Konten dari Pengguna

Gangguan Jiwa Merasa Sudah Mati,Terjadi di Otak Penderita Cotard Delusion

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salma Nada Fadlilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kondisi medis yang terdengar seperti fiksi horor, tapi nyata adanya. Seseorang bangun di pagi hari, menatap cermin, dan dengan penuh keyakinan berkata bahwa dirinya sudah mati. Bukan metafora. Bukan puisi. Ia benar-benar percaya jantungnya tidak berdetak, darahnya tidak mengalir, dan tubuhnya sedang membusuk. Inilah gangguan jiwa merasa sudah mati yang dikenal dalam dunia psikiatri sebagai Cotard delusion, salah satu kondisi neurologis paling langka dan paling membingungkan yang pernah didokumentasikan oleh ilmu kedokteran.

Gangguan Jiwa Merasa Sudah Mati, Ini Asal-Usul Penemuannya

Ilustrasi gangguan jiwa merasa sudah mati Cotard delusion walking corpse syndrome otak.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gangguan jiwa merasa sudah mati Cotard delusion walking corpse syndrome otak.Photo by GPT AI

Cotard delusion pertama kali dijelaskan oleh ahli saraf dan psikiater Prancis Jules Cotard pada 1882 sebagai penyakit mental dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Gejalanya mencakup keyakinan delusi bahwa seseorang tidak ada, sudah mati, kehilangan organ, anggota tubuh, darah, atau tidak mampu mati sama sekali sehingga merasa abadi.

Paradoks yang terakhir itu sangat menarik. Sebagian penderita merasa sudah mati, tapi sebagian lainnya justru merasa tidak bisa mati sama sekali, seolah-olah mereka adalah makhluk abadi yang terperangkap di dunia orang hidup. Dua keyakinan yang berlawanan, tapi sama-sama merupakan manifestasi dari kerusakan yang sama di dalam otak.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Otak

Beberapa wilayah otak termasuk lobus frontal, temporal, dan parietal berperan penting dalam persepsi dan identitas diri. Kerusakan atau kelainan di wilayah-wilayah ini dapat mendistorsi persepsi diri dan memunculkan delusi yang khas pada Cotard. Lobus frontal non-dominan yang biasanya berada di sisi kanan otak sering kali mengalami atrofi serebral yaitu kehilangan neuron atau koneksi saraf. Wilayah ini sangat penting untuk kesadaran tubuh, pemrosesan identitas, dan integrasi informasi sensorik.

Cotard syndrome adalah manifestasi neuropsikiatri dari patologi otak yang memengaruhi lobus frontotemporal dan parietal non-dominan, khususnya girus fusiformis. Girus fusiformis adalah bagian otak yang bertugas mengenali wajah dan mengintegrasikan persepsi diri. Ketika wilayah ini tidak berfungsi normal, otak kehilangan kemampuan untuk mengenali keberadaan dirinya sendiri secara utuh.

Hasilnya adalah kesenjangan yang sangat dalam antara apa yang dilihat mata dan apa yang dirasakan sebagai kenyataan. Pasien melihat tubuhnya di cermin, tapi otak tidak bisa mengintegrasikan informasi itu sebagai bukti bahwa ia hidup.

Siapa yang Bisa Terkena

Cotard delusion mencakup tidak hanya sensasi sudah mati atau membusuk, tapi juga manifestasi berupa kecemasan, depresi, agitasi, pikiran bunuh diri, dan keyakinan delusi lainnya. Cotard pertama kali dijelaskan oleh Jules Cotard pada 1882 dan merupakan kondisi yang relatif langka yang diamati pada pasien dengan gangguan suasana hati, gangguan psikotik, infeksi sistem saraf pusat, tumor otak, dan cedera otak traumatik.

Yang mengejutkan, Cotard juga bisa muncul sebagai komplikasi dari penyakit autoimun. Pada 2024, sebuah kasus dilaporkan tentang Cotard delusion pada pasien dengan Neuropsychiatric Systemic Lupus Erythematosus, menggambarkan betapa kompleks dan mengejutkannya kondisi ini sebagai bentuk psikosis autoimun.

Tiga Subtipe yang Perlu Diketahui

Cotard delusion sering diklasifikasikan ke dalam tiga subtipe klinis yang berbeda. Subtipe pertama ditandai oleh delusi monotematik yang berpusat pada ketidakberadaan diri, kematian, atau kehancuran tubuh. Subtipe kedua mencakup gejala afektif seperti depresi atau kecemasan. Pasien bisa menyangkal keberadaan tubuh, organ, atau bahkan dunia luar.

Cotard tipe I menampilkan delusi hipokondria dan nihilistik tentang tubuh dan keberadaan diri. Cotard tipe II menampilkan kecemasan, delusi keabadian, halusinasi pendengaran, delusi nihilistik tentang keberadaan, dan perilaku bunuh diri. Ironisnya, pasien yang merasa tidak bisa mati justru berisiko mencoba bunuh diri karena mereka percaya perbuatan itu tidak akan mengubah apa pun.

Penanganan yang Masih Penuh Tantangan

Meski memiliki akar sejarah,Cotard syndrome masih sangat kurang dipahami dan sering salah didiagnosis. Kondisi ini menunjukkan gambaran klinis yang kompleks, mencakup keagungan diri, hukuman diri, dan keruntuhan fisik dalam persepsi pasien.

Patofisiologi Cotard syndrome masih belum jelas dengan mekanisme yang diusulkan masih bersifat spekulatif. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami mekanisme yang mendasarinya secara komprehensif. Penilaian neurologis perlu dilakukan pada pasien denganCotard syndrome untuk menyingkirkan penyebab organik.

Pendekatan terapi yang paling umum digunakan adalah kombinasi antidepresan, antipsikotik, dan dalam beberapa kasus terapi elektrokonvulsif yang terbukti memberikan respons yang cukup baik pada sebagian pasien.

Perspektif Islam tentang Jiwa dan Kesadaran Diri

Dalam Islam, jiwa atau ruh adalah sesuatu yang sangat agung dan misterius. Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 85 :

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Ayat ini menjadi pengingat yang sangat relevan dalam konteks Cotard delusion yaitu bahwa kompleksitas kesadaran manusia, persepsi tentang hidup dan mati, serta batas antara keduanya adalah wilayah yang jauh melampaui kemampuan akal manusia untuk memahaminya sepenuhnya.

Islam juga mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Muslim: "Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Allah turunkan pula obatnya."

Cotard delusion, seseram apa pun gejalanya, bukan kutukan dan bukan kerasukan. Ia adalah kondisi medis yang bisa ditangani dengan pendekatan psikiatri yang tepat.Lebih jauh lagi, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga akal sebagai salah satu dari lima tujuan utama syariat yaitu hifz al-aql. Kondisi seperti Cotard delusion adalah pengingat betapa akal yang sehat adalah karunia yang luar biasa dan betapa rapuhnya persepsi kita tentang diri sendiri ketika otak tidak berfungsi sebagaimana mestinya