Konten dari Pengguna

Mengenal Lebih Dalam Upacara Minum Teh di Jepang

Nadhira Meizahra

Nadhira Meizahra

Mahasiswi S1 Studi Kejepangan di Universitas Airlangga.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadhira Meizahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nadhira Meizahra, Mahasiswi Prodi Studi Kejepangan, Universitas Airlangga.

Teh Hijau Jepang | Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Teh Hijau Jepang | Foto: Unsplash

Mengenal Lebih Dalam Tradisi Upacara Minum Teh di Jepang

Jepang merupakan salah satu negara maju yang dikenal akan kecanggihan teknologi dan keberagaman budayanya. Negeri sakura ini memiliki banyak adat serta tradisi yang menarik untuk diketahui mulai dari ragam festival, perayaan tahun baru, kesenian merangkai bunga (Ikebana) hingga upacara minum teh. Upacara minum teh (dikenal juga dengan Sadoo atau Chanoyu) merupakan salah satu ragam budaya tradisional Jepang yang masih dilakukan hingga saat ini.

Sadoo atau Chanoyu adalah salah satu ritual masyarakat Jepang yang dilakukan oleh tuan rumah saat menjamu tamu dengan gaya tradisional. Istilah Chanoyu apabila ditulis dalam aksara Jepang akan menjadi 茶の湯. Chanoyu dilihat dari karakter huruf kanjinya terdiri dari huruf-huruf sebagai berikut cha (茶) artinya teh, no (の) sebagai partikel penghubung, dan yu (湯) air hangat atau air panas. Arti kata chanoyu secara harafiah adalah “air panas untuk teh”. (Teti Indriati Kastuti, 2018: 79-91). Chanoyu mempunyai nama lain yakni chado (茶道) yang berarti “cara pembuatan teh”, namun kemudian berkembang lebih luas menjadi upacara minum teh dalam tradisi Jepang.

Dari pengertian ketiga karakter ini, chanoyu secara harfiah dapat diartikan sebagai air panas yang dituangkan ke dalam teh atau air panas untuk teh. Sedangkan sadoo memiliki artian ‘cara minum teh’. Nama ‘Sadoo’ atau ‘Chanoyu’ ini muncul sejak periode awal Edo dan digunakan hingga sekarang.

Menurut artikel Istilah Bahasa Jepang “Chanoyu” (2015), Pada upacara minum teh ini terdapat 2 jenis teh yang digunakan. Kedua jenis ini adalah koicha dan usucha. Koicha adalah teh hijau yang memiliki warna gelap. Teh ini dikonsumsi dengan diseduh menggunakan sedikit air panas dan diminum secara bergiliran oleh beberapa orang. Usucha sendiri adalah teh hijau yang memiliki warna lebih muda dan cerah. Teh ini diseduh dengan air panas yang cukup banyak dan diminum sendiri oleh satu orang. Pada saat ini, sadoo cenderung dilaksanakan dengan gaya yang lebih kasual. Upacara ini biasanya diadakan di ruangan bertatami. Namun apabila tidak ada ruangan bertatami, pelaksanaannya dapat dilakukan di meja. Beberapa orang yang tidak dapat duduk bersimpuh juga diperbolehkan untuk duduk di kursi.

Meski upacara ini sangat dikenal sebagai budaya Jepang, namun awal mula upacara minum teh ini justru berasal dari daratan Cina. Sekitar 1400 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya daun teh dikenalkan di negara Jepang oleh seorang biksu Buddha. Namun teh belum mendapat banyak atensi masyarakat Jepang pada saat itu. (Rahmah, Y., Widisuseno, I., Wiyatasary, R., & Mulyadi, B, 2017). Hingga beberapa ratus tahun kemudian, pada periode Kamakura (1192-1333), seorang biksu Buddha Zen asal Jepang bernama Eisai berhasil memperkenalkan budaya minum teh ini ke masyarakat luas. (Fajria Novinia, 2015). Beliau mempelajari budaya minum teh ini di Cina sembari menemba ilmu disana. Menurut tradisi Buddha, teh digunakan untuk meningkatkan kesiagaan saat melakukan meditasi. Oleh karena itu ritual minum teh ini memiliki pengaruh dari ajaran agama Buddha aliran Zen.

Pada awalnya, ritual ini hanya diselenggarakan di kalangan kaum bangsawan dan dijadikan sebagai salah satu perayaan kejadian penting yang memiliki kaitan dengan kaum bangsawan tersebut. Pelaksanaannya dilakukan di dalam ruangan kecil khusus untuk melaksanakan chanoyu (chashitsu). (Fajria Novinia, 2015). Namun Sen no Rikyuu, seorang penganut setia agama Buddha Zen dimana terdapat ajaran mengenai kesederhanaan, menjadi pelopor baru dengan membawa pemikiran tentang kesederhanaan ke dalam ritual ini. Pemikirannya didukung oleh seorang bangsawan yang berpengaruh pada masa itu. Bangsawan ini meminta Rikyuu untuk menjadi pembawa upacara dalam pelaksanaan chanoyu yang ia selenggarakan. Hingga akhirnya pemikiran Rikyuu ini berhasil membuat ritual chanoyu tetap eksis hingga saat ini.

