Ketika Mimpi Siswi SMA Bertemu Restu Orang Tua

Saya adalah seorang mahasiswa Universitas Padjajaran prodi ilmu komunikasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nadha Syabaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian siswa SMA, masa sekolah diisi dengan tugas, ujian, dan rencana kuliah. Namun bagi Revelyn Adisti, siswi kelas XI yang akrab disapa Elyn, hari-hari sekolah juga dipenuhi mimpi sederhana yang kerap ia simpan sendiri.
Di sela waktu istirahat, Elyn sering duduk sambil membuka majalah model. Ia memperhatikan langkah para model di halaman-halaman itu, lalu membayangkan dirinya berada di posisi yang sama. Bukan semata ingin terlihat cantik, tetapi ingin berani tampil dan percaya pada diri sendiri.
Tubuh Elyn terbilang mungil. Tak jarang teman-temannya mengira ia masih duduk di bangku SMP. Namun hal tersebut tak pernah membuatnya minder. Justru, Elyn belajar menerima bentuk tubuhnya sebagai bagian dari identitas. Tahi lalat kecil di pipi kirinya menjadi ciri khas yang membuatnya mudah dikenali.
“Menurut aku, model itu bukan cuma soal tinggi badan,” ujar Elyn. “Tapi soal bagaimana kita membawa diri.”
Berlatih Diam-Diam dari Panggung Sekolah
Di sekolah, Elyn dikenal pendiam. Meski begitu, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, terutama lomba fashion show. Ia beberapa kali dipercaya mewakili kelas dan sekolah dalam ajang peragaan busana.
Dari panggung kecil di aula sekolah hingga lomba yang terbuka untuk umum, Elyn selalu menjalani latihan dengan serius. Ia terbiasa datang lebih awal dan pulang paling akhir. Langkah kaki, pose, hingga ekspresi wajah ia ulang berkali-kali sampai merasa yakin.
Salah satu lomba yang paling berkesan baginya adalah Smansa School Fashion Fiesta. Ajang tersebut diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai sekolah. Persiapannya memakan waktu cukup lama, mulai dari menentukan konsep busana, latihan pose, hingga teknik berjalan.
Bahkan di hari libur, Elyn tetap meluangkan waktu untuk berlatih. Baginya, lomba bukan hanya soal menang, tetapi tentang proses dan keberanian mengasah diri.
Juara Pertama yang Tak Pernah Diceritakan
Usaha itu berbuah hasil. Di ajang tersebut, Elyn berhasil meraih juara pertama. Sorakan penonton dan pelukan sahabat-sahabatnya menjadi momen yang tak mudah ia lupakan.
Namun, ada satu hal yang mengganjal. Prestasi itu tak pernah ia ceritakan di rumah.
Selama ini, Elyn mengikuti lomba secara diam-diam. Ia pernah meminta izin orang tuanya, tetapi selalu ditolak. Mereka khawatir dunia fashion tidak sesuai dengan nilai keluarga. Selain itu, profesi model dianggap penuh risiko dan tidak menjanjikan masa depan yang jelas.
“Aku paham mereka takut,” kata Elyn. “Tapi capek juga kalau harus menyimpan semuanya sendiri.”
Lomba yang Mengharuskan Kejujuran
Kesempatan yang mengubah segalanya datang ketika sekolah mengumumkan Kemenpora Cup Fashion Show Competition & PWI Jaya. Berbeda dari lomba sebelumnya, ajang ini mensyaratkan surat izin orang tua.
Elyn ragu. Ia takut ditolak lagi, tetapi juga takut menyesal jika tidak mencoba. Setelah menimbang cukup lama, ia akhirnya memberanikan diri berbicara dengan orang tuanya.
Ia menceritakan proses latihan yang selama ini dijalani, alasan ketertarikannya pada dunia modeling, serta janjinya untuk menjaga diri dan nama baik keluarga. Percakapan itu berlangsung cukup lama dan tidak langsung berujung pada izin.
Namun sejak saat itu, ada perubahan kecil di rumah. Sang ibu mulai memperhatikan latihan Elyn. Kadang berdiri di depan pintu kamar, kadang masuk membawa segelas air. Hal-hal sederhana, tetapi berarti.
Beberapa minggu sebelum lomba, sang ibu menghampiri Elyn sambil membawa selembar kertas. Itu adalah surat persetujuan orang tua yang sudah ditandatangani ayahnya.
Datang ke Panggung Tanpa Piala, Pulang dengan Restu
Hari lomba tiba. Saat melangkah ke panggung, Elyn melihat orang tuanya duduk di antara penonton. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar didukung.
Elyn tidak membawa pulang piala dari ajang tersebut. Namun ketika turun dari panggung, orang tuanya sudah menunggunya.
“Juara itu bonus,” ujar sang ibu. “Yang penting kamu berani dan tanggung jawab.”
Ayahnya menepuk pundaknya pelan dan berkata, “Papa bangga.”
Bagi Elyn, itulah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan soal gelar, melainkan ketika mimpi yang selama ini ia simpan akhirnya berjalan seiring dengan restu orang tua. Sebuah pengingat bahwa keberanian mengejar mimpi sering kali dimulai dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan keluarga.
