Konten dari Pengguna

Usaha Kecil Perlu Paham Perilaku Biaya agar Keuangan Tidak Boncos

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nabilah tri arisanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paham Perilaku Biaya. Sumber: Pribadi 2026
zoom-in-whitePerbesar
Paham Perilaku Biaya. Sumber: Pribadi 2026

Bayangkan seorang pemilik usaha kue rumahan. Pesanan sedang ramai, dapur nyaris tak pernah berhenti, tetapi di akhir bulan uang di kas tidak bertambah sebanyak yang ia bayangkan. Kejadian seperti ini mudah dibayangkan, dan menurut kami, sering kali akar masalahnya bukan pada kurangnya penjualan. Masalahnya ada pada cara kita memahami biaya.

Karena itu kami ingin menyampaikan pandangan sederhana: usaha, sekecil apa pun, perlu memahami perilaku biaya. Dalam akuntansi manajemen, perilaku biaya adalah cara biaya berubah ketika aktivitas bisnis naik atau turun.

Tiga Jenis Biaya, Tiga Cara Bergerak

Biaya sering dianggap satu kelompok besar bernama "pengeluaran". Padahal biaya bergerak dengan cara yang berbeda.

Pertama, biaya tetap. Totalnya relatif sama meskipun jumlah produksi berubah, selama masih dalam rentang aktivitas tertentu. Contohnya sewa tempat. Kalau sewa Rp5.000.000 per bulan, angkanya sama baik kita memproduksi sedikit maupun banyak. Namun biaya tetap per unit akan mengecil ketika produksi bertambah, karena beban yang sama dibagi ke lebih banyak produk.

Kedua, biaya variabel. Totalnya naik atau turun sebanding dengan volume produksi, sedangkan biaya per unitnya relatif tetap. Kalau satu produk butuh bahan baku Rp10.000, maka 100 unit membutuhkan Rp1.000.000 dan 200 unit membutuhkan Rp2.000.000, dengan asumsi harga bahan baku tidak berubah.

Ketiga, biaya campuran. Ia punya unsur tetap dan unsur variabel sekaligus. Tagihan listrik adalah contoh yang paling dekat: ada beban minimum yang harus dibayar, ditambah biaya pemakaian yang naik ketika kita lebih banyak berproduksi.

Kenapa Ini Penting untuk Harga dan Untung

Menurut kami, manfaat terbesar dari memahami ketiganya ada pada keputusan harga. Misalkan, sebagai ilustrasi, sebuah produk dijual Rp15.000 dengan biaya variabel Rp10.000 per unit. Selisihnya Rp5.000 per unit inilah yang tersedia untuk menutup biaya tetap. Dengan sewa Rp5.000.000 per bulan, usaha itu baru benar-benar mulai untung setelah menjual lebih dari 1.000 unit.

Contoh ini sengaja dibuat sederhana, tetapi pelajarannya nyata. Tanpa tahu mana biaya yang tetap dan mana yang variabel, pemilik usaha bisa terjebak dalam dua kesalahan. Pertama, memberi diskon terlalu dalam sampai harga jual mendekati biaya variabel, sehingga setiap penjualan tambahan nyaris tidak membantu menutup biaya tetap. Kedua, merasa aman karena penjualan ramai, padahal belum melewati titik yang menutup seluruh biaya.

Biaya Campuran dan Cara Memisahkannya

Biaya campuran paling merepotkan karena harus dipisahkan agar perencanaan anggaran akurat. Akuntansi manajemen menyediakan tiga metode untuk itu: metode titik tertinggi dan terendah (high-low), metode titik sebaran (scattergraph), dan metode kuadrat terkecil atau regresi.

Kami kira usaha kecil tidak perlu langsung memakai yang paling rumit. Metode high-low relatif sederhana karena hanya memakai data aktivitas dan biaya pada titik tertinggi dan terendah. Metode kuadrat terkecil lebih cermat, tetapi membutuhkan data yang lebih banyak. Yang penting adalah memulai dengan mencatat biaya secara rutin, karena semua metode itu bergantung pada data.

Yang Bisa Dilakukan Mulai Bulan Ini

Ada empat langkah yang menurut kami bisa langsung dicoba.

Pertama, kelompokkan pengeluaran ke dalam tiga jenis: tetap, variabel, dan campuran. Kedua, hitung biaya variabel per unit sebelum menentukan atau menurunkan harga jual. Ketiga, hitung berapa unit yang harus terjual untuk menutup biaya tetap. Keempat, tinjau biaya campuran setiap bulan untuk melihat bagian mana yang ikut naik ketika produksi naik.

Bukan Hanya Urusan Perusahaan Besar

Pembahasan perilaku biaya sering terdengar seperti materi perkuliahan untuk perusahaan besar. Kami berpendapat sebaliknya: justru usaha kecil yang paling merasakan dampaknya, karena ruang kesalahannya lebih sempit. Satu keputusan harga yang keliru bisa langsung terasa pada kas.

Memahami perilaku biaya tidak menjamin usaha selalu untung. Tetapi ia membantu kita melihat ke mana uang pergi, kapan sebuah keputusan aman, dan kapan sebaiknya berhenti. Itu modal yang sederhana, dan menurut kami, sangat layak dimiliki sebelum usaha membesar.

Disusun Oleh: Cinta Salsabila, Defa Miftahul Amalia, Nabilah Tri Arisanti

Dosen Pembimbing: DR. Rita Satria, S.E., M.M.

Prodi Manajemen, Universitas Pamulang