Hadirnya kebiasaan minum teh pada masa itu menjadi penenang bagi para prajurit selama masa perang dimana mereka banyak menghabiskan waktu di medan pertempuran. Sejak saat ini lah Chanoyu menjadi ritual tradisional bagi bangsa Jepang. (Reny Wiyatasari, 2018)

Upacara minum teh ini tergolong sebagai salah satu seni tradisional Jepang yang memiliki sekitar 36 aliran dalam pelaksanaannya dan perlu dipelajari secara khusus.

Prosesi chanoyu tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan terdapat urutan dalam pelaksanaannya. Pertama, tamu yang diundang oleh tuan rumah akan duduk dan menunggu di luar chashitsu. Karena ruangan chashitsu yang hanya berukuran 8,93m² atau setara dengan 4 ½ tatami, tamu yang diundang biasanya hanya berjumlah tiga orang. Setelah tamu ini disambut oleh tuan rumah, mereka akan memasuki ruangan secara bergiliran dan duduk di atas tatami. Para tamu akan diberikan waktu sejenak untuk memandangi hiasan dalam ruangan tersebut lalu tuan rumah akan membacakan haiku yaitu sebuah puisi yang menceritakan tentang ketenangan dan keheningan bagi tamu yang dijamunya. (Fajria Novinia, 2015)

Setelah itu, tuan rumah akan memberi hidangan lengkap dari nasi putih, sup dan hidangan laut serta sayuran kepada tamu. Setelah satu set hidangan ini habis dikonsumsi, barulah tuan rumah akan menjamu tamu dengan pemberian teh dan hidangan ringan yang manis. Teh ini diseduh secara langsung di depan para tamu agar dapat diminum selagi hangat.

Setelah hidangan ringan telah disantap, tuan rumah akan membersihkan semua peralatan minum teh. Setelahnya teh disajikan kembali di peralatan tersebut. Dimulai dengan memasukkan tiga sendok bubuh teh hijau ke dalam mangkuk teh, dituang air panas dan kemudian diaduk dengan chasen atau pengaduk teh yang terbuat dari bambu. Setelah itu, tuan rumah memberikan teh kepada tamu yang diambil dengan tangan kanan dan diletakkan di tangan kiri. Lalu diputar sebanyak dua kali searah jarum jam dan diminum melalui sisi mangkuk teh yang tidak memiliki motif atau hiasan. Setelah selesai meminum teh, tamu akan membersihkan mangkuk teh tersebut dengan jarinya lalu membersihkan jari dengan serbet kertas kecil yang disediakan oleh tuan rumah. Setelah ini dilakukan, barulah peralatan minum dapat dikembalikan kepada tuan rumah. (Fajria Novinia, 2015)

Ritual minum teh ini berbeda dengan sekadar meminum teh pada umumnya. Chanoyu juga mengandung ajaran dan makna dalam pelaksanaannya, antara lain:

1. Pembelajaran Tata Krama

Jepang dikenal sebagai negara maju yang menjunjung tinggi tata krama dan kesopanan. Nilai tata krama dan kesopanan ini tercermin dari upacara minum teh atau Chanoyu. Hal ini terlihat dari pelaksanaannya, biasanya tuan rumah yang mengadakan upacara minum teh ini akan menyuguhkan makanan ringan sebagai bentuk tata krama dan penghargaan pada tamu.

2. Mengandung Nilai Hormat dan Kekeluargaan

Masyarakat Jepang memiliki karakteristik menghormati orang lain. Penghormatan ini khususnya ditunjukkan dari seseorang yang lebih muda kepada seseorang yang lebih tua, seseorang kepada orang lain yang lebih dihormati, bawahan kepada atasan dan termasuk tuan rumah kepada tamunya, terutama dalam pelaksanaan upacara minum teh.

3. Melatih Ketepatan Waktu dan Kesabaran

Setiap gerakan dalam pembuatan teh ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak boleh tergesa-gesa. Begitu pula dengan cara duduk pada saat upacara minum teh. Saat upacara dilaksanakan, orang membutuhkan kesabaran sembari duduk dengan posisi seiza dimana kedua lutut menjadi tumpuan saat duduk. Karena upacara minum teh tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa dan sangat hati-hati, posisi duduk ini harus dijaga hingga upacara selesai. Beberapa orang yang tidak terbiasa dengan posisi duduk ini akan mengalami kesemutan. Oleh karena itu, kesabaran sangat dibutuhkan dalam pembuatan teh serta menjaga posisi duduk seiza. Upacara minum teh juga memiliki manfaat dalam melatih kedisiplinan. Kedisiplinan dalam ketepatan waktu, kedisiplinan dalam menjaga posisi duduk serta kedisiplinan dalam menggunakan peralatan chanoyu.

