi pemicu utama rapuhnya kondisi psikologis tenaga medis. Syafira dkk. (2024) mempertegas bahwa sistem penghargaan yang tidak adil adalah ancaman serius bagi kesehatan mental perawat. Perawat yang kelelahan dan merasa tak dihargai berpotensi mengalami penurunan konsentrasi yang berujung pada kelalaian medis atau penundaan penanganan kritis.

Pada akhirnya, isu ini bukan sekadar soal tuntutan kenaikan gaji. Ini tentang keadilan dan martabat sebuah profesi yang menjadi pilar utama layanan medis. Pemerintah dan pembuat kebijakan harus segera mengevaluasi sistem pengupahan dan rasio beban kerja. Menjamin kesejahteraan perawat bukan hanya tentang membela hak mereka, tetapi tentang memastikan bahwa saat kita menjadi pasien, kita dirawat oleh tangan-tangan yang sehat, fokus, dan dihargai.