Saat Nasihat Mental Berbenturan dengan Realitas Sosial

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Nabila Safariyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial telah menjadi ruang tempat gagasan, pengalaman, dan kritik sosial saling bertemu. Fenomena ini terlihat dalam video YouTube Maudy Ayunda berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang membahas cara menjaga kesehatan mental ketika seseorang terus-menerus dihadapkan pada berita buruk. Maudy mengajak penonton membatasi waktu membaca berita, memilih sumber informasi tepercaya, dan menyeimbangkan konsumsi informasi dengan kegiatan positif. Namun, pesan tersebut memunculkan perdebatan setelah sejumlah warganet di Threads menilai bahwa nasihat menjaga kesehatan mental perlu dipahami bersama realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Perdebatan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah pesan tidak selalu diterima sesuai dengan maksud pembuatnya. Bagi sebagian orang, membatasi paparan berita buruk merupakan langkah untuk menjaga keseimbangan emosional. Bagi sebagian warganet lainnya, persoalannya bukan sekadar bagaimana mengelola perasaan, melainkan bagaimana menghadapi keadaan yang melahirkan berita buruk itu sendiri. Perbedaan tanggapan ini menarik untuk dicermati karena memperlihatkan bahwa pengalaman hidup dan kondisi sosial memengaruhi cara seseorang memahami suatu pesan. Di balik perdebatan tentang kesehatan mental, muncul persoalan yang lebih luas mengenai privilese dan ketimpangan sosial.
Nasihat dan Privilese Sosial
Dalam videonya, Maudy menjelaskan bahwa manusia dapat merasa kewalahan ketika menerima terlalu banyak informasi negatif. Ia membagikan pengalamannya dalam mengatur waktu membaca berita, memilih sumber informasi yang memiliki konteks, serta berhenti mengonsumsi berita ketika merasa sudah cukup. Ia juga menyarankan aktivitas lain, seperti membaca buku, berbincang dengan orang terdekat, dan menikmati hal-hal sederhana. Pesan tersebut menempatkan kesadaran diri sebagai bagian penting dalam menghadapi tekanan informasi. Secara pribadi, pendekatan ini dapat membantu seseorang menjaga keseimbangan emosional tanpa harus mengabaikan keadaan di sekitarnya.
Di sisi lain, respons warganet memperlihatkan bahwa kemampuan menerapkan nasihat tersebut tidak selalu dipandang setara. Salah satu komentar di Threads merangkum saran Maudy secara positif, tetapi mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki privilese yang sama. Komentar lain menyoroti masyarakat yang terdampak langsung oleh kebakaran hutan, kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik, dan persoalan keamanan pangan. Bagi mereka yang mengalami keadaan tersebut, berita buruk bukan sekadar informasi di layar, melainkan kenyataan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Di sinilah nasihat yang berpusat pada individu berbenturan dengan pengalaman sosial yang lebih kompleks.
Gambaran sarapan sehat Maudy, yang mencakup alpukat, telur, dan cottage cheese, turut menjadi bahan pembicaraan warganet. Pilihan makanan tersebut kemudian ditanggapi oleh sebagian pengguna sebagai simbol gaya hidup yang tidak selalu mudah dijangkau semua orang. Padahal, makanan sehat tidak dengan sendirinya menunjukkan kelas sosial seseorang. Hal yang lebih penting ialah bagaimana simbol keseharian tersebut memperoleh makna berbeda ketika berhadapan dengan pengalaman audiens yang beragam. Perdebatan ini memperlihatkan bahwa sesuatu yang dianggap biasa oleh sebagian orang dapat memunculkan pertanyaan tentang akses, kesempatan, dan kesenjangan dalam kehidupan masyarakat.
Pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu dapat membantu menjelaskan persoalan tersebut melalui konsep modal budaya dan pembedaan sosial. Dalam pandangannya, selera, kebiasaan, serta gaya hidup berkaitan dengan lingkungan sosial dan sumber daya yang dimiliki seseorang. Jika diterapkan secara hati-hati, gagasan ini membantu kita memahami mengapa rutinitas sehat dan cara mengelola informasi dapat ditafsirkan secara berbeda oleh kelompok masyarakat yang berbeda pula. Namun, analisis ini tidak berarti bahwa gaya hidup Maudy Ayunda harus dipersalahkan. Fokus utamanya ialah memahami bagaimana pengalaman sosial membentuk penerimaan terhadap pesan, bukan menghakimi pilihan pribadi seseorang.
