Pasar Online: Solusi atau Pembunuh Bisnis?

Mahasiswa Marketing Communication di Universitas Bina Nusantara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadia Nindira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemudahan dalam berbelanja menggunakan aplikasi mungkin menjadikan alasan mengapa masyarakat sekarang mulai beralih dari transaksi langsung menjadi transaksi secara online.
Pasar online semakin marak digunakan oleh masyarakat sekitar tahun 2010. E-commerce dengan sistem marketplace dikenalkan pertama kali di Indonesia salah satunya dengan berdirinya Tokopedia.
E-commerce yang paling sering kita gunakan pada kehidupan sehari-hari merupakan Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak, Blibli, dan lainnya. Dengan kemudahan pasar online, tidak sedikit pedagang maupun masyarakat awam yang mulai membuka bisnis melalui e-commerce.
E-commerce yang memperluas jangkauan pasar menjadikan pasar online sebagai salah satu peluang sekaligus penghancur bisnis bagi beberapa penjual lainnya.
Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, transaksi secara langsung menjadi pilihan nomor satu masyarakat dalam berbelanja. Melihat serta merasakan secara langsung barang yang ingin dibeli merupakan keunggulan berbelanja secara tradisional yang tidak dapat ditiru oleh pasar online.
Selain sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan secara langsung, berbelanja secara tradisional dapat menjadi healing tersendiri bagi masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang menjadikan pusat perbelanjaan sebagai salah satu destinasi yang mereka pilih ketika berlibur.
Misalnya, ketika sedang berlibur, kita memilih untuk membeli secara langsung barang khas suatu daerah dibandingkan membelinya di e-commerce walaupun harganya lebih terjangkau. Tidak menutup kemungkinan bahwa berbelanja secara tradisional masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam berbelanja di antara maraknya e-commerce yang ada saat ini.
Seiring berkembangnya teknologi serta kesadaran atas pentingnya waktu membuat penggunaan pasar online semakin tinggi dibanding berbelanja secara tradisional. Perubahan ini membuat penjual untuk mengikuti ‘tren’ berjualan pada pasar online sebagai cara untuk bertahan.
Walaupun perpindahan jual-beli secara tradisional menjadi jual-beli online membantu membuka peluang pembeli meluas, tidak dipungkiri persaingan bisnis juga meningkat tajam. Tidak sedikit pula toko-toko di pusat perbelanjaan mulai sepi dan berakhir tutup.
Salah satu pusat perbelanjaan legendaris yang kita kenal adalah Mal Blok M di Jakarta Selatan. Pusat perbelanjaan tersebut semakin terpuruk ditinggal oleh pembeli yang membuat penampakan pusat perbelanjaan tersebut seperti kota mati. Penjual toko-toko di pusat perbelanjaan tersebut terpaksa gulung tikar akibat dari pandemi dan pembeli yang kini memilih berbelanja secara online. Akibatnya, penjual-penjual tersebut menjadi pengangguran yang menimbulkan masalah ekonomi baru.
Faktor eksistensi e-commerce yang mengecam penjual toko-toko di pusat perbelanjaan bervariasi dari perbedaan harga barang hingga jarak daerah antara penjual dan pembeli. Penyesuaian faktor-faktor tersebut bukanlah hal yang mudah terutama pada faktor adaptasi yang membunuh waktu terhadap perbedaan antara keduanya.
Lantas bagaimana dengan nasib penjual di pusat perbelanjaan lainnya untuk dapat bertahan di gempuran e-commerce saat ini? Mungkin saja beberapa dari mereka lalu menyesuaikan keadaan pasar saat ini yaitu beralih berjualan melalui e-commerce atau platform online. Mungkin juga bisnis mereka memang sudah benar-benar mati akibat adanya pasar online yang lebih digemari masyarakat di zaman sekarang ini.
