Konten dari Pengguna

Dilema Generasi Kepo: Mengapa Kita Hobi Urus Hidup Orang Lain?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadha Syabaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dari Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dari Gemini AI

Hampir setiap kali ada figur publik yang diterpa rumor atau masalah pribadi, beranda media sosial kita mendadak berubah menjadi ruang sidang massal.

Kolom komentar langsung dipenuhi oleh ribuan netizen yang dengan sangat percaya diri memberikan penilaian, analisis, hingga saran pernikahan atau pola asuh. Mereka seolah-olah menjadi saksi kunci yang hidup berdampingan dengan sang artis.

Fenomena ini dialami oleh banyak selebritas, salah satunya seperti yang belakangan ini ramai menimpa Sarwendah. Kehidupan pribadinya terus-menerus dikupas dan dijadikan bahan diskusi publik oleh orang-orang yang sebenarnya tidak ia kenal secara langsung.

Pertanyaannya: mengapa kita, sebagai netizen, merasa begitu berhak dan gemar ikut campur dalam urusan domestik orang asing?

Bergosip sebagai Komoditas Hiburan

Ketertarikan akut masyarakat terhadap kehidupan personal figur publik sebenarnya tidak muncul di ruang hampa.

Berdasarkan laporan Indonesia Mobile Entertainment & Social Media Trends 2025 yang dirilis oleh lembaga survei Jakpat, tercatat bahwa 70% masyarakat Indonesia menggunakan media sosial utamanya untuk mencari hiburan.

Temuan ini mengonfirmasi adanya perubahan fungsi media sosial. Medsos tidak lagi sekadar alat komunikasi universal, melainkan telah bergeser menjadi ruang rekreasi psikologis.

Dalam ekosistem yang serbadigital ini, konten seputar dinamika kehidupan para selebritas hadir sebagai bentuk hiburan yang paling murah dan paling mudah diakses. Sayangnya, hiburan jenis ini kerap kali mengorbankan privasi orang lain.

Jebakan Hubungan Parasosial

Secara ilmiah, kenyamanan netizen dalam mengomentari hidup orang asing dapat dijelaskan melalui konsep parasocial relationship atau hubungan parasosial.

Ini adalah kondisi di mana audiens membangun ikatan emosional satu arah dengan figur publik. Karena setiap hari kita disuguhi video aktivitas mereka melalui algoritma, perlahan muncul rasa akrab yang semu.

Kita merasa sangat mengenal karakter mereka, bahkan merasa tahu apa yang sedang mereka rasakan di balik layar. Padahal, hubungan tersebut murni ilusi belaka.

Di sisi lain, Teori Uses and Gratifications menjelaskan bahwa audiens secara aktif memilih media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti hiburan atau sekadar mencari bahan obrolan. Mengikuti gosip figur publik secara berulang akhirnya melahirkan rasa familier yang kuat.

Celakanya, pada titik tertentu, sebagian netizen tidak lagi menempatkan diri mereka sebagai penonton. Mereka merasa seolah-olah menjadi bagian dari kehidupan sang figur publik tersebut. Di sinilah batas antara perhatian dan campur tangan menjadi bias.

Mengetahui Bukan Berarti Memiliki

Masalah terbesar dari "Generasi Kepo" hari ini adalah hilangnya kesadaran akan batasan. Akses digital yang diberikan oleh para figur publik melalui konten harian sering kali disalahartikan sebagai hak kepemilikan oleh netizen.

Banyak yang lupa bahwa apa yang tersaji di layar gawai hanyalah sekadar fragmen kecil yang sudah dikurasi, bukan realitas yang utuh. Menghakimi keputusan hidup seseorang berdasarkan potongan video singkat adalah sebuah kecacatan logika.

Hari ini, polanya selalu sama: publik merasa dekat, lalu otomatis merasa berhak. Jika tren ini terus dibiarkan tanpa adanya kesadaran etika digital, ruang siber kita hanya akan dipenuhi oleh penghakiman massal yang toksik.

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan paling krusial yang harus kita asah bukan lagi cara mengakses informasi, melainkan kemampuan menjaga batas diri. Tidak semua unggahan yang melintas di linimasa harus kita komentari, dan tidak semua kabar terbaru memberi kita legalitas untuk menilai.

Bagaimanapun juga, di balik status popularitas mereka, para figur publik adalah manusia biasa yang berhak atas ruang privasi mereka sendiri.