Konten dari Pengguna

Etno-Box: Belajar Geometri Lewat Jajanan Tradisional

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadhifa Rayya Fahrozi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Etno-Box: Belajar Geometri Lewat Jajanan Tradisional
zoom-in-whitePerbesar

Apa hubungan lontong, kue lapis, dan onde-onde dengan pelajaran matematika? Bagi sebagian orang, ketiganya mungkin hanya jajanan tradisional. Namun, jika diamati dari bentuknya, makanan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan konsep bangun ruang kepada siswa.

Gagasan inilah yang melatarbelakangi pengembangan Etno-Box oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama MTs Amal Sholeh di Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Melalui media pembelajaran ini, siswa diajak menghubungkan benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dengan konsep geometri yang mereka pelajari di kelas.

Matematika Tidak Harus Selalu Berawal dari Rumus

Geometri membutuhkan kemampuan untuk mengenali bentuk, membayangkan objek dalam ruang, serta memahami karakteristik bangun. Bagi siswa, konsep tersebut terkadang terasa abstrak ketika hanya dipelajari melalui gambar dua dimensi atau penjelasan di papan tulis.

Di MTs Amal Sholeh, kebutuhan terhadap pembelajaran yang lebih konkret menjadi salah satu hal yang diperhatikan tim ketika berkoordinasi dengan sekolah pada 24 Agustus 2026. Data Rapor Pendidikan yang digunakan dalam identifikasi kebutuhan menunjukkan capaian numerasi sebesar 62,78% dan capaian pada aspek geometri sebesar 64,79%.

(Sumber: Rapor Pendidikan MTs Amal Sholeh.)

Angka tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk merancang kegiatan yang dekat dengan pengalaman siswa. Tim kemudian mengembangkan Etno-Box, yakni media berisi miniatur jajanan tradisional yang dipasangkan dengan konsep bangun ruang.

Dalam media ini, sumpil digunakan untuk mengenalkan prisma segitiga, kue lapis sebagai balok, lontong sebagai tabung, apem sebagai kerucut, kue bugis sebagai limas, dan onde-onde sebagai bola. Melalui pengamatan bentuk, siswa dapat membandingkan objek konkret dengan model geometri yang dipelajari.

Pengenalan bentuk juga menjadi kesempatan untuk membahas bahwa bentuk miniatur merupakan penyederhanaan dari benda aslinya. Dengan demikian, siswa tidak hanya diminta menghafal nama bangun, tetapi juga belajar mengamati karakteristik bentuk dan menghubungkannya dengan representasi matematika.

Mengajak Siswa Berpikir, Bukan Sekadar Menghafal

Etno-Box tidak hanya digunakan sebagai kumpulan miniatur. Kegiatan pembelajaran dilengkapi kartu tantangan yang disusun berdasarkan empat langkah pemecahan masalah Polya: memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali jawaban.

Melalui tahapan tersebut, siswa didorong untuk memahami informasi dalam soal, menentukan strategi penyelesaian, melakukan perhitungan, dan meninjau kembali hasilnya. Pendekatan ini memberi ruang bagi siswa untuk berlatih bernalar, bukan hanya mencari jawaban akhir.

Kegiatan pembelajaran dan pengukuran awal dilaksanakan pada 2 Oktober 2026 dengan melibatkan 32 siswa kelas IX B dan IX C. Rata-rata nilai pretest tercatat sebesar 61,56, sedangkan rata-rata post-test mencapai 83,28. Dengan demikian, terdapat kenaikan rata-rata sebesar 21,72 poin setelah rangkaian pembelajaran dilaksanakan.

(Sumber: Data hasil pre-test dan post-test peserta didik MTs Amal Sholeh, 2 Oktober 2026.)

Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai antara pengukuran awal dan akhir dalam kegiatan ini. Meski demikian, karena kegiatan tidak menggunakan kelompok kontrol, perubahan nilai tersebut belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa Etno-Box merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan peningkatan hasil belajar.

Dari sisi tanggapan siswa, rata-rata hasil angket mencapai 91,5%. Aspek tampilan dan daya tarik memperoleh nilai 97%, manfaat pembelajaran 91%, ketertarikan 90%, serta kemudahan penggunaan 88%. Hasil ini memberikan gambaran bahwa media memperoleh respons positif dari siswa yang mengikuti kegiatan.

Budaya Lokal sebagai Sumber Belajar

Pemilihan jajanan tradisional juga memiliki makna di luar pembelajaran matematika. Tim mengangkat konteks budaya melalui jajanan yang berkaitan dengan tradisi Weh-wehan di Kaliwungu, Kendal. Tradisi tersebut dikenal sebagai bagian dari kebiasaan saling memberi makanan. Pemilihan jajanan tradisional juga memiliki makna di luar pembelajaran matematika. Tim mengangkat konteks budaya melalui jajanan yang berkaitan dengan tradisi Weh-wehan di Kaliwungu, Kendal. Tradisi tersebut dikenal sebagai bagian dari kebiasaan saling memberi makanan (Pemerintah Kecamatan Kaliwungu, 2026).

Dengan memasukkan unsur budaya ke dalam media pembelajaran, siswa dapat melihat bahwa pengetahuan di ruang kelas tidak selalu terpisah dari lingkungan sosialnya. Benda-benda yang dikenal dalam keseharian dapat menjadi sumber belajar, sekaligus membuka percakapan mengenai tradisi dan nilai yang menyertainya.

Pendekatan ini bukan berarti menyederhanakan budaya hanya menjadi bentuk geometri. Informasi mengenai asal-usul dan makna tradisi tetap perlu disampaikan secara tepat. Pembelajaran matematika dan pengenalan budaya dapat berjalan berdampingan tanpa menghilangkan konteks masing-masing.

Kontribusi terhadap SDGs Melalui Kolaborasi Pendidikan

Pengembangan Etno-Box berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Media pembelajaran kontekstual dapat menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan siswa serta memberi kesempatan untuk melatih pemahaman dan penalaran.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pelaksanaan program melibatkan mahasiswa, dosen pendamping, dan pihak sekolah mitra dalam proses identifikasi kebutuhan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, hingga penyerahan media.

Pada akhir kegiatan, Etno-Box beserta buku panduan diserahkan kepada pihak sekolah agar dapat dimanfaatkan kembali. Keberlanjutan penggunaannya tentu memerlukan dukungan guru, penyesuaian dengan materi pembelajaran, serta pemeliharaan media agar tetap dapat digunakan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Benda-benda sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa pun dapat menjadi sarana untuk membangun pembelajaran yang lebih kontekstual ketika dirancang berdasarkan kebutuhan dan dikembangkan bersama mitra.

Bagi tim PKM-PM UNNES, Etno-Box menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan matematika, budaya lokal, dan kolaborasi pendidikan. Harapannya, media ini tidak berhenti sebagai produk kegiatan, tetapi dapat terus digunakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Referensi

Pemerintah Kecamatan Kaliwungu. (2026, 21 Agustus). Weh-Wehan, Tradisi Khas Kaliwungu yang Terus Dijaga dan Dilestarikan. https://kecamatan-kaliwungu.kendalkab.go.id/detail-public-berita/dEM2d3Zlbm1HRHBtMkxCODN2ZjlyUT09/weh-wehan-tradisi-khas-kaliwungu-yang-terus-dijaga-dan-dilestarikan

Sari, P. M. R., & Priyanto, A. S. (2019). Silaturahim sebagai bentuk utama dalam kepedulian sosial pada tradisi Weh-wehan di Kaliwungu. Indonesian Journal of Conservation, 8(1). https://doi.org/10.15294/ijc.v8i1.22682