Jangan Menyalahartikan Open-Minded!

Pengajar dan Pembelajar
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Nabila Qurrotu Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat banyak informasi mengemuka di media sosial yang mengundang masyarakat untuk membahas informasi tersebut. Informasi yang ada dapat berupa berita, asumsi, maupun opini. Tidak semua informasi disajikan secara utuh dan sesuai fakta, terdapat sebagian informasi yang disampaikan parsial dan cenderung menyesatkan. Seringkali berita-berita dengan judul yang menggunakan strategi click-bait langsung dipercayai tanpa membaca isi berita secara utuh.
Mirisnya, masyarakat dengan sikap mudah percaya tanpa mencari tahu memberikan komentar kurang bijak di ruang komentar sehingga tak jarang memicu perdebatan di media sosial. Informasi yang membeludak seharusnya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bisa lebih bijak dalam memilah informasi, bukan terjebak dalam arus dengan pusaran besar yang berpotensi menenggelamkan diri sendiri.
Terbuka tetapi Ada Batasan
Perlu keterbukaan pikiran untuk bisa menerima informasi yang ada, bukan terbuka selebar-lebarnya, tetapi harus tetap ada batasan yang tentunya dipengaruhi kapasitas diri setiap orang, seperti halnya quotes yang terkenal dari seorang penemu berkebangsaan Amerika bernama Charles F. Kettering, yakni “where there is an open mind, there will always be a frontier” (https://www.quotes.net/quote/14780).
Keterbukaan pikiran atau yang lebih familiar dikenal dengan open-minded merupakan kata yang semakin sering didengar di kalangan masyarakat, baik secara langsung maupun di dunia maya. Fenomena saat ini menunjukkan sebagian masyarakat yang mengartikan open-minded sebagai tindakan menyetujui atau menerima mentah-mentah sesuatu yang terjadi, sesuatu yang baru, maupun sesuatu yang berbeda.
Open-minded yang diartikan menyetujui segala hal bukanlah sikap bijak dari seorang individu karena sejatinya tidak semua hal bisa disetujui oleh semua orang. Open-minded memang terkesan seperti terbuka pikiran yang mengarah pada kebebasan diterimanya semua pendapat, padahal perlu adanya pertimbangan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
Christoper Peterson dan Martin E. P. Seligman dalam buku "Character Strengths and Virtue" tahun 2004 menjelaskan bahwa open-mindedness adalah kesediaan untuk aktif mencari bukti yang bertentangan dengan keyakinan, rencana, atau tujuan yang disukai, dan mempertimbangkan bukti tersebut secara adil. Selain itu, Peterson dan Seligman mengemukakan ciri-ciri pribadi yang memiliki open-mindedness yakni meninggalkan keyakinan sebelumnya, selalu mempertimbangkan bukti yang bertentangan dengan keyakinan, dan keyakinan selalu direvisi sebagai tanggapan atas bukti baru.
Apa yang Harus Dilakukan?
“Maha benar netizen dengan segala komentarnya”, kalimat tersebut sangat sering dijumpai di ruang komentar media sosial sebagai bentuk sarkasme terhadap pihak-pihak yang tidak memiliki open-mindedness, dilihat dari komentar yang disampaikan di media sosial. Merasa tahu segalanya dan merasa selalu benar hanya sebatas perasaan pribadi, bukan menunjukkan kondisi nyata dirinya, dan pada dasarnya hal tersebut tidak menunjukkan sisi seorang manusia. Tidak ada manusia yang selalu benar, tidak ada manusia yang mengetahui semua ilmu dan pengetahuan yang ada di dunia. Lalu bagaimana supaya bisa menjadi pribadi yang open-minded?
Belajar menjadi pribadi yang open-minded merupakan hal yang menantang karena membutuhkan upaya dan dipengaruhi kapasitas diri yang berkaitan dengan daya pikir. Open-mindedness termasuk ke dalam kerendahan hati secara intelektual (intellectual humility). Oleh karena itu, mencapai open-mindedness dapat dilakukan dengan mengacu pada cara menjadi orang yang memiliki intellectual humility. Penelitian Shane Snow tahun 2018 tentang Intellectual Humanity memberikan penjelasan tentang cara menjadi orang yang memiliki intellectual humility, yaitu memisahkan ego dengan daya pikir, terbuka untuk merevisi sudut pandang, menghormati pandangan orang lain, tidak percaya diri secara berlebihan secara intelektual, dan terbuka terhadap pengalaman baru atau berbeda.
Langkah awal untuk memiliki open-mindedness adalah mau mengakui jika tidak tahu akan suatu hal atau pengetahuan yang dimiliki tidak cukup banyak. Kemauan untuk mengakui ketidaktahuan menjadi saklar yang menghidupkan lampu pengetahuan. Semakin tidak tahu maka semakin banyak informasi yang didapat untuk dikaji. Semakin dekat pada open-mindedness maka akan semakin dekat pula pada pribadi yang lebih bijak.
