AI Mengerjakan Tugas Mahasiswa, Sebenarnya Siapa yang Sedang Belajar?

Seorang mahasiswa fakultas hukum di Universitas Mulawarman
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nadia Fitriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
AI membantu mahasiswa belajar lebih cepat, tetapi ketergantungan pada teknologi ini dapat menggeser proses berpikir.

Penggunaan AI semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ada satu pemandangan yang rasanya semakin biasa di dunia perkuliahan: tugas belum selesai, tetapi jawabannya sudah ada. Cukup menuliskan pertanyaan di chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI), beberapa detik kemudian muncul jawaban yang terlihat rapi, lengkap, bahkan meyakinkan. Tinggal dibaca sebentar, disesuaikan, lalu dikumpulkan.
Kemudahan seperti ini tentu sulit untuk ditolak. AI bisa membantu mahasiswa memahami materi yang rumit, menemukan ide ketika sedang buntu, menyusun kerangka tulisan, sampai memberikan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Dalam kondisi tertentu, AI bahkan bisa menjadi teman belajar yang cukup efektif.
Namun, ada pertanyaan yang menurut saya justru lebih penting daripada sekadar memperdebatkan boleh atau tidaknya mahasiswa menggunakan AI: ketika AI mulai mengerjakan sebagian besar tugas kita, sebenarnya siapa yang sedang belajar?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena penggunaan AI di kalangan generasi muda terus meningkat. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2025 menunjukkan bahwa Generasi Z menjadi kelompok pengguna AI terbesar dalam survei tersebut, dengan persentase 43,7 persen. Penggunaan AI untuk edukasi dan pembelajaran juga mencapai 43,98 persen, meningkat dibandingkan 21,84 persen pada 2024. AI jelas sudah bukan sekadar teknologi yang dibicarakan; ia telah masuk ke dalam keseharian proses belajar.
Masalahnya, penggunaan AI dalam pendidikan tidak selalu berhenti pada membantu belajar. Ada perbedaan antara menggunakan AI untuk memahami materi dengan menggunakan AI agar kita tidak perlu memahami materi tersebut. Yang pertama membuat AI berfungsi sebagai alat bantu. Yang kedua berpotensi menjadikan AI sebagai pengganti proses berpikir. Perbedaannya memang terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa besar.
Bayangkan seorang mahasiswa mendapatkan tugas untuk menganalisis suatu permasalahan. Ia bisa menggunakan AI untuk mencari sudut pandang awal, kemudian membaca sumber yang relevan, membandingkan informasi, dan menyusun pendapatnya sendiri. Dalam situasi seperti ini, AI membantu proses belajar tanpa mengambil alih seluruhnya.
Sebaliknya, jika mahasiswa langsung meminta AI membuat jawaban lengkap, menyalinnya, lalu mengumpulkan tanpa benar-benar memahami isinya, tugas tersebut memang selesai. Tetapi apakah tujuan pembelajarannya juga tercapai?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan pada 2026 terhadap mahasiswa Generasi Z di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan bahwa AI dapat memberikan manfaat terhadap kinerja tugas, produktivitas akademik, dan kepercayaan diri mahasiswa. Namun, penggunaan AI yang intensif juga dikaitkan dengan perubahan perilaku belajar, termasuk kecenderungan bergeser dari rasa ingin tahu menuju orientasi yang lebih berfokus pada hasil. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya potensi penurunan keterlibatan dalam berpikir reflektif, berpikir kritis, dan pembelajaran kolaboratif.
Di sinilah persoalan sebenarnya berada. Bukan pada keberadaan AI, melainkan pada kebiasaan kita ketika menggunakannya.
Teknologi selalu menawarkan sesuatu yang disukai manusia: kemudahan. Ketika sebuah pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu satu jam bisa dipangkas menjadi beberapa menit, tentu ada godaan untuk memilih cara yang paling cepat. Tetapi pendidikan memang tidak selalu dirancang untuk menghasilkan sesuatu secepat mungkin. Ada proses membaca, mencoba, salah, mencari tahu, mempertanyakan, dan menyusun kembali pemahaman. Proses-proses itulah yang sering kali justru membuat seseorang benar-benar belajar.
Karena itu, menurut saya, mengatakan bahwa AI adalah musuh pendidikan juga bukan solusi. Mahasiswa tetap perlu diberi ruang untuk menggunakan teknologi yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk mengetahui kapan AI membantu dan kapan AI justru mengambil alih.
UNESCO sendiri melalui survei global terhadap 400 responden dari perguruan tinggi di 90 negara menemukan bahwa hampir dua pertiga institusi yang disurvei telah memiliki atau sedang mengembangkan panduan penggunaan AI. Survei tersebut juga menemukan adanya kekhawatiran terkait persoalan etika, termasuk ketergantungan mahasiswa dan masalah kepengarangan dalam karya akademik.
Artinya, perguruan tinggi di berbagai negara sedang menghadapi persoalan yang sama: bagaimana memanfaatkan AI tanpa kehilangan tujuan utama pendidikan.
Menurut saya, jawabannya tidak cukup dengan membuat larangan. Kampus juga perlu memikirkan kembali bentuk tugas dan cara menilai mahasiswa. Jika tugas hanya meminta sebuah jawaban akhir, AI memang akan sangat mudah mengambil alih. Namun, jika mahasiswa diminta menjelaskan proses berpikirnya, mempertanggungjawabkan sumber yang digunakan, mempresentasikan argumennya, atau merefleksikan apa yang telah dipelajari, kemampuan berpikir tetap menjadi bagian penting dari penilaian.
Pada akhirnya, AI seharusnya membuat manusia menjadi lebih mampu, bukan menjadi semakin bergantung.
Kita boleh meminta AI menjelaskan materi yang sulit. Kita boleh menggunakannya untuk mencari ide atau menguji argumen. Kita bahkan boleh memanfaatkannya untuk membuat proses belajar menjadi lebih efisien. Tetapi setelah semua itu, tetap ada satu hal yang tidak seharusnya kita serahkan sepenuhnya kepada mesin: proses berpikir kita sendiri.
Sebab, tugas yang selesai bukan selalu tanda bahwa kita sudah belajar. Dan jawaban yang benar belum tentu berarti kita benar-benar memahami.
