Transjakarta Mau Terbang, Tapi Apa Kita Sudah Siap di Darat?

aku anak bungsu dari 3 bersaudara dan kegiatanku saat ini hanya jadi kupu kupu alias kuliah pulang - kuliah pulang. btw aku mahasiswi manajemen dari universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari nabilah tri arisanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya hampir tidak percaya saat membaca pengumuman Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung soal rencana Transjakarta merambah bisnis transportasi laut hingga udara. Bukan karena idenya buruk, tapi karena saya langsung teringat betapa masih banyak "PR" Transjakarta yang belum tuntas di darat tempat jutaan warga Jakarta bergantung setiap hari.
Ambisi yang Terdengar Jauh ke Depan
Dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta, Pramono mengusulkan kenaikan modal dasar PT Transportasi Jakarta dari Rp5,2 triliun menjadi Rp13,4 triliun, sekaligus memperluas ruang lingkup usahanya ke sektor laut dan udara. Alasannya pun masuk akal secara jangka panjang: "Jangan sampai nanti ketika sudah menjadi kebutuhan, baru perizinannya diurus."
Saya sebenarnya setuju dengan filosofi ini. Perencanaan kota besar memang idealnya berpikir satu-dua dekade ke depan, bukan sekadar reaktif terhadap masalah hari ini. Transjakarta sebagai entitas bisnis daerah juga wajar jika ingin memperluas portofolio usahanya, apalagi disebutkan nantinya bisa menjangkau skala nasional bahkan internasional.
Tapi, Siapa yang Masih Berdiri di Halte Setiap Pagi?
Namun di titik inilah saya merasa ada yang timpang. Sebagai warga yang (atau bagi siapa pun yang) masih mengandalkan Transjakarta sebagai moda transportasi harian, pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya bukan "kapan kita punya transportasi udara", melainkan "kapan headway bus di jam sibuk tidak lagi 15-20 menit", atau "kapan semua halte benar-benar ramah untuk difabel dan lansia".
Ekspansi ke sektor laut untuk melayani Kepulauan Seribu, saya kira, masih punya urgensi yang jelas itu wilayah administratif Jakarta yang memang kerap tertinggal dari sisi konektivitas. Tapi soal transportasi udara, Pramono sendiri mengaku belum merinci bentuk layanannya seperti apa. Ini yang membuat saya menduga, boleh jadi ini lebih merupakan langkah "jaga-jaga" administratif ketimbang kebutuhan mendesak.
Antara Visi Jangka Panjang dan Prioritas Hari Ini
Saya tidak menolak gagasan besar soal transportasi terintegrasi darat-laut-udara untuk Jakarta. Tapi ambisi semacam ini, menurut saya, semestinya berjalan beriringan bukan mengambil alih perhatian dari pembenahan yang jauh lebih fundamental: keandalan bus di jalur yang sudah ada, integrasi antarmoda yang mulus, serta tarif yang tetap terjangkau di tengah rencana kenaikan modal dasar yang nilainya nyaris tiga kali lipat.
Ada semacam pola yang sering saya amati di banyak kota besar: proyek ambisius dan futuristik kerap lebih mudah menarik perhatian publik serta anggaran dibanding urusan "membosankan" macam perawatan armada, kualitas halte, atau kedisiplinan jadwal. Padahal yang terakhir inilah yang benar-benar dirasakan jutaan warga setiap hari.
Jadi sebelum Transjakarta benar-benar "terbang", saya kira ada baiknya Pemprov DKI juga meyakinkan publik bahwa urusan di darat sudah benar-benar beres. Toh, kepercayaan warga terhadap sebuah entitas transportasi publik dibangun bukan dari seberapa luas cakupan bisnisnya, melainkan dari seberapa bisa diandalkannya ia pada hal-hal paling sederhana: datang tepat waktu, dan mengantar penumpang dengan selamat sampai tujuan.
Penulis : Nabilah Tri Arisanti, Mahasiswi Universitas Pamulang
