Konten dari Pengguna

Tiga Tahun Perang Gaza, Warga Palestina Masih Berjuang Memulihkan Kehidupan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadia Muthmainnah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah tiga tahun sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023. Selama waktu tersebut, puluhan ribu warga Palestina kehilangan nyawa dan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka. Di balik angka-angka tersebut, ada keluarga yang kehilangan orang terdekat, anak-anak yang kehilangan rumah dan sekolah, serta masyarakat yang masih berusaha menjalani kehidupan di tengah kehancuran.

Data terbaru hingga 7 Oktober 2026 menunjukkan bahwa sedikitnya 74.250 warga Palestina telah meninggal dan 175.278 lainnya mengalami luka-luka sejak perang dimulai. Angka tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan Gaza dan dikutip dalam laporan terbaru. PBB memberikan catatan bahwa angka korban dari sumber tersebut belum seluruhnya diverifikasi secara independen.

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Gaza sebelum perang yang sekitar 2,2 juta orang, angka tersebut menunjukkan besarnya dampak konflik terhadap masyarakat. Lebih dari 74 ribu nyawa hilang dalam tiga tahun, sementara lebih dari 175 ribu orang harus menjalani kehidupan dengan berbagai jenis luka dan dampak kesehatan.

Bukan Hanya Tentang Mereka yang Meninggal

Ketika membicarakan perang, perhatian sering kali tertuju pada jumlah korban meninggal. Padahal, penderitaan tidak berhenti pada mereka yang kehilangan nyawa.

Lebih dari 175 ribu warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut ribuan orang mengalami cedera yang mengubah kehidupan dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang. Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena kapasitas layanan kesehatan di Gaza sangat terbatas.

Artinya, ada banyak orang yang harus melanjutkan hidup setelah kehilangan anggota tubuh, mengalami cedera serius, atau membutuhkan perawatan medis dalam jangka panjang.

Di saat yang sama, keluarga mereka juga harus beradaptasi dengan keadaan baru. Ada orang tua yang harus merawat anak yang terluka, anak yang kehilangan orang tua, atau keluarga yang kehilangan sumber penghasilan.

Hampir Dua Juta Orang Pernah Mengungsi

Ilustrasi oleh AI

Dampak perang juga terlihat dari besarnya jumlah warga yang kehilangan tempat tinggal.

Sekitar 1,9 juta warga Palestina atau sekitar 90% dari populasi Gaza telah mengalami pengungsian selama konflik. Banyak dari mereka bahkan harus berpindah tempat lebih dari sekali karena kondisi keamanan dan kehancuran tempat tinggal.

Bayangkan harus meninggalkan rumah bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali karena tidak ada tempat yang benar-benar aman untuk ditinggali.

Bagi sebagian warga, rumah yang mereka tinggalkan juga sudah tidak dapat menjadi tempat untuk kembali. Penilaian yang dilakukan Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa menemukan sekitar 371.888 unit rumah mengalami kerusakan atau kehancuran hingga Oktober 2025.

Karena itu, ketika membicarakan masa depan Gaza, persoalannya bukan hanya bagaimana menghentikan peperangan. Ada pertanyaan yang jauh lebih panjang: bagaimana jutaan orang yang kehilangan tempat tinggal dapat kembali memiliki kehidupan yang layak?

Rumah Sakit dan Sekolah Juga Hancur

Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga.

Sistem kesehatan Gaza juga mengalami tekanan yang sangat besar. Data terbaru menunjukkan sekitar 94% rumah sakit dan fasilitas kesehatan mengalami kerusakan atau tidak berfungsi. Dari 666 fasilitas yang ada, hanya 42 yang masih beroperasi.

Kondisi ini membuat masyarakat yang membutuhkan pengobatan harus menghadapi persoalan tambahan. Mereka bukan hanya harus sembuh dari luka, tetapi juga mencari fasilitas kesehatan yang masih dapat memberikan pelayanan.

Begitu pula dengan pendidikan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar dan bertemu teman ikut terdampak oleh perang. Sekitar 93% sekolah di Gaza disebut membutuhkan pembangunan kembali, sementara lebih dari 700 ribu siswa kehilangan akses terhadap pendidikan formal.

Bagi anak-anak, dampaknya tentu tidak sederhana. Tiga tahun perang berarti tiga tahun masa kecil yang dijalani dalam situasi penuh ketidakpastian.

Gencatan Senjata Belum Menghapus Dampaknya

Pembicaraan mengenai gencatan senjata memang memberikan harapan bahwa kekerasan dapat berkurang. Namun, kondisi di lapangan masih jauh dari kata normal.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025 hingga awal Oktober 2026, masih terdapat lebih dari 1.400 kematian dan lebih dari 5.000 orang terluka. OCHA juga melaporkan adanya korban baru dalam periode akhir September 2026.

Artinya, istilah "gencatan senjata" belum tentu berarti kehidupan masyarakat sudah kembali aman dan normal.

Bagi warga yang kehilangan rumah, anggota keluarga, pekerjaan, dan akses terhadap kebutuhan dasar, berakhirnya perang hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang menuju pemulihan.

Tiga Tahun Berlalu, Apa yang Tersisa?

Tiga tahun perang Gaza meninggalkan angka yang sulit dibayangkan: lebih dari 74 ribu orang meninggal dan lebih dari 175 ribu orang terluka.

Namun, angka tersebut sebenarnya hanya menggambarkan sebagian kecil dari cerita.

Di balik setiap angka ada manusia. Ada orang tua, anak, saudara, teman, guru, tenaga kesehatan, pekerja, dan keluarga yang memiliki kehidupan sebelum perang.

Ada pula jutaan orang yang harus meninggalkan rumah dan menjalani hidup dalam kondisi yang tidak pasti.

Karena itu, ketika dunia membicarakan perdamaian untuk Gaza, perdamaian seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai berhentinya suara senjata.

Perdamaian juga berarti warga dapat kembali memiliki rumah, anak-anak dapat bersekolah, orang sakit mendapatkan pengobatan, keluarga dapat berkumpul kembali, dan masyarakat memiliki kesempatan untuk membangun kehidupannya.

Tiga tahun mungkin terdengar seperti waktu yang panjang. Tetapi bagi warga yang kehilangan hampir semuanya, perjalanan untuk memulihkan kehidupan mereka kemungkinan masih sangat panjang.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya reruntuhan bangunan. Ada kenangan, kehilangan, trauma, dan kehidupan yang masih berusaha dipertahankan.

Dan mungkin, dari sanalah pertanyaan tentang masa depan Gaza seharusnya dimulai: bukan hanya bagaimana perang berakhir, tetapi bagaimana manusia yang masih bertahan dapat kembali hidup dengan layak.