Suka Dipuji, Pertanda Seseorang Memiliki Gangguan Kepribadian?

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nada Aisyah Hanum Muchsin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pujian adalah salah satu bentuk apresiasi yang diberikan untuk menghargai prestasi seseorang. Tetapi kamu pernah gak sih, menganggap kalo diri kamu tuh istimewa banget? Atau kamu pernah gak melihat orang yang menunjukkan kelebihannya tanpa diminta? Nah, hal-hal itu bisa jadi adalah tanda dari gangguan kepribadian narsistik. Apa sebenarnya gangguan narsistik itu? Apa saja ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kepribadian ini? Lalu, samakah gangguan ini dengan perilaku narsis? Simak, yuk, jawabannya di bawah ini.
Gangguan Kepribadian Narsistik Itu Apa Sih?
Kata narsistik sendiri berasal dari nama seorang pemuda yang hidup di zaman Yunani Kuno. Namanya Narcissus, ia merupakan pemuda yang sangat tampan. Kalian pernah dengar apa kata orang tentang orang-orang yang memiliki wajah rupawan? Yap, betul sekali, "orang ganteng/cantik mah enak, gampang kalau mau cari pasangan". Tetapi nyatanya, kalimat ini tidak berlaku untuk Narcissus. Ia justru selalu mengalami kegagalan dalam hubungan asmaranya hingga ia putus asa dan melakukan bunuh diri. Menurut kalian, mengapa dia bisa selalu gagal pada hubungan asmaranya? Padahal ia punya wajah yang sangat mendukung untuk memilih wanita mana pun yang ia mau. Jawabannya ternyata sangat sederhana. Para wanita itu tidak tahan dengannya karena ia lebih mengagumi dirinya sendiri. Nah, dari cerita itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kata narsistik, secara bahasa diartikan sebagai perilaku mencintai diri sendiri secara berlebihan.
Gangguan Kepribadian Narsistik atau Narcisstic Personality Disorder (NPD) adalah sebuah gangguan kepribadian di mana si penderita merasakan kebanggaan berlebih pada segala hal yang menyangkut dirinya. Bahkan penderitanya seringkali sampai dapat memandang rendah orang lain. Para ahli juga berpendapat bahwa seseorang dengan gangguan kepribadian narsistik akan menganggap bahwa dirinya istimewa, sehingga akan mengharapkan suatu perlakuan yang istimewa pula dari orang lain. Penderitanya juga dinilai memiliki rasa egoisme yang tinggi dan seringkali bersikap angkuh atau sombong (Western & Shedler, 1999: 265).
Mengenal Ciri-Ciri Pengidap Narsistik
Orang yang memiliki gangguan kepribadian seperti ini biasanya sudah mulai menunjukkan ciri-ciri tertentu sejak anak-anak atau remaja. Mengacu pada buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition atau DSM-IV, seseorang baru dianggap memiliki gangguan kepribadian narsistik apabila mempunyai lima dari sembilan ciri yang ada. Kesembilan ciri tersebut antara lain yaitu: sering merasa iri hari pada orang lain, kurang rasa empati, bersikap angkuh, merasa dirinya paling hebat, merasa dirinya pantas dikagumi, memandang berlebihan suatu kelebihan yang ia miliki, selalu ingin mendapat hak istimewa, memiliki kepercayaan diri semu (palsu), serta sensitif terhadap kritik.
Gangguan kepribadian ini bisa dialami oleh siapa saja. Biasanya penyebab gangguan ini banyak terjadi saat masa kanak-kanak. Pada masa itu, anak-anak tersebut bisa jadi tidak bisa meniru rasa empati kedua orang tuanya, dan tanpa sadar hal itu terbawa hingga ia dewasa. Hal ini dapat terjadi jika anak-anak tidak mendapat perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya. Namun selain kelalaian orang tua, di satu sisi terlalu memanjakan anak-anak juga dapat memunculkan perilaku narsistik ini. Maka dari itu, orang tua harus memperhatikan perkembangan psikologis anak-anaknya, selain dari tumbuh kembang fisiknya. Kedua orang tua juga harus memastikan anak-anak mendapatkan kasih sayang yang cukup, tidak kurang ataupun lebih.
4 Tips Menangani Narsistik
Nah, jika gangguan ini belum sampai pada tahap akut, untuk menanganinya bisa dilakukan beberapa hal seperti :
Membiasakan diri untuk memiliki pandangan bahwa orang lain juga memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing.
Selalu membiasakan gaya hidup sederhana.
Berusaha melatih diri untuk bersikap lebih rendah hati.
Mengoreksi dan merenungi setiap ucapan dan perilaku yang telah dilakukan.
Lalu, apakah orang yang narsis itu artinya mereka punya gangguan kepribadian? Tentu saja keduanya berbeda. Penderita gangguan kepribadian narsistik cenderung tidak pernah berlaku rendah hati dan selalu beranggapan bahwa dirinya pasti lebih baik dibandingkan orang lain. Sementara orang dengan perilaku narsis yang normal masih menyadari batasannya dan akan berusaha mengoreksi perbuatannya apabila ia melakukan kesalahan.
Nah, itu dia pembahasan singkat mengenai gangguan kepribadian narsistik. Apabila kalian merasa termasuk ke dalam ciri-ciri yang telah disebutkan, bukan berarti kalian sudah pasti mengidap narsistik. Oleh karenanya, tetap tidak dianjurkan untuk self-diagnosed, ya! Cobalah berkonsultasi dengan ahli untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Referensi:
American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (4th ed.). American Psychiatric Publishing, Inc.
Butcher, J. N., Hooley, J. M., & Mineka, S. (2008). Abnormal Psychology: Core Concepts. Boston: Allyn Bacon.
Engkus, E., Hikmat, H., & Saminnurahmat, K. (2017). Perilaku narsis pada media sosial di kalangan remaja dan upaya penanggulangannya. Jurnal Penelitian Komunikasi, 20(2).
Grohol, J.M. (2018). The Difference Between Narcissism & Narcissistic Personality Disorder. Diakses pada 17 Desember 2021, dari https://psychcentral.com/blog/the-difference-between-narcissism-narcissistic-personality-disorder.
Husni, M. (2019). Selfie Gangguan Kepribadian Narsistik. Jurnal Tinta, 1(1), 105-116.
Walker, M.H. (2016). Narcissistic Personality Disorder vs. Normal Narcissism. Diakses pada 17 Desember 2021, dari https://psychcentral.com/lib/narcissistic-personality-disorder-vs-normal-narcissism.
Westen, D., & Shedler, J. (1999). Revising and assessing axis II, Part 1: Developing a clinically and empirically valid assessment method. The American Journal of Psychiatry, 156(2), 258–272. Diakses pada 17 Desember 2021, dari https://ajp.psychiatryonline.org/doi/pdf/10.1176/ajp.156.2.258.