4. Memelihara Kesehatan

Teh hijau diketahui memiliki kandungan yang bermanfaat bagi yang mengonsumsi. Beberapa manfaat tersebut diantaranya: dapat memperkuat gigi, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah hipertensi dan penyakit kanker, menyegarkan tubuh dan mengoptimalkan metabolisme dalam tubuh.

Berbeda dengan cara membuat teh seperti pada umumnya, upacara minum the memiliki alat-alat yang wajib digunakan dan urutan tertentu. Alat yang digunakan selama pelaksanaan ritual ini antara lain: centong air (hishaku), gentong air (okama), mangkuk teh (chawan), sendok teh (chasaku), wadah untuk bubuk teh (natsume), pengaduk teh (chasen), dan bubuk teh hijau (matcha). Namun pada saat ini, beberapa upacara minum teh dilakukan secara semi-formal dengan aturan yang lebih mudah. (Reny Wiyatasari, 2018).

Upacara minum teh di Jepang ini tidak sama dengan meminum teh seperti pada umumnya. Ritual ini dilakukan melalui urutan dan aturan dalam pelaksanaannya. Budaya ini memiliki makna dan filosofi tersendiri dan mencerminkan sifat warga negara Jepang yang berhati-hati dalam melakukan sesuatu, melatih kesabaran serta menghormati orang lain. Penjunjungan tata krama dan etika tidak hanya diperuntukkan tuan rumah saja, namun berlaku juga untuk tamu yang diundang. Sebagai tamu, mereka harus mempelajari etika minum teh dan etika menikmati makanan yang dihidangkan. Ritual ini mencakup cara berpikir, kesederhanaan, tujuan hidup dan nilai seni. Orang yang mempelajari seni dari upacara ini perlu mendalami ritual selama beberapa tahun bahkan menyempurnakannya hingga seumur hidup. Saat ini pun terdapat sekolah khusus untuk mempelajari upacara minum teh ini, karena pembelajaran mengenai ritual ini tidak hanya dipraktekkan saja namun harus terus diperdalam dan disempurnakan. Beberapa orang yang mempelajari tradisi ini dapat memakan waktu bertahun-tahun bahkan hingga seumur hidupnya.

Referensi:

Noviana, F. (2015). KESEDERHANAAN WABICHA DALAM UPACARA MINUM TEH JEPANG. IZUMI, 4(1), 37-43.

Rahmah, Y., Widisuseno, I., Wiyatasary, R., & Mulyadi, B. (2017). PELATIHAN CHANOYU UPACARA MINUM TEH JEPANG UNTUK MENGGALI NILAI-NILAI BUDAYA SERTA MANFAAT YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA. Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 37-41.

Wiyatasari, R. Penyajian Teh oleh Teishu dalam Ritual Sadoo: Potret Representasi Karakter Bangsa Jepang. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 1(2), 194-202.

Kimiecik, M. K. (2019). Chanoyu: History and Practice. The Histories, 9(1), 4.

Sadler, A. L. (2011). Japanese Tea Ceremony: Cha-No-Yu. Tuttle Publishing.

Ali, A., Anwar, R., Hassan, O. H., & Kamarun, H. R. (2013). Significance of Japanese tea ceremony values with ceramic art interpretation. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 106, 2390-2396.

Pitelka, M. (Ed.). (2013). Japanese Tea culture: art, history and practice. Routledge.

Ota, T., Takeda, T., Lu, X., Kida, N., Hara, T., & Goto, A. (2017, July). Study of the Effects of Japanese Tea Ceremony Will Give the Peace of Mind of Guests. In International Conference on Digital Human Modeling and Applications in Health, Safety, Ergonomics and Risk Management (pp. 348-357). Springer, Cham.

Matcha. (2015, 8 Desember). ISTILAH BAHASA JEPANG “CHANOYU”. www.matcha-jp.com/id/1379 (diakses pada tanggal 2 Januari 2021).

Kumparan.com. (2018, 20 Februari). CHANOYU, UPACARA MINUM TEH ASAL JEPANG YANG SARAT AKAN MAKNA. https://kumparan.com/kumparanfood/chanoyu-upacara-minum-teh-asal-jepang-yang-sarat-akan-makna. (diakses pada tanggal 30 Desember 2020).

Japan-guide.com. (2020, 8 Juni). TEA CEREMONY. https://www.japan-guide.com/e/e2096.html. (diakses pada tanggal 5 Januari 2021).

Kastuti, T. I. (2018). Nilai Filosofis dalam Chanoyu. Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture, 1(1), 79-91.