Konten dari Pengguna

Intussusception Usus Bayi yang Terlipat Masuk ke Dirinya Ini Kondisi Darurat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salma Nada Fadlilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah selang yang tiba-tiba terlipat dan masuk ke dalam dirinya sendiri seperti teropong yang ditarik ke dalam. Itulah yang terjadi pada usus bayi yang mengalami intussusception. Kondisi ini bukan sekadar gangguan pencernaan biasa. Intussusception usus bayi adalah kedaruratan medis yang bisa mengancam jiwa dalam hitungan jam jika tidak dikenali dan ditangani dengan cepat, dan gejalanya sering disalahartikan sebagai kolik biasa oleh orang tua yang tidak tahu.

Intussusception Usus Bayi, Kondisi Darurat yang Paling Sering Terjadi ??

Ilustrasi intussusception usus bayi darurat pediatri perut anak.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi intussusception usus bayi darurat pediatri perut anak.Photo by GPT AI

Intussusception adalah penyebab utama kondisi perut akut pada bayi, namun sering tidak dikenali pada mereka yang berusia di bawah tiga bulan, yang berpotensi mengakibatkan komplikasi serius seperti nekrosis usus, peritonitis, atau bahkan kematian jika tidak segera ditangani.

Intussusception merupakan kedaruratan perut paling umum pada masa kanak-kanak dini. Kondisi ini terjadi ketika satu bagian usus meluncur masuk dan terlipat ke dalam bagian usus di sebelahnya, seperti cara kerja teropong lipat. Akibatnya aliran darah ke bagian usus yang terlipat itu terhenti dan jaringan usus mulai mati dalam waktu yang sangat singkat.

Apa yang Terjadi di Dalam Usus Bayi ??

Untuk memahami mengapa kondisi ini begitu berbahaya, perlu dipahami apa yang terjadi secara biologis di dalam perut bayi.

Ketika satu segmen usus masuk ke dalam segmen di sebelahnya, dinding usus menjadi terjepit. Pembuluh darah yang mengaliri segmen yang terjepit itu ikut tertekan. Aliran darah berkurang, jaringan usus mulai kekurangan oksigen, dan dalam beberapa jam bisa terjadi nekrosis yaitu kematian jaringan usus yang tidak bisa dipulihkan.

Jika tidak ditangani, perforasi usus dan peritonitis bisa terjadi, dua komplikasi yang secara dramatis meningkatkan risiko kematian pada bayi.

Gejala yang Sering Disalahartikan Orang Tua

Inilah bagian yang paling penting untuk diketahui setiap orang tua dengan bayi.

Tanda pertama intussusception pada bayi yang sebelumnya sehat bisa berupa tangisan tiba-tiba dan keras yang disebabkan oleh nyeri perut. Bayi yang mengalami nyeri perut mungkin menarik lutut ke dada saat menangis.

Pola tangis ini khas dan berbeda dari kolik biasa. Bayi menangis keras dalam serangan mendadak, lalu terdiam dan tampak baik-baik saja selama beberapa menit, lalu menangis keras lagi. Siklus ini berulang karena nyeri yang datang akibat kontraksi usus yang mencoba mendorong bagian yang terlipat itu.

Gejala yang paling sering dilaporkan adalah muntah pada 36 kasus, buang air besar berdarah pada 27 kasus, dan tangis berselang pada 18 kasus dari 38 bayi yang diteliti.

Buang air besar berdarah yang terlihat seperti selai kismis merah adalah tanda yang sangat spesifik dan harus langsung membawa orang tua ke unit gawat darurat tanpa menunggu lebih lama.

Seberapa Cepat Diagnosis Bisa Ditegakkan

Kabar baiknya, teknologi diagnosis modern memungkinkan konfirmasi yang sangat cepat dan akurat.

Ultrasonografi mengkonfirmasi diagnosis pada 97,4 persen kasus. Pemeriksaan USG perut pada bayi yang dicurigai mengalami intussusception bisa memberikan gambaran yang sangat khas yaitu tampilan seperti cincin berlapis yang disebut target sign atau donut sign di layar monitor. Pemeriksaan ini tidak memerlukan radiasi, tidak menyakitkan, dan hasilnya bisa keluar dalam hitungan menit.

Penelitian 2025 dari Rumah Sakit Anak Wuhan menekankan pentingnya USG dini dilakukan secepatnya untuk menegakkan diagnosis yang jelas, dan efek intervensi dini terbukti memuaskan.

Penanganan Modern yang Tidak Selalu Butuh Operasi

Ini adalah kabar baik yang sering mengejutkan orang tua yaitu tidak semua kasus intussusception harus dioperasi.

Pilihan penanganan intussusception mencakup enema kontras yang larut dalam air atau enema udara. Prosedur ini sekaligus berfungsi sebagai diagnosis dan terapi. Jika enema berhasil, penanganan lebih lanjut biasanya tidak diperlukan.

Mayoritas anak berhasil ditangani dengan enema reduksi pneumatik dengan tingkat keberhasilan 80 persen. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan udara atau cairan melalui anus di bawah panduan USG atau radiologi, yang secara perlahan mendorong bagian usus yang terlipat kembali ke posisi normalnya.

Pada bayi dengan kondisi umum yang baik, reduksi enema bisa dicoba terlebih dahulu dengan pemantauan tekanan yang tepat. Tekanan awal ditetapkan pada 8 kPa dan ditingkatkan secara bertahap hingga maksimum 13,3 kPa jika diperlukan. Operasi baru dilakukan ketika reduksi enema gagal atau ketika sudah ada tanda-tanda komplikasi serius seperti perforasi usus.

Siapa yang Paling Berisiko

Intussusception paling sering terjadi pada bayi usia 6 hingga 36 bulan, dengan puncak kejadian di antara usia 5 hingga 9 bulan. Anak laki-laki sedikit lebih sering terkena dibanding perempuan. Pada sebagian besar kasus, penyebabnya tidak diketahui dengan pasti.

Beberapa faktor yang dikaitkan dengan peningkatan risiko adalah infeksi saluran pernapasan atas yang mendahului, pembesaran kelenjar getah bening di usus, dan dalam beberapa kasus yang lebih jarang, adanya kelainan anatomis seperti divertikulum Meckel atau polip usus yang menjadi titik picu terjadinya lipatan.

Perspektif Islam tentang Kedaruratan Medis Anak

Islam sangat menekankan kewajiban menjaga nyawa, termasuk nyawa anak. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada yang lebih berharga dari nyawa seorang Muslim, dan menjaga nyawa adalah salah satu dari lima maqasid al-syariah yaitu tujuan utama syariat Islam.

Dalam konteks intussusception, penundaan penanganan bahkan beberapa jam saja bisa mengubah prognosis yang baik menjadi komplikasi yang sangat serius. Islam mengajarkan bahwa berobat adalah kewajiban, bukan pilihan, dan bahwa menyelamatkan nyawa adalah bentuk ibadah yang sangat mulia. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 32 :

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ

bahwa barang siapa yang menyelamatkan satu nyawa, seolah-olah ia menyelamatkan seluruh manusia.Bagi orang tua Muslim, mengenali tanda-tanda bahaya pada bayi dan segera membawa ke rumah sakit bukan hanya kewajiban kasih sayang, tapi juga bagian dari amanah menjaga jiwa anak yang dititipkan Allah.