Konten dari Pengguna

Terlihat Cantik dengan Merkuri: Risiko di Balik Kulit Cerah Instan

Nadia Mahfrujah
Aktif sebagai mahasiswi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Farmasi Tahun 2024
16 Juli 2025 19:38 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Terlihat Cantik dengan Merkuri: Risiko di Balik Kulit Cerah Instan
Hasil instan yang ditawarkan oleh berbagai produk kecantikan kerap menggoda konsumen untuk menggunakannya. Namun dibalik itu terdapat banyak risiko bagi kesehatan kulit.
Nadia Mahfrujah
Tulisan dari Nadia Mahfrujah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Memiliki kulit cerah dan mulus sudah pasti menjadi impian banyak orang, utamanya di kalangan wanita. Standar kecantikan yang terbentuk dari media, budaya, dan tekanan sosial itu membuat mereka rela melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Hal ini membuka peluang bagi para produsen kosmetik untuk mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Mereka mengeluarkan sejumlah produk dengan khasiat yang menggoda para konsumen. Bahkan tak sedikit diantaranya yang menawarkan hasil instan.
ADVERTISEMENT
Menurut rilis resmi dari Kepala BPOM, Taruna Ikrar, pada Januari hingga Maret 2025, BPOM menemukan 16 produk kosmetik mengandung bahan terlarang. Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap sampel kosmetik yang diperoleh, ditemukan bahwa sebanyak 16 produk mengandung zat yang tergolong berbahaya. Salah satu kandungan berbahaya yang berhasil teridentifikasi adalah merkuri.

Apa Itu Merkuri? Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Kulit?

Gambar oleh Ron Lach dari Pexels
Dalam produk kosmetik pencerah wajah, umumnya terkandung zat aktif yang dirancang untuk mencerahkan warna kulit. Namun, tidak sedikit dari bahan-bahan tersebut yang justru tergolong berbahaya bagi kesehatan. Salah satu zat yang paling banyak disorot adalah merkuri yang kerap ditambahkan dalam produk pemutih, baik dalam bentuk murni maupun sebagai nanopartikel.
Merkuri sendiri merupakan logam berat dengan tingkat toksisitas tinggi, termasuk dalam kategori neurotoksin, karena dapat menyebabkan kerusakan serius pada jaringan tubuh dan sistem saraf. Secara fisik, logam ini memiliki warna putih keperakan, berbentuk cair, dan mudah menguap meskipun berada pada suhu ruangan (Aras, dkk., 2024).
ADVERTISEMENT
Menurut Bose-O’Reilly, sifat-sifat khas yang dimiliki merkuri menjadikannya banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri, seperti produksi klorin dan soda api, proses pemisahan emas dan perak dari bijih tambang, serta sebagai bahan penyusun baterai, tambalan gigi (amalgam), termometer, barometer, hingga sakelar listrik.
Penggunaan merkuri dalam kosmetik dilatarbelakangi oleh kemampuannya dalam menekan produksi melanin, pigmen alami kulit yang memengaruhi warna. Efek ini menjadikan kulit tampak lebih cerah secara instan. Namun, pemakaian dalam jangka panjang yang awalnya bertujuan untuk mengatasi masalah hiperpigmentasi, justru dapat berakibat sebaliknya, yakni menimbulkan penggelapan kulit secara permanen.
Selain itu, merkuri juga dapat memicu berbagai masalah kulit seperti munculnya flek hitam, reaksi alergi, hingga iritasi parah, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi. Hal ini jelas akan sangat merugikan kita sebagai konsumen karena telah mengeluarkan biaya untuk produk terlarang yang bisa merusak kesehatan tubuh, utamanya kulit.
ADVERTISEMENT
Menurut Haerani, dalam penelitiannya membuktikan bahwa krim pemutih bertekstur lengket, aroma logam yang tajam dan warna yang tampak mencolok merupakan beberapa ciri khas krim mengandung merkuri. Konsumen perlu lebih cermat dan waspada ketika memilih produk-produk kecantikan, sebab tidak semua produk yang tersedia di pasaran terjamin keamanannya untuk digunakan.

Bahan Alami Sebagai Alternatif

Di Indonesia, masyarakat telah lama akrab dengan beragam jenis produk kosmetik, termasuk yang berbahan dasar alami dan diracik berdasarkan resep tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Kosmetik dari bahan alami sering dipandang memiliki kualitas yang lebih baik, lebih ramah lingkungan, dan juga lebih aman untuk digunakan. Selain itu, produk berbahan alami umumnya memiliki efek samping yang lebih ringan dan dapat diformulasikan dari satu atau beberapa jenis bahan alam yang memiliki aktivitas biologis tertentu.
ADVERTISEMENT
Bahan alami yang lazim digunakan dalam pembuatan kosmetik biasanya berasal dari tumbuh-tumbuhan, baik yang hidup di darat (terestrial) maupun di air (akuatik). Salah satu contoh tumbuhan akuatik yang dimanfaatkan adalah rumput laut atau alga. Jenis-jenis bahan alami lainnya meliputi temulawak, akar manis, bengkuang, raspberry, ceri acerola, sophora japonica, delima, hijiki, marbei putih, nangka, hingga bunga alamanda.
Selain itu, buah-buahan seperti anggur, jeruk, timun, lemon, pepaya, semangka, nanas, dan mangga juga dikenal sebagai bahan alami yang mempunyai khasiat bagus untuk kesehatan kulit. Kulit membutuhkan nutrisi yang cukup agar terlihat lebih sehat dan cerah. Semunya bisa diperoleh dengan menggunakan produk berbahan alam atau dikonsumsi secara langsung dengan jadwal yang rutin.
Sebagai alternatif yang lebih sehat, penggunaan bahan-bahan alami dalam kosmetik menjadi pilihan yang menjanjikan. Dengan memanfaatkan kekayaan tumbuhan lokal serta memadukannya dengan teknologi yang tepat, produsen dapat menciptakan produk kecantikan yang efektif, minim risiko, dan tetap ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT
Diperlukan adanya edukasi kepada konsumen agar senantiasa waspada sebelum menggunakan produk-produk kecantikan. Kesadaran konsumen untuk memilih produk yang aman dan alami juga menjadi kunci dalam menciptakan tren kecantikan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Hal ini dapat terwujud apabila pemerintah dan masyarakat bekerjasama dengan tujuan mengurangi jumlah korban merkuri sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan-bahan alami yang ada di Indonesia.