Kerja Keras Tidak Bisa Dibeli, tetapi Kesempatan Bisa

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabilla Al-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, ribuan peserta didik di Indonesia rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Mereka belajar hingga larut malam, mengerjakan ratusan latihan soal, dan menahan berbagai tekanan demi satu tujuan: lolos ke kampus impian. Di mata masyarakat, mereka yang berhasil dianggap sebagai bukti bahwa kerja keras selalu membuahkan hasil. Anggapan itu memang tidak sepenuhnya keliru. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk membuat kerja kerasnya membuahkan hasil.
Di balik perjuangan yang tampak serupa, terdapat kondisi yang sangat berbeda. Sebagian peserta didik belajar dengan dukungan bimbingan belajar, mentor privat, perangkat belajar yang memadai, akses internet yang stabil, serta lingkungan yang kondusif. Sementara itu, sebagian lainnya harus berbagi gawai dengan anggota keluarga, belajar dari materi gratis di internet, atau membagi waktu antara sekolah dan membantu orang tua mencari nafkah. Mereka sama-sama bekerja keras, tetapi tidak bekerja dalam kondisi yang sama.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa yang sering kali dapat "dibeli" bukanlah nilai atau prestasi, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk memperoleh guru yang lebih berkualitas, mengikuti simulasi ujian berkali-kali, mengakses sumber belajar terbaik, hingga memiliki waktu yang lebih banyak untuk belajar karena tidak dibebani persoalan ekonomi. Semua itu tidak secara otomatis menjamin keberhasilan, tetapi memperbesar peluang untuk mencapainya.
Fenomena ini sejalan dengan gagasan Pierre Bourdieu mengenai kapital budaya. Menurutnya, peserta didik datang ke sekolah dengan bekal yang berbeda-beda. Keluarga yang memiliki sumber daya ekonomi umumnya mampu menyediakan pengalaman, kebiasaan, dan fasilitas yang lebih sesuai dengan tuntutan sistem pendidikan. Sebaliknya, peserta didik dari keluarga yang kurang beruntung sering kali harus mengembangkan kemampuan tersebut di tengah berbagai keterbatasan. Akibatnya, sekolah tidak selalu menjadi ruang yang benar-benar setara bagi setiap peserta didik.
Sayangnya, masyarakat lebih sering melihat hasil akhir daripada proses yang melatarbelakanginya. Ketika seseorang berhasil, pujian langsung diberikan atas kerja kerasnya. Sebaliknya, ketika seseorang gagal, tudingan yang muncul hampir selalu sama: kurang belajar, kurang disiplin, atau kurang berusaha. Cara pandang seperti ini membuat ketimpangan kesempatan seolah-olah tidak pernah ada. Padahal, kerja keras dan kesempatan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Kesempatan menentukan sejauh mana kerja keras dapat berkembang menjadi prestasi.
Bukan berarti kerja keras tidak lagi penting. Sebaliknya, kerja keras tetap menjadi syarat utama untuk mencapai keberhasilan. Namun, menganggap semua orang memiliki peluang yang sama hanya karena sama-sama dapat bersekolah merupakan penyederhanaan terhadap persoalan yang jauh lebih kompleks. Pendidikan yang adil bukan hanya tentang membuka pintu sekolah bagi semua orang, tetapi juga memastikan setiap peserta didik memiliki akses terhadap sumber daya yang memungkinkan mereka berkembang secara optimal.
Karena itu, pembahasan mengenai keberhasilan dalam pendidikan seharusnya tidak berhenti pada motivasi untuk belajar lebih giat. Perhatian juga perlu diarahkan pada kesenjangan fasilitas belajar, kualitas sekolah, akses terhadap teknologi, hingga dukungan ekonomi yang masih membedakan pengalaman belajar setiap peserta didik. Selama kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas masih sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi, kerja keras tidak akan pernah benar-benar berdiri di atas garis awal yang sama.
Kerja keras memang tidak bisa dibeli. Namun, kesempatan untuk membuat kerja keras itu lebih mudah membuahkan hasil sering kali dapat diperoleh melalui sumber daya yang tidak dimiliki setiap orang. Selama kenyataan tersebut masih ada, keberhasilan dalam pendidikan tidak bisa dipandang semata-mata sebagai hasil usaha individu. Ada struktur sosial yang ikut menentukan siapa yang berlari dengan lintasan yang lebih mulus dan siapa yang harus berjuang melewati rintangan sejak langkah pertama.
