Kenapa Otak Kita Kecanduan Berita Buruk di Medsos? Fenomena Doomscrolling Gen Z

Mahasiswa prodi Kimia angkatan 2026 Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nabilah Zenobia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu berniat untuk tidur jam 10 malam, lalu membuka media sosial sebentar, dan tahu-tahu jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi? Anehnya, konten yang dikonsumsi selama berjam-jam itu bukanlah konten hiburan yang lucu atau bikin senang, melainkan deretan berita buruk, drama netizen, hingga unggahan kecemasan orang lain yang justru bikin overthinking.
Jika pernah, selamat datang di klub doomscrolling.
Apa Itu Doomscrolling?
Istilah doomscrolling yang sering disebut oleh kalangan Gen Z ini berasal dari gabungan dua kata bahasa Inggris: doom, yang berarti malapetaka, dan scrolling, yang berarti kegiatan menggeser layar. Jadi, secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan seseorang yang terus-menerus menggeser (scroll) layar ponsel untuk membaca konten negatif, meskipun sadar bahwa konten tersebut membuat dirinya merasa cemas, sedih, kesal, dan lelah secara emosional.
Kenapa Otak Kita “Kecanduan” Informasi Buruk?
Secara logis, manusia tentunya ingin merasa bahagia dan senang. Lalu, mengapa otak kita justru seperti menjerumuskan kita ke dalam hal-hal yang membuat kita tertekan dan negatif?
Sadar atau tidak, tetapi manusia memang punya kecenderungan aneh untuk lebih memikirkan satu kritik kecil dibandingkan puluhan pujian yang diterima. Secara psikologis, itu merupakan sifat alami yang disebut negativity bias, yaitu kecenderungan alami otak untuk memberi perhatian lebih pada hal-hal negatif ketimbang yang positif, meskipun porsi atau intensitasnya sama. Pada zaman nenek moyang, mekanisme ini berfungsi untuk pertahanan diri agar manusia selalu waspada terhadap bahaya di sekitar.
Di era modern seperti sekarang ini, mekanisme pertahanan ini dimanfaatkan secara sempurna oleh algoritma media sosial. Konten yang memancing emosi kuat, seperti perasaan marah, takut, atau cemas, terbukti menghasilkan engagement paling tinggi di media sosial. Di mata algoritma medsos, konten yang bikin orang betah membaca komentar atau menonton sampai habis itu adalah konten yang efektif, jadi sistem bakal menyimpulkan bahwa pengguna ini “minat” pada topik seperti ini. Jadi, semakin lama kita bertengger di postingan yang meresahkan, semakin banyak pula konten sejenis yang akan disodorkan ke beranda kita.
Orang-orang yang terjerumus ke dalam doomscrolling memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi terhadap berita buruk yang mereka baca. Mereka sering kali me-refresh beranda medsos dengan harapan bahwa mereka akan mendapat informasi baru yang melegakan atau mungkin malah memburuk. Mereka tidak ingin ketinggalan berita yang mereka rasa sudah mereka kuasai, jadi semakin jauh kita terjerumus dalam doomscrolling, semakin kita merasa bahwa kita harus menjadi seseorang yang tahu segala permasalahan sekecil apa pun dalam kabar tersebut.
Dampak Doomscrolling yang Sering Tidak Disadari
Doomscrolling yang dilakukan setiap hari perlahan memicu beberapa dampak pada kesehatan emosional kita:
• Kelelahan Empati (Empathy Fatigue): Terus-menerus melihat konflik atau kabar yang mengkhawatirkan membuat otak mengalami kejenuhan secara emosional. Lama-kelamaan kita menjadi apatis terhadap lingkungan sekitar.
• Kecemasan Tanpa Sebab: paparan informasi negatif yang intens membangun persepsi bahwa dunia luar penuh dengan bahaya, yang pada akhirnya memicu perasaan cemas secara terus-menerus.
• Kualitas Tidur Rusak: Paparan blue light pada layar ponsel ditambah lonjakan hormon kortisol (hormon stres) saat membaca konten berat di malam hari menjadi kombinasi sempurna yang membuat otak sulit beristirahat, sehingga kita semakin terjerumus ke dalam doomscrolling.
Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling?
Ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia itu memang penting, tapi kalau kita sampai mengorbankan waktu tidur demi membaca drama medsos yang berisi ujaran kebencian dan hal buruk lainnya, rasanya ada yang salah dengan cara kita mengonsumsi media. Maka dari itu, kita harus memahami batasan dalam bermedia sosial.
Langkah terpenting yang dapat dilakukan untuk memutus rantai doomscrolling adalah dengan menyadari batasan diri. Bisa dimulai dari memasang batas waktu aplikasi (screen time limit), menjauhkan ponsel saat berniat tidur, mengganti kebiasaan scrolling sebelum tidur dengan membaca buku ringan atau hal positif lainnya, hingga sesekali melakukan digital detox di akhir pekan.
Media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperluas wawasan dan mencari hiburan, bukan tempat untuk menyiksa mental diri setiap malam. Jangan sampai fungsinya berbalik menjadi tempat yang menyiksa pikiran kita sendiri.