Kritik di Ruang Digital
Threads kemudian menjadi ruang bagi warganet untuk mengajukan sudut pandang tandingan. Sejumlah komentar mempertanyakan apakah anjuran mengurangi paparan berita dapat menjawab persoalan masyarakat yang menghadapi dampak kebijakan dan masalah lingkungan secara langsung. Ada pula komentar bernada sarkas yang menggambarkan sulitnya membaca buku, berjalan di alam, atau menikmati kegiatan positif ketika lingkungan sedang diliputi asap, pemadaman listrik, dan berbagai kesulitan lainnya. Respons tersebut tidak hanya memperlihatkan ketidaksetujuan, tetapi juga menyampaikan tuntutan agar pembicaraan tentang kesehatan mental tetap mempertimbangkan keadaan sosial yang melatarbelakanginya.
Pemikiran Nancy Fraser tentang ruang publik dan ruang publik tandingan (counterpublics) relevan untuk membaca fenomena ini. Fraser menjelaskan bahwa ruang publik tidak selalu memberikan kesempatan yang setara bagi semua kelompok untuk menyampaikan pengalaman dan kepentingannya. Dalam konteks perdebatan ini, Threads memungkinkan warganet menghadirkan pengalaman yang menurut mereka kurang terwakili dalam pesan tentang pengelolaan diri. Mereka mengalihkan perhatian dari persoalan bagaimana menghadapi berita buruk menuju pertanyaan mengapa persoalan tersebut terus terjadi dan siapa yang menanggung dampaknya. Meski demikian, komentar yang tersedia tidak dapat dianggap mewakili seluruh pendapat masyarakat.
Perdebatan ini sebaiknya tidak disederhanakan menjadi pertentangan antara pihak yang peduli kesehatan mental dan pihak yang peduli terhadap persoalan sosial. Menjaga kesehatan mental tetap penting karena seseorang membutuhkan kondisi emosional yang cukup baik untuk menjalani aktivitas dan merespons keadaan. Namun demikian, pengelolaan diri juga tidak seharusnya dipahami sebagai pengganti kepedulian sosial. Membatasi waktu membaca berita dapat membantu seseorang menghindari kelelahan, sedangkan memeriksa fakta, menyuarakan persoalan, membantu pihak terdampak, dan mendorong pertanggungjawaban merupakan bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.
Pada intinya, kritik warganet menunjukkan bahwa pesan di media sosial selalu berhadapan dengan pengalaman audiens yang beragam. Sebuah nasihat yang bermanfaat bagi satu orang dapat terasa kurang menyentuh persoalan bagi orang lain ketika konteks sosialnya berbeda. Karena itu, figur publik perlu menyadari bahwa pesan mengenai pengembangan diri dapat memperoleh makna yang lebih luas ketika disampaikan di ruang digital. Sebaliknya, warganet juga perlu menyampaikan kritik secara proporsional dan berdasarkan konteks. Dengan begitu, perdebatan tidak berhenti pada penilaian terhadap individu, tetapi berkembang menjadi percakapan yang lebih bermakna mengenai kondisi bersama.
Fenomena Maudy Ayunda dan respons warganet di Threads memperlihatkan bahwa menjaga kesehatan mental dan memahami realitas sosial bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Nasihat untuk merawat diri tetap memiliki manfaat, tetapi perlu ditempatkan bersama kesadaran terhadap ketimpangan dan pengalaman masyarakat. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif, bukan sekadar arena saling menghakimi. Oleh karena itu, setiap orang, terutama figur publik, perlu berhati-hati dalam menyampaikan pesan. Nasihat yang baik sekalipun dapat menuai hujatan apabila disampaikan tanpa mempertimbangkan kondisi dan pengalaman orang yang menerimanya. Sebab, niat baik saja tidak selalu menjamin pesan dapat diterima dengan baik. Kepekaan terhadap situasi, empati, dan pemahaman terhadap realitas sosial menjadi hal penting agar nasihat tidak justru melukai atau menimbulkan kesalahpahaman.
