Konten dari Pengguna

Harga Pangan Naik, Mengatur Belanja Harian Jadi Tantangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadia Muthmainnah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh AI

Ada satu kegiatan sederhana yang mungkin hampir setiap orang lakukan, yaitu belanja kebutuhan sehari-hari. Entah pergi ke pasar, minimarket, supermarket, atau sekadar membeli beberapa bahan makanan untuk di rumah.

Namun, belakangan ini kegiatan tersebut rasanya mulai membutuhkan sedikit lebih banyak pertimbangan.

Dulu mungkin kita bisa memasukkan beberapa barang ke dalam keranjang tanpa terlalu memikirkan harganya. Sekarang, tidak jarang kita justru melihat label harga terlebih dahulu, membandingkan satu produk dengan produk lainnya, lalu berpikir, “Ini benar-benar butuh atau sebenarnya bisa dibeli nanti?”

Bukan karena kita tiba-tiba menjadi terlalu perhitungan. Memang kebutuhan sehari-hari semakin membuat kita harus pintar mengatur pengeluaran.

Harga beberapa bahan pangan mengalami kenaikan pada September 2026. Berdasarkan pemantauan Dewan Ekonomi Nasional, harga cabai rawit dan cabai merah pada minggu kedua September masing-masing meningkat 37,8% dan 26,8% secara bulanan. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan krisis ketersediaan air akibat cuaca yang sangat panas dan fenomena El Niño.

Kalau membaca angka tersebut, mungkin terdengar seperti data ekonomi biasa.

Tetapi coba kita bayangkan dari sisi orang yang setiap hari harus berbelanja.

Ketika harga satu bahan makanan naik, mungkin kita masih bisa mengatasinya. Namun, kalau beberapa kebutuhan naik secara bersamaan, pengeluaran rumah tangga tentu ikut berubah.

Ketika Belanja Tidak Lagi Sekadar Belanja

Salah satu hal yang menarik dari persoalan harga pangan adalah bagaimana perubahan harga bisa memengaruhi kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, seseorang yang biasanya membeli bahan makanan tertentu dalam jumlah banyak mulai mengurangi porsinya. Ada juga yang mengganti bahan makanan dengan pilihan lain yang harganya lebih terjangkau. Bahkan mungkin ada yang mulai membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar agar tidak membeli barang di luar kebutuhan.

Hal-hal seperti ini sebenarnya sederhana, tetapi menunjukkan bahwa harga pangan tidak hanya berkaitan dengan angka di pasar.

Ada kebiasaan masyarakat yang ikut berubah.

Ada rencana pengeluaran yang harus disesuaikan.

Dan ada kebutuhan lain yang mungkin akhirnya harus ditunda.

Saya sendiri merasa kondisi seperti ini membuat kita semakin sadar bahwa mengatur keuangan bukan hanya dilakukan ketika memiliki penghasilan besar. Justru ketika kebutuhan semakin banyak dan harga berubah-ubah, kita dituntut untuk lebih bijak menentukan prioritas.

Cuaca Panas Ternyata Bisa Sampai ke Meja Makan

Mungkin selama ini kita menganggap cuaca panas hanya berhubungan dengan rasa gerah, mudah haus, atau malas beraktivitas di luar rumah.

Ternyata dampaknya bisa lebih panjang dari itu.

BMKG menyebut September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla. Kondisi kering juga masih mendominasi sejumlah wilayah, sementara El Niño yang sangat kuat ikut mengurangi potensi pembentukan awan hujan di Indonesia.

Kondisi tersebut tentu dapat memberikan tekanan terhadap sektor pertanian.

Ketika air semakin sulit diperoleh, tanaman bisa terdampak. Ketika produksi terganggu, pasokan juga bisa ikut berubah. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap harga yang kita lihat ketika berbelanja.

Jadi, ada hubungan yang mungkin tidak langsung kita sadari. Cuaca panas di luar rumah bisa berujung pada harga bahan makanan di dalam rumah.

Hal ini menurut saya menjadi pengingat bahwa kehidupan sehari-hari sebenarnya sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan.

Kita mungkin hanya merasa kepanasan ketika berjalan di siang hari, sementara bagi petani, kondisi panas dan kekurangan air bisa menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

Masyarakat Harus Pandai Menentukan Prioritas

Ketika harga kebutuhan meningkat, respons setiap orang tentu berbeda. Ada yang memilih mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan tertentu. Ada yang mencari alternatif produk dengan harga lebih murah. Ada pula yang mulai lebih sering memasak sendiri dibandingkan membeli makanan di luar.

