Konten dari Pengguna

Self Reward Sebagai Kedok Perilaku Konsumtif

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabilla Al-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hadiah. Sumber Foto : Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hadiah. Sumber Foto : Pexels.com

Banyak orang pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini, sebab istilah self-reward menjadi semakin populer dari waktu ke waktu, terutama di kalangan anak muda.

Konsepnya sederhana: memberikan hadiah kepada diri sendiri setelah menyelesaikan tugas, melewati hari yang berat, atau sekadar menghargai pencapaian kecil. Hal ini dianggap wajar sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras yang sudah dilalui. Tak heran, banyak orang merasa pantas mendapatkan hadiah setelah berjuang keras entah itu satu cangkir kopi favorit, makanan lezat, jalan-jalan singkat, atau barang yang sudah lama diincar.

Secara psikologis, self-reward memang dapat membantu meningkatkan motivasi dan mengurangi stres setelah melalui hari yang panjang atau tugas yang menumpuk serta membangun hubungan positif dengan diri sendiri. Namun, di balik sisi positifnya, muncul fenomena baru yang kerap tidak disadari oleh orang-orang yaitu konsumsi yang berlebihan atau kerap disebut perilaku konsumtif.

Normalisasi Perilaku Konsumtif Melalui Self-Reward

Kini, banyak orang menjadikan self-reward sebagai alasan logis untuk melakukan berbagai aktivitas konsumtif. Banyak orang bahkan sudah menyiapkan to do list makanan atau tempat nongkrong yang harus mereka kunjungi setelah menyelesaikan semua tugas yang membebani harinya dalam satu pekan atau satu semester.

Masalahnya meskipun sudah ada list, kadang saking mau melampiaskan rasa lelahnya, banyak orang menjadi kalap ingin melakukan semuanya sehingga menjadi impulsif. Hal ini membuat mereka tanpa sadar menjadikan self-reward sebagai ajang untuk melakukan konsumsi besar-besaran yang dibenarkan.

Awalnya, daftar tersebut memang terlihat wajar: satu kedai kopi, satu restoran, atau satu tempat healing sederhana. Namun, seiring waktu, daftar itu berkembang semakin panjang. Media sosial, konten rekomendasi tempat hits, serta tren kuliner viral membuat orang terdorong untuk terus menambahkan “hadiah-hadiah” baru pada to-do list mereka.

Niatnya self-reward untuk bernapas malah membuat dompet sesak napas. Alhasil, self-reward tidak lagi tentang jeda sehat setelah bekerja keras, tetapi berubah menjadi agenda konsumsi besar-besaran yang menguras dompet.

Akibatnya, self-reward kehilangan makna aslinya. Hal yang seharusnya menenangkan justru membuat lebih stres karena uang yang habis, penyesalan setelah berbelanja secara impulsif, dan perasaan hampa ketika kebahagiaan yang diharapkan ternyata hanya datang sesaat. Kebiasaan ini jika terus dibiarkan dapat berkembang menjadi perilaku konsumtif yang sulit dikendalikan. Seseorang akan terus mencari reward baru sebagai pelampiasan, bukan lagi sebagai penghargaan atas diri sendiri.

Pada intinya, bentuk menghargai diri sendiri tidak harus diukur dari seberapa banyak uang yang dikeluarkan. Artinya, Self-reward terletak pada bagaimana hal itu membuat seseorang merasa lebih termotivasi untuk bekerja kembali bukan pada seberapa mahal atau seberapa banyak hal yang dibeli.