Konten dari Pengguna

Menguak Aspek Kehidupan: Masyarakat Pasca Kemelut 1965 Yosomulyo

Nabilatus Sa'adah

Nabilatus Sa'adah

Mahasiswa aktif Semester 2 Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Jember

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabilatus Sa'adah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

kantor desa Yosomulyo yang berada di Jl Jember-banyuwangi
zoom-in-whitePerbesar
kantor desa Yosomulyo yang berada di Jl Jember-banyuwangi

Tahukah Sahabat, kalau dukuh Karangasem itu sekarang lebih dikenal dengan desa Yosomulyo? mengapa demikian? hal ini dikarenakan Desa ini pernah mengalami perang saudara yang hebat dan mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa.

Desa Yosomulyo merupakan sebuah desa di kabupaten Banyuwangi, dulu lebih dikenal dengan sebutan Karangasem. Karena banyak pohon asem yang tumbuh di sekitar jalan. Namun, nama desa ini berubah menjadi Yosomulyo sejak tahun 1953 dengan mengundang Residen Besuki yang menjabat pada waktu itu. Pengubahan nama dari Karangasem ke Yosomulyo di latar belakangi oleh keinginan warga yang resah dengan citra desa Yosomulyo pada waktu itu. Sebelum pengubahan nama desa, Yosomulyo pernah mendapat julukan “bromocurah” alasannya karena desa ini menjadi tempat tinggal para perampok. Namun, kejadian tidak terduga terjadi pada tahun 1965 dan menyebabkan trauma mendalam bagi warganya.

Pada tahun 1965 pernah terjadi perang hebat di desa Yosomulyo yang disebabkan oleh meletusnya perang saudara di Jakarta. Perang tersebut menyebabkan kondisi desa Yosomulyo cukup mengenaskan, seperti rumah dan lumbung beras terbakar, korban tewas berserakan di pinggir jalan. Para korban ini diangkut oleh tentara yang datang menggunakan truck dan dilakukan autopsi di RSUD di Genteng.

Perang terjadi pada hari Senin, 18 Oktober 1965 yang melibatkan warga desa Yosomulyo dengan pemuda Ansor Muncar. Perang pecah sekitar pukul 11.00 WIB tepatnya di sekitar SPBU Yosomulyo. Hal ini bermula ketika pemuda Ansor Muncar hendak menyerang markas PKI yang berada di desa Gambiran. Namun, belum sampai di desa Gambiran rombongan pemuda Ansor Muncar ini telah dicegat oleh warga desa Yosomulyo yang sebelumnya yang telah mengetahui penyerangan yang akan dilakukan oleh pemuda Ansor Muncar pada waktu itu. Perang usai sekitar pukul 15.00 WIB bersamaan dengan kedatangan pasukan keamanan. Satu minggu setelah kejadian terjadia aksi culik menculik warga desa yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Peperangan yang terjadi berdampak pada aspek kehidupan masyarakat terutama dalam aspek ekonomi dan aspek sosial.

monumen pancasila sakti di desa Cemethuk kecamatan Cluring

1. Aspek Ekonomi

Adapun masyarakat terdampak secara ekonomi yaitu perekonomian masyarakat carut marut. Dimana semua kegiatan perekonomian berhenti beroperasi mulai dari kegiatan jual beli, mengolah sawah dan beberapa kegiatan perekonomian lainnya. Kegiatan pertanian mengalami gagal panen yang disebabkan oleh musim paceklik yang melanda serta lumbung-lumbung padi tempat warga menyimpan hasil panen hangus terbakar, sehingga untuk memenuhi bahan pokok berupa karbohidrat pemerintah desa mendatangkan gaplek atau singkong kering dari Kabupaten Blitar.

Selain itu, kondisi yang tidak kondusif ini dimanfaatkan oleh perampok untuk merampok rumah-rumah warga. Kebanyakan korban dari perompokan adalah kalangan menengah keatas yang memiliki banyak aset serta tanah. Dimana perampokan tersebut semakin menambah kesengsaraan warga.

2. Aspek Sosial

Selain dampak ekonomi peperangan ini juga berdampak pada kehidupan sosial warga. Diantaranya muncul rasa tidak percaya dan saling curiga antar warga. Ditambah lagi dengan rasa trauma warga pasca perang membuat situasi semakin tidak kondusif. Warga yang menyaksikan perang secara langsung mengalami gangguan kejiwaan khususnya wanita.

Terjadi aksi penculikan warga yang terindikasi sebagai anggota PKI. Hal ini menjadi suatu yang lumrah di kalangan warga, sehingga menyebabkan warga tidak bisa tidur tenang setiap malam. Banyak anak-anak terlantar yang disebabkan orang tuanya terindikasi sebagai simpatisan PKI dan wanita yang tiba-tiba menjadi janda akibat hal serupa. Para janda tersebut bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya, mereka juga sering mendapat perlakuan diskriminasi oleh masyarakat bahkan keluarga karena dianggap sebagai golongan “tidak bersih lingkungan”. Kekecewaan tersebut berlanjut pada agama islam yang menjadi dalang dalam peperangan, membuat warga beramai-ramai pindah agama. Jumlah pengikut agama kristen melonjak setelah aksi pindah agama yang dilakukan warga. Stigma yang beredar mengenai desa Yosomulyo mengakibatkan warga membatasi diri dari dunia luar. Namun, dengan berjalannya waktu warga desa Yosomulyo mulai berusaha mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan mencoba untuk kembali hidup normal seperti sedia kala.

Untuk memulihkan kondisi ekonomi dan sosial warganya, pemerintah desa Yosomulyo membutuhkan waktu sekitar 1 tahun lamanya. Apalagi kondisi desa Yosomulyo pada waktu itu sedang terjadi kekeringan yang menyebabkan tidak adanya bahan makanan yang dapat dimakan. Hampir seluruh tanaman yang ada tidak dapat hidup karena kurangnya air. Untuk bertahan hidup warga mengandalkan jagung dan singkong yang tersisa pemerintah desa setempat juga mendatangkan bahan makanan dari luar kota seperti Gaplek yang didatangkan dari Blitar Selatan. Menurut penuturan warga setempat melupakan kejadian berdarah itu sangat sulit bayang-bayang pembunuhan dan penculikan warga disaksikan langsung. Menumbuhkan rasa percaya antar sesama warga pun cukup sulit dilakukan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk mengembalikan kepercayaan warga.

Perekonomian desa ini mulai bangkit sejak pemerintahan Soeharto memberikan bantuan kepada petani-petani. Panen yang semula hanya dapat dilakukan 2 kali dalam satu tahun dengan penerapan swaembada pangan warga dapat panen lebih dari 2 kali setahun. Dari rangkaian kejadian yang dilalui oleh warga Yosomulyo mereka berharap tidak ada lagi pertumpahan darah cukup satu kali kejadian itu dan jangan sampai terulang kembali.

Referensi

Aan Khoirul Abidin. (n.d.).

Konflik berdarah di desa karangasem kecamatan gambiran kabupaten banyuwangi (18 oktober 1965) skripsi. (2012).