Pemanfaatan Pipa Paralon Dalam Pembuatan Palem Pasut Oleh Mahasiswa KKN Undip

TIM II KKN Undip Desa Pecakaran
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadia Chaerani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekalongan (5 Agustus 2024) - Desa Pecakaran merupakan salah satu wilayah yang masih terdampak pasang surut air laut karena letaknya yang berada di pesisir pantai. Pasang surut air laut sendiri merupakan suatu fenomena dimana ketinggian permukaan laut berubah akibat adanya gaya gravitasi benda langit khususnya matahari dan bulan. Pasang dapat terjadi ketika sisi bumi berada paling dekat dengan bulan, sehingga sisi tersebut akan mengalami tarikan gravitasi bulan yang cukup kuat. Sedangkan air surut akan terjadi ketika belahan bumi lain merasakan gaya gravitasi bulan yang kecil. Air surut juga akan terjadi pada wilayah lain yang tidak mengalami air pasang, karena laut bagian lain akan mengambil jatah dari belahan bumi lain dan menyebabkan air surut. Pasang tinggi adalah naiknya permukaan air laut dan pasang surut adalah turunnya permukaan laut. Dalam satu hari bisa terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Pasang surut terjadi setiap hari dengan ketinggian yang berbeda-beda. Pasang tertinggi yang sering terjadi di pesisir Desa Pecakaran yaitu setinggi 290 cm dimana dengan ketinggian tersebut air sudah hampir meluap ke daratan. Sedangkan ketika air laut berada pada posisi surut berada pada ketinggian di bawah 250 cm.
Letak Desa Pecakaran yang berada di pesisir laut maka menyebabkan sebagian besar warga laki-laki desa bekerja sebagai nelayan. Baik dari usia muda sampai yang sudah beristri mereka semua mengandalkan hasil melaut sebagai sumber mata pencaharian. Nelayan yang ada di Desa Pecakaran sangat beragam, ada yang melaut hanya beberapa hari, beberapa bulan bahkan juga ada yang sampai 1 tahun hanya kembali beberapa kali saja. Tujuan mereka bukan hanya di wilayah pesisir Desa Pecakaran saja bahkan sampai ke luar kota hingga ke luar negeri sekalipun. Dengan adanya fenomena pasang surut ini dapat memberi manfaat untuk masyarakat Desa Pecakaran terutama mereka yang berprofesi sebagai nelayan. Nelayan memanfaatkan fenomena pasang surut ini untuk dijadikan patokan dalam berlayar dan mencari ikan. Para nelayan akan pergi berlayar ketika air laut sedang surut dan akan kembali pulang ketika air laut sedang pasang. Karena sebagian besar mata pencaharian masyarakat Desa Pecakaran adalah nelayan, maka sangat diperlukan informasi mengenai pasang surut yang terjadi setiap harinya. Perlu dilakukannya monitoring terhadap kenaikan atau penurunan air laut ini. Monitoring ini juga dilakukan sebagai bentuk antisipasi jika terjadi pasang tinggi yang dapat menyebabkan bencana banjir di wilayah pesisir.
Oleh karena itu, Mahasiswa KKN Undip Tim II menjalankan sebuah program kerja berupa pembuatan alat pengukur pasang surut dari bahan yang mudah ditemukan dan mudah dibuat yaitu dari pipa paralon. Alat pengukut pasang surut ini akrab disebut dengan palem pasut. Palem pasut ini dibuat oleh Nadia yang berkolaborasi dengan Beta yang memberi penjelasan mengenai perawatan palem pasutnya. Palem pasut diletakkan di muara atau lebih tepatnya di dekat rumah pompa dengan tujuan agar mudah dipantau oleh penjaga pompa air dan juga masyarakat juga dapat memantaunya secara langsung. Palem pasut ini juga dibuat dengan tujuan mempermudah penjaga pompa air ketika melaporkan ketinggian air setiap jamnya. Karena pale scale yang sebelumnya sudah ada disana sudah tidak dapat terbaca lagi. Sehingga palem pasut ini juga difungsikan sebagai pembaruan dari pale scale yang ada sebelumnya. Diharapkan dengan adanya pembuatan palem pasut ini dapat membantu masyarakat Desa Pecakaran dan juga penjaga rumah pompa dalam menjalankan pekerjaan sehari-harinya.
