Konten dari Pengguna

Demi Indonesia Emas Stunting Perlu di Berantas

Nabila Santika Dewi

Nabila Santika Dewi

Mahasiswa Jurusan Pertanian Prodi D4 Agribisnis Politeknik Negeri Banyuwangi

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Santika Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.canva.com/design/DAGaHEuvpOY/q7NPHpMI2iL6RpYVFoaiRg/edit?utm_content=DAGaHEuvpOY&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton
zoom-in-whitePerbesar
https://www.canva.com/design/DAGaHEuvpOY/q7NPHpMI2iL6RpYVFoaiRg/edit?utm_content=DAGaHEuvpOY&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan stunting merupakan masalah gizi krusial  khususnya di negara-negara miskin dan berkembang,dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umurnya akibat kekurangan gizi kronis. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari Word Health Organization (WHO). Pertumbuhan pada anak merupakan indikator penting untuk kesejahteraan anak dan memberikan penanda akurat mengenai kesenjangan dalam perkembangan manusia. Hal ini tercermin secara tragis pada jutaan anak di seluruh dunia yang tidak hanya gagal mencapai potensi pertumbuhan mereka karena kondisi kesehatan yang kurang optimal serta nutrisi dan perawatan yang tidak memadai,mereka juga menderita kerusakan fisik dan kognitif yang parah dan tidak dapat dipulihkan yang menyertai pertumbuhan yang terhambat. Menurut WHO, kelompok balita adalah 0-60 bulan. Sedangkan menurut kementrian kesehatan usia balita digolongkan menjadi tiga golongan yaitu golongan bayi (0-2 tahun), golongan batita (2-3 tahun), dan golongan prasekolah (>3-5 tahun). Balita adalah anak yang memiliki usia mulai dari 0-59 bulan. Kejadian balita pendek (stunting) dialami lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55 %) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika.

Gejala dan Tanda-tanda Anak Mengalami Stunting Yaitu:

1. Tinggi badan anak lebih pendek daripada anak seusianya.

2. Berat badan tidak meningkat secara konsisten.

3. Tidak aktif bermain.

4. Tahap pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat.

5. Sering lemas.

6. Memiliki kemampuan fokus dan memori belajar buruk.

7. Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya.

8. Mudah terserang penyakit/infeksi.

Pihak Kementrian Kesehatan menegaskan bahwa stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi mereka. Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius.

Faktor-faktor Penyebab Stunting pada Anak yang Perlu Diketahui :

1. Kurangnya persediaan air bersih dan sanitasi.

2. Terbatasnya akses pelayanan kesehatan.

3. Kurangnya asupan gizi pada ibu sebelum hamil,saat hamil dan setelah melahirkan.

4. Anak tidak mendapatkan ASI eksklusif.

5. Kualitas gizi MPASI yang kurang.

6. Anak menderita penyakit yang menghalangi penyerapan nutrisi.

7. Anak memiliki penyakit bawaan.

8. Pola asuh yang kurang efektif.

9. Tingkat pendapatan keluarga yang rendah.

Dampak Stunting pada Anak :

1. Memiliki tubuh pendek dan berat badan rendah.

2. Memiliki tingkat kecerdasan dibawah rata-rata.

3. Mudah sakit.

4. Berisiko mengidap berbagai penyakit seperti stroke,jantung koroner,diabetes,obesitas,kanker dan disabilitas pada usia tua.

5. Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal anak menjadi terhambat dan tidak optimal.

6. Kesehatan reproduksi yang menurun.

7. Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal saat dewasa.

Stunting sering tidak dikenali di komunitas- komunitas di mana perawakan pendek sangat umum sehingga dianggap normal. Kesulitan dalam mengidentifikasi anak-anak yang terhambat secara visual dan kurangnya penilaian rutin pertumbuhan linear dalam layanan perawatan kesehatan primer menjelaskan mengapa butuh waktu lama untuk mengenali besarnya momok tersembunyi ini. Namun, setelah bertahun-tahun diabaikan, stunting sekarang menjadi salah satu target SDGs (Sustainable Development Goals) pada pembangunan berkelanjutan ke-2, yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Stunting juga merupakan salah satu program prioritas pemerintah dengan menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025. 

Upaya Pencegahan Stunting :

1. Memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan.

2. Melakukan pemeriksaan rutin ke posyandu untuk memantau tahapan tumbuh kembang anak.

3. Memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap.

4. Memenuhi asupan gizi yang cukup sebelum merencanakan kehamilan dan selama kehamilan.

5. Memberi menu makanan beragam pada anak.

6. Konsumsi asam folat.

7. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

Pencegahan dan penanggulangan stunting membutuhkan upaya yang bersifat holistic dan saling terintegrasi. Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 merupakan salah satu strategi dalam Scalling Up Nutrition (SUN) dengan melibatkan berbagai sektor yang harus disikapi dengan koordinasi yang kuat baik di tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Peran berbagai lapisan baik sektor kesehatan maupun non kesehatan, seperti pemerintah, swasta, masyarakat sipil, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui upaya pelatihan dan edukasi agar mampu menjelaskan dan melakukan pemberdayaan dalam meningkatkan status gizi masyarakat, melakukan sosialisasi pengetahuan dan pendidikan kepada ibu sebelum kehamilan atau sebelum menjadi pengantin (calon pengatin) sebagai bekal ibu dalam kehamilan untuk menjaga tumbuh kembang kognitif janin yang dimulai dari trimester pertama dalam pembentukannya sebagai upaya perbaikan gizi dan penurunan kasus stunting di Indonesia.

OPINI

1. Stunting perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik, terganggu perkembangan otak dan mental, status kesehatan anak, dan mempengaruhi kreativitas di usia produktif.

2. Pentingnya peran orang tua dalam menjamin gizi anak tercukupi dengan baik,sehingga orang tua lah yang harus benar-benar peduli dengan makanan yang dikonsumsi anak setiap harinya.

3. Orang tua harus terus memantau tumbuh kembang anak,jika sakit segera bawa ke dokter jangan ditunda-tunda.

4. Pemerintah harus turun tangan pada daerah yang sanitasi dan air bersih yang belum memadai .

5. Sosialisasi bahaya dan upaya penanggulangan stunting perlu diadakan secara berkala pada masyarakat dan dukungan dari pemerintah agar dapat memberangas stunting .

6. Stunting berdampak pada tingkat pendidikan anak yang semakin menurun ,sehingga perlu perhatian khusus untuk indonesia emas kedepannya.