Konten dari Pengguna

Di Balik Ramainya Wisata Pangandaran, Seorang Pedagang Es Menemukan Arti Cukup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadha Syabaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangandaran — Di tengah lalu-lalang wisatawan yang memadati kawasan Pantai Timur Pangandaran, sebuah gerobak sederhana yang menjual es jeruk tampak tak pernah sepi. Di sanalah Yefrizal (57) menghabiskan hari-harinya, membelah jeruk, menuang es, dan melayani pembeli dengan senyum yang tenang. Di balik kesederhanaan gerobak ini, tersimpan perjalanan hidup panjang seorang perantau yang akhirnya menemukan makna hidup yang ia sebut sebagai “cukup”.

Aroma jeruk segar yang bercampur dengan udara laut menjadi penanda rutinitas Yefrizal. Ia mulai berjualan sejak pagi dan menutup lapak menjelang sore. Tidak ada target muluk dalam benaknya. Selama dagangan laku dan tubuh tetap sehat, hari itu sudah dianggap berhasil.

Melawan Kerasnya Ibu Kota dan Tragedi di Pekalongan

Puluhan tahun lalu, hidup Yefrizal jauh dari suasana pantai yang damai. Ia datang ke Jakarta sebagai perantau Minang dengan modal keberanian. Pekerjaan pertamanya sungguh kontras dengan yang ia jalani kini, ia adalah kenek metromini. Bergelut dengan kemacetan, debu, dan kerasnya kehidupan ibu kota, Yefrizal berteriak mencari penumpang dari pagi hingga malam demi membawa pulang uang harian.

Seiring waktu, ia berpindah haluan, mencoba peruntungan sebagai pedagang nomaden. Jam tangan menjadi barang dagangannya, membawanya berpindah dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya, melintasi kota-kota di Jawa Barat, mulai dari Cirebon, Garut, hingga Tasikmalaya.

Namun, perjalanan itu tak selalu ramah. Di Pekalongan, nasib buruk menimpanya. Yefrizal menjadi korban kejahatan hipnotis. Dalam kondisi tak sadar, seluruh modal dan barang dagangannya raib. Ia kehilangan segalanya dan berada di titik nol, sendirian di tanah rantau tanpa pegangan.

Pertolongan tak terduga datang dari sesama perantau. Seorang pemilik warung nasi Padang mengajaknya bekerja sekaligus memberinya modal agar bisa bangkit kembali. Dari sanalah ia kemudian ikut ke Pangandaran, kota pesisir yang kelak menjadi tempatnya menetap.

Menarik Jaring dari Laut Demi Kedamaian di Pangandaran

Yefrizal sempat berdagang kacamata sebelum tertarik mencoba menjadi nelayan. Dunia laut memberinya penghasilan, namun juga risiko besar. Ia bahkan sempat dipercaya menjadi tekong, memimpin kapal dan bertanggung jawab atas keselamatan awak.

Namun, tahun-tahun di laut membuatnya sadar bahwa pekerjaan tersebut semakin berat dan penuh bahaya. Cuaca yang tak menentu dan risiko keselamatan menjadi pertimbangan utama.

Capek jadi nelayan, kerjanya cukup melelahkan,” ujarnya mengenang masa-masa melaut.

Keputusan besar pun diambil. Yefrizal memilih meninggalkan laut dan mencari pekerjaan yang lebih aman. Lima tahun lalu, ia mulai berjualan es jeruk, memilih lokasi strategis di kawasan Pantai Timur Pangandaran.

“Usaha ini paling praktis, paling enak, dan bahan bakunya mudah didapat,” katanya.

Ia membeli jeruk peras dan jeruk sunkist di pasar, lalu mengolahnya langsung di gerobak. Terutama saat akhir pekan, dagangannya bisa ludes diserbu wisatawan yang mencari pelepas dahaga.

Sumber Gambar: Nadha Syabaniyah

Filosofi "Cukup" di Ujung Perantauan

Kini Yefrizal tinggal di area pasar bersama istrinya yang juga membuka usaha nasi dan lauk saat akhir pekan. Dari tiga anaknya, dua memilih merantau, sementara yang bungsu masih bersekolah di Pangandaran.

Di tengah geliat pariwisata dan arus uang yang terus berputar, Yefrizal justru memilih hidup tanpa ambisi berlebihan. Baginya, "cukup" berarti bekerja dengan aman, pulang dengan selamat, dan tetap bisa berkumpul dengan keluarga.

Di balik segelas es jeruk dingin yang ia jual, tersimpan pelajaran berharga tentang keberanian untuk berhenti dan memilih hidup yang lebih tenang. Yefrizal membuktikan bahwa puncak kesuksesan seorang perantau bukan selalu tentang kekayaan, melainkan tentang penemuan kedamaian jiwa di tempatnya berlabuh.