Saat HP dan Kuota Diam-Diam Jadi Bagian dari Biaya Sekolah

mahasiswa, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, ketika membicarakan biaya sekolah, yang biasanya terlintas adalah seragam, buku, alat tulis, uang transportasi, dan kebutuhan sekolah lainnya. Namun, kebutuhan pendidikan saat ini mulai berubah. Di tengah semakin berkembangnya penggunaan teknologi dalam pembelajaran, HP dan kuota internet perlahan menjadi bagian dari kebutuhan siswa untuk mengikuti kegiatan sekolah. Masalahnya, kebutuhan tersebut sering kali tidak dianggap sebagai bagian dari biaya pendidikan. Sekarang, banyak aktivitas sekolah yang tidak bisa lepas dari internet. Guru dapat membagikan materi melalui grup WhatsApp, memberikan tugas melalui platform digital, meminta siswa mencari informasi dari internet, atau menggunakan video dan berbagai sumber digital sebagai bahan pembelajaran. Hal ini memang membuat proses belajar menjadi lebih mudah dan fleksibel. Siswa juga memiliki akses terhadap sumber belajar yang jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan biaya. Untuk mengikuti pembelajaran dan mengerjakan tugas, siswa membutuhkan perangkat yang memadai serta koneksi internet. Bagi keluarga yang sudah memiliki HP, laptop, dan Wi-Fi di rumah, kebutuhan tersebut mungkin tidak terlalu terasa. Berbeda dengan keluarga yang harus membeli kuota secara rutin atau bahkan harus berbagi satu perangkat dengan beberapa anggota keluarga. Di sinilah persoalan ekonomi pendidikan mulai terlihat. Pendidikan yang semakin digital memang dapat membuka lebih banyak kesempatan belajar, tetapi akses terhadap teknologi tidak selalu dimiliki semua siswa dalam kondisi yang sama. Ada siswa yang bisa dengan mudah mengikuti pembelajaran melalui laptop dan internet rumah. Di sisi lain, ada siswa yang harus menunggu orang tua pulang untuk meminjam HP, menghemat kuota agar cukup sampai akhir bulan, atau mencari tempat dengan akses Wi-Fi ketika mendapat tugas yang membutuhkan internet. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa biaya pendidikan pada era sekarang tidak hanya berbentuk pembayaran langsung kepada sekolah. Ada juga biaya tidak langsung yang muncul dari kebutuhan untuk mengikuti proses pembelajaran. Kuota internet, perangkat elektronik, biaya perbaikan HP atau laptop, hingga akses Wi-Fi menjadi pengeluaran tambahan yang mungkin tidak terlihat ketika orang berbicara tentang biaya sekolah. Persoalannya bukan berarti penggunaan teknologi dalam pendidikan harus dihentikan. Justru teknologi dapat memberikan banyak manfaat jika digunakan dengan tepat. Siswa dapat memperoleh materi dari berbagai sumber, mengembangkan keterampilan digital, dan belajar dengan cara yang lebih beragam. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai perkembangan teknologi justru membuat kesempatan belajar siswa semakin bergantung pada kemampuan ekonomi keluarganya. Sekolah dan pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan digitalisasi pendidikan tidak hanya dinikmati oleh siswa yang memiliki fasilitas lengkap. Ketika teknologi menjadi bagian dari proses pembelajaran, akses terhadap perangkat dan internet juga perlu dipandang sebagai bagian dari persoalan pemerataan pendidikan. Program bantuan perangkat, penyediaan akses internet, fasilitas komputer sekolah, atau ruang belajar dengan internet dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kesenjangan tersebut. Pada akhirnya, persoalan HP dan kuota bukan sekadar persoalan teknologi. Di baliknya ada persoalan ekonomi pendidikan yang cukup nyata. Ketika siswa diwajibkan mengikuti pembelajaran yang membutuhkan internet, kemampuan keluarga dalam menyediakan fasilitas tersebut secara tidak langsung ikut menentukan kemudahan siswa dalam belajar. Pendidikan memang sedang bergerak menuju era yang semakin digital. Namun, kemajuan pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak teknologi yang digunakan di ruang kelas. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan teknologi tersebut. Sebab, jangan sampai sekolah terlihat semakin modern, tetapi masih ada siswa yang harus memilih antara membeli kuota untuk belajar atau menggunakan uangnya untuk kebutuhan lainnya.
