Konten dari Pengguna

Pesan 'Kotak Sendiri' Menkeu Itu Benar, tapi Sekat Tak Hilang karena Pidato

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nabilah tri arisanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menkeu Suahasil Nazara melantik lima pejabat eselon I Kemenkeu. Dok. menkeuri
zoom-in-whitePerbesar
Menkeu Suahasil Nazara melantik lima pejabat eselon I Kemenkeu. Dok. menkeuri

Bayangkan bagan organisasi Kementerian Keuangan: deretan kotak, satu kotak untuk setiap unit eselon I, masing-masing dengan garis wewenang dan tanggung jawabnya. Pada Jumat (23/10/2026), Menteri Keuangan Suahasil Nazara melantik lima pejabat eselon I: Astera Primanto Bhakti sebagai Sekretaris Jenderal, Tri Budhianto sebagai Direktur Jenderal Perbendaharaan, Nufransa Wira Sakti sebagai Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan, serta Neilmaldrin Noor dan Hidayat Amir sebagai staf ahli menteri. Dalam sambutannya, Menkeu menyampaikan pesan yang bagi saya menarik: tidak ada tanggung jawab Kemenkeu yang bisa dikerjakan hanya oleh "kotak yang Anda isi sendiri".

Kenapa Pesan Itu Benar

Saya setuju dengan pesan itu. Pengelolaan keuangan negara adalah rangkaian yang saling bergantung: kebijakan penerimaan memengaruhi ruang belanja, belanja memengaruhi kebutuhan pembiayaan, dan pencairan anggaran ke daerah bergantung pada kebijakan transfer. Satu unit yang bekerja seolah berdiri sendiri akan menghasilkan kebijakan yang tidak nyambung dengan unit lain.

Menkeu juga menilai para pejabat baru punya rekam jejak panjang berpindah antarunit, dan menyebut itu modal yang baik. Menurut saya, penilaian ini masuk akal. Orang yang pernah bekerja di beberapa unit biasanya lebih paham bahwa keputusan di satu tempat punya konsekuensi di tempat lain.

Tapi Pidato Tidak Meruntuhkan Sekat

Meski begitu, saya kira sekat birokrasi jarang hilang hanya karena atasan mengimbau. Ini pengamatan umum tentang organisasi besar, bukan penilaian atas kondisi internal Kemenkeu yang tidak saya ketahui secara langsung. Sekat biasanya bertahan karena hal-hal yang sangat praktis: target kinerja yang dinilai per unit, anggaran yang dikelola per unit, data yang disimpan per unit, dan kebiasaan bahwa penghargaan datang untuk capaian unit sendiri.

Kalau struktur insentifnya tetap sama, pejabat yang paling niat berkolaborasi pun akan terdesak oleh target unitnya masing-masing. Imbauan "bekerja bersama" mudah diucapkan, tetapi baru berarti jika ada mekanisme yang membuat kerja bersama menjadi cara termudah, bukan pilihan tambahan.

Konteks yang Perlu Dicatat

Ada satu hal lagi yang menurut saya perlu diperhatikan. Sejak dilantik pada 14 September 2026, Suahasil sudah dua kali merombak jajaran pejabat Kemenkeu, yaitu pada 21 September dan 23 Oktober. Sebelumnya juga ada polemik rotasi sekitar 350 pejabat pajak dan bea cukai pada masa menteri sebelumnya. Penyegaran pimpinan tentu hak seorang menteri, tetapi organisasi sebesar Kemenkeu membutuhkan juga masa stabil agar pejabat baru bisa benar-benar bekerja, bukan terus beradaptasi.

Yang Sebaiknya Dilakukan

Ada tiga hal yang menurut saya dapat mengubah pesan "kotak sendiri" dari slogan menjadi praktik.

Pertama, target bersama lintas unit. Beberapa sasaran penting, misalnya optimalisasi penerimaan negara atau ketepatan penyerapan anggaran, sebaiknya dipegang bersama beberapa unit dan dinilai bersama.

Kedua, berbagi data yang terstruktur. Kolaborasi sulit berjalan kalau setiap unit menyimpan data dan analisisnya sendiri.

Ketiga, evaluasi terbuka. Dalam enam bulan atau setahun, Kemenkeu bisa menyampaikan secara ringkas kepada publik apa saja hasil kerja lintas unit yang sudah dicapai.

Dari Kotak Menjadi Jembatan

Saya menghargai pesan Menkeu, dan saya kira arah yang ia tunjuk sudah tepat. Ujiannya bukan pada lima pejabat yang dilantik hari itu, melainkan pada apakah garis-garis di antara kotak-kotak itu benar-benar berfungsi sebagai jembatan. Jika setahun lagi kita bisa melihat kebijakan Kemenkeu yang terasa lebih terpadu, di situlah pesan itu terbukti, bukan di ruang pelantikan.

Penulis: Nabilah Tri Arisanti. Mahasiswi Universitas Pamulang