Konten dari Pengguna

Pendidikan Abad ke-21 Menuntut Kolaborasi, tetapi Mengapa Siswa Justru Bersaing?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabilla Al-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga orang anak sedang membaca buku bersama. Sumber Foto : Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Tiga orang anak sedang membaca buku bersama. Sumber Foto : Pexels.com

Dalam dunia pendidikan, siswa sering diajarkan pentingnya bekerja sama, menghargai pendapat, dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Nilai-nilai ini sejalan dengan keterampilan kolaborasi yang dibutuhkan pada abad ke-21. Namun, ada hal yang menarik untuk dipertanyakan: mengapa di lingkungan yang mengajarkan kerja sama, siswa masih bisa merasa perlu bersaing satu sama lain?

Persaingan sebenarnya bukan hal yang selalu buruk. Keinginan memperoleh nilai yang baik dapat mendorong siswa untuk belajar lebih giat dan mengembangkan kemampuannya. Namun, persaingan bisa menjadi persoalan ketika nilai dan peringkat terlalu dominan dalam menentukan keberhasilan. Siswa tidak lagi hanya berusaha memahami materi, tetapi mulai membandingkan pencapaiannya dengan teman. Bahkan, dalam situasi tertentu, berbagi pengetahuan bisa terasa merugikan ketika teman yang dibantu berpotensi memperoleh nilai lebih tinggi.

Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial tempat siswa belajar. Harapan orang tua agar anak memperoleh nilai tinggi, tuntutan guru terhadap pencapaian akademik, serta kebiasaan membandingkan hasil belajar dapat membentuk cara siswa memandang keberhasilan. Ketika prestasi individu lebih sering mendapat perhatian, siswa bisa menangkap pesan bahwa menjadi unggul dari orang lain merupakan salah satu cara untuk dianggap berhasil, meskipun pesan tersebut tidak pernah disampaikan secara langsung.

Di sinilah muncul persoalan yang menarik. Siswa diajarkan untuk saling membantu, tetapi mereka juga berada dalam lingkungan yang memungkinkan pencapaian individu menjadi bahan perbandingan. Akibatnya, kerja sama bisa hanya menjadi tuntutan saat mengerjakan tugas kelompok, tanpa benar-benar tumbuh sebagai kebiasaan dalam kehidupan belajar sehari-hari. Persoalannya bukan semata-mata siswa kurang memahami pentingnya kolaborasi, tetapi juga bagaimana lingkungan belajar memberi ruang bagi nilai tersebut untuk diterapkan.

Karena itu, membangun budaya kolaborasi tidak cukup hanya dengan memberikan tugas kelompok atau meminta siswa saling membantu. Sekolah perlu memperhatikan bagaimana keberhasilan dinilai dan dihargai, misalnya dengan memberi ruang bagi proses belajar, kontribusi setiap anggota kelompok, dan perkembangan kemampuan siswa. Orang tua dan guru pun berperan dalam membentuk lingkungan yang mendorong siswa untuk berkembang tanpa terus-menerus membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.

Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah siswa boleh bersaing atau tidak, tetapi bagaimana lingkungan pendidikan membentuk cara mereka memandang keberhasilan. Selama nilai dan peringkat menjadi ukuran yang sangat menonjol, dorongan untuk mengungguli teman bisa tetap muncul meskipun kolaborasi terus diajarkan. Siswa seharusnya punya ruang untuk berprestasi tanpa harus melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman, sebab lingkungan belajar yang baik bukan hanya membantu siswa berkembang secara individu, tetapi juga membiasakan mereka tumbuh bersama.