Konten dari Pengguna

Pendidikan Tidak Hanya Bertujuan Mencapai Nilai Tetapi Juga Memahami Siswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nadia lubna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar asli namun dipercantik melalui AI
zoom-in-whitePerbesar
gambar asli namun dipercantik melalui AI

Menerapkan Pendekatan Humanistik Untuk Menciptakan Pembelajaran Yang Lebih Mausiawi.

Pendidikan tidak hanya mencari nilai tetapi juga memahami siswa. Pendidikan selama ini sering dikaitkan dengan nilai sebagai tolok ukur keberhasilan siswa. Nilai yang tinggi menunjukkan bahwa siswa sudah memahami dengan baik materi yang diajarkan. Padahal, kemampuan setiap siswa tidak selalu bisa dinilai hanya dengan angka. Ada siswa yang berprestasi di bidang akademik, tapi ada juga yang lebih terkenal karena kreativitas, kemampuan berbicara, keterampilan, atau kerja sama mereka. Sebab itu, pendidikan tidak hanya seharusnya memperhatikan hasil belajar saja, tetapi juga proses pertumbuhan dan perkembangan siswa. Menurut saya, memahami siswa adalah hal penting dalam membuat sistem pendidikan yang lebih berlandaskan pada nilai manusia.

Pandangan itu sesuai dengan teori humanistik dalam psikologi pendidikan. Teori humanistik melihat siswa sebagai orang yang punya kebutuhan, perasaan, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda-beda. Para tokoh seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers begitu menekankan pentingnya pertumbuhan diri serta kepuasan kebutuhan peserta didik dalam proses belajar. Siswa bukan hanya dianggap sebagai orang yang mendengarkan materi dari guru, tetapi sebagai orang yang aktif dalam mengembangkan dirinya sendiri. Dengan cara ini, proses belajar diharapkan bisa membantu anak-anak mengenali kemampuan dan bakat yang mereka punya. Jadi, pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak materi yang bisa dikuasai, tetapi juga tentang bagaimana siswa tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Dalam teori humanistik, kondisi perasaan siswa juga harus dipertimbangkan. Siswa yang merasa nyaman, dihargai, dan diterima akan lebih mudah fokus dalam pembelajaran. Tekanan berlebihan terhadap nilai bisa membuat siswa merasa takut untuk membuat kesalahan. Ketika siswa hanya fokus pada mendapatkan nilai yang baik, proses belajar bisa jadi hanya sekadar berburu angka. Menurut saya, kesalahan saat belajar tidak selalu berarti gagal, tetapi bisa jadi bagian dari proses belajar untuk tumbuh dan berkembang. Guru harus mencoba menciptakan lingkungan belajar yang membuat siswa merasa nyaman untuk mencoba, bertanya, dan menyampaikan pendapat mereka.

Peran guru sangat penting dalam menerapkan pendekatan humanistik. Guru tidak hanya mengajar materi saja, tetapi juga harus mengenali kepribadian dan kebutuhan setiap siswanya. Setiap anak mempunyai metode belajar, kemampuan, dan pengalaman yang berbeda, jadi metode yang diterapkan tidak selalu sama untuk semua. Guru bisa memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaikan pendapat, mendiskusikan, bekerja bersama, dan memilih cara tertentu dalam menyelesaikan tugas. Dengan cara itu, siswa merasa bahwa dirinya didukung dan memiliki bagian dalam proses belajar. Menurut saya, guru yang bisa menjadi teman sekaligus pembimbing dapat membantu siswa belajar dengan lebih nyaman dan bermakna.

Namun, memahami siswa tidak berarti bahwa pendidikan tidak perlu memiliki tujuan atau standar nilai. Nilai dan hasil belajar tetap penting karena bisa menjadi salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana perkembangan akademik siswa. Masalahnya muncul ketika nilai menjadi satu-satunya cara untuk menilai apakah seorang siswa berhasil. Kemampuan seperti kreativitas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta keberanian untuk menyampaikan pendapat juga harus diperhatikan. Pendidikan seharusnya dapat mengimbangi prestasi akademik dengan pertumbuhan sikap, keterampilan, dan kepribadian siswa. Dengan keseimbangan itu, siswa tidak hanya berusaha mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga memahami mengapa mereka belajar dan tujuan dari setiap proses yang mereka alami.

Menerapkan teori humanistik bisa membuat siswa lebih termotivasi dari dalam dirinya sendiri. Saat siswa merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk berkembang, mereka akan semakin termotivasi belajar karena mulai memahami manfaatnya. Ini berbeda dengan belajar hanya karena takut mendapat nilai buruk atau dihukum oleh guru. Motivasi yang datang dari dalam diri sendiri bisa membantu siswa untuk lebih mandiri dalam memutuskan tujuan belajarnya. Lingkungan sekolah juga harus membantu hal itu dengan membuat hubungan antara guru dan murid yang baik dan positif. Dengan demikian, pembelajaran bisa menjadi pengalaman yang tidak hanya membuka wawasan, tetapi juga membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa.

Pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang memiliki nilai akademik yang baik. Pendidikan juga harus membantu setiap siswa mengenali kemampuan yang mereka miliki, meningkatkan rasa percaya diri, dan tumbuh menjadi orang yang lebih baik sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Teori humanistik mengingatkan bahwa setiap siswa adalah manusia yang memiliki perasaan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru dan sekolah harus melihat siswa secara lebih menyeluruh, bukan hanya melalui angka-angka di rapor. Menurut saya, jika pendidikan bisa memahami siswa dengan baik, maka proses belajar akan lebih nyaman, bermakna, dan mendorong siswa untuk terus berkembang. Pendidikan yang baik tidak hanya membuat siswa cerdas, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri dan bisa menghargai diri sendiri.