Tidak ada salahnya jika kita mulai membiasakan diri membuat skala prioritas.

Bukan berarti kita harus berhenti menikmati sesuatu hanya karena harga pangan sedang berubah. Kita tetap boleh membeli makanan kesukaan, pergi bersama teman, atau melakukan hal-hal yang membuat kita senang.

Namun, jangan sampai keinginan membuat kita lupa dengan kebutuhan yang memang harus dipenuhi.

Hal sederhana seperti mencatat pengeluaran harian mungkin terdengar membosankan. Tetapi dari sana kita bisa melihat ke mana uang sebenarnya pergi.

Kadang bukan harga barang yang sepenuhnya menjadi masalah. Bisa jadi kita memang belum terbiasa mengatur pengeluaran.

Jangan Sampai Petani Hanya Diingat Saat Harga Naik

Ilustrasi oleh AI

Ada satu hal lain yang juga penting untuk dibicarakan. Ketika harga cabai, beras, sayur, atau bahan pangan lainnya naik, masyarakat biasanya langsung merasakan dampaknya sebagai konsumen.

Kita mungkin bertanya, “Kenapa mahal sekali?”

Namun, di sisi lain, ada petani yang juga menghadapi persoalan yang tidak kalah berat. Ketika cuaca terlalu panas, air sulit didapat, atau produksi menurun, mereka juga harus menghadapi risiko kerugian.

Artinya, kenaikan harga pangan tidak selalu berarti petani mendapatkan keuntungan lebih besar.

Ada banyak hal yang terjadi sebelum suatu bahan makanan akhirnya sampai di meja makan kita. Karena itu, persoalan harga pangan sebaiknya tidak hanya dilihat dari sisi konsumen dan harga di pasar.

Kita juga perlu melihat bagaimana kondisi orang-orang yang menghasilkan bahan pangan tersebut.

Belajar Menghargai Makanan dari Hal Sederhana

Mungkin kita sering tidak sadar berapa banyak proses yang dibutuhkan sampai makanan bisa tersaji di meja.

Ada petani yang menanam.

Ada orang yang merawat dan memanen.

Ada proses distribusi.

Ada pedagang yang menjual.

Barulah akhirnya makanan tersebut sampai ke rumah kita.

Ketika semua berjalan lancar, kita mungkin tidak terlalu memikirkannya.

Tetapi ketika cuaca berubah, produksi terganggu, atau harga mulai naik, barulah kita sadar bahwa makanan yang setiap hari kita konsumsi ternyata melalui proses yang cukup panjang.

Mengambil makanan secukupnya, tidak membuang makanan, dan membeli sesuai kebutuhan mungkin terlihat sebagai tindakan kecil. Tetapi setidaknya, kita tidak ikut menambah persoalan dengan membuang sesuatu yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan.

Pada Akhirnya, Kita Semua Sedang Belajar Beradaptasi

Kenaikan harga pangan memang bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan mengurangi belanja pribadi.

Ada banyak faktor yang lebih besar di baliknya, mulai dari kondisi cuaca, produksi pertanian, distribusi, hingga kebijakan pemerintah dalam menjaga pasokan dan harga pangan. Pemerintah sendiri masih melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas pasokan, termasuk melalui distribusi pangan dan program stabilisasi beras.

Sebagai masyarakat, mungkin yang bisa kita lakukan adalah tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Tidak perlu memaksakan diri mengikuti pola konsumsi orang lain.

Tidak perlu merasa malu ketika harus memilih produk yang lebih murah.

Dan tidak perlu merasa bersalah ketika harus mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang bukan prioritas.

Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki kondisi ekonomi yang berbeda.

Harga pangan boleh berubah, cuaca boleh berubah, dan keadaan juga bisa berubah. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyesuaikan diri tanpa melupakan kebutuhan utama.

Mungkin dari persoalan harga pangan ini kita kembali diingatkan bahwa mengatur kehidupan tidak selalu tentang mendapatkan lebih banyak.

Terkadang, kita justru perlu belajar membedakan mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang hanya kita inginkan.

Dan mungkin, dari hal sederhana seperti memilih apa yang akan dimasukkan ke dalam keranjang belanja, kita sedang belajar menjadi lebih bijak dalam menjalani kehidupan sehari-hari.