Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2024 © PT Dynamo Media Network
Version 1.89.0
Bukan Kelelahan, dr. Stefanus Meninggal karena Brugada Syndrome
28 Juni 2017 14:27 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:16 WIB
ADVERTISEMENT
Media sosial pagi ini heboh dengan kabar meninggalnya seorang dokter yang diketahui bernama dr. Stefanus Taofik. dr. Stefanus merupakan dokter yang praktik di RSPI Bintaro Jaya meninggal pada Selasa (27/6) diduga karena bekerja 3 hari nonstop di 3 rumah sakit berbeda.
ADVERTISEMENT
Namun, informasi ini dibantah oleh dr. Arif H. M. Marsaban, SpAn-KAP, Ketua Program Studi SP2 dari Divisi Anestesia Ambulatori dan Bedah Umum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima kumparan (kumparan.com), dr. Arif menjelaskan dr. Stefanus tidak bekerja selama 3 hari nonstop seperti yang diberitakan sebelumnya, tetapi hanya bekerja 2x24 jam.
"Saya mau klarifikasi atas kasus meninggalnya TS (dr. Stefanus Taofik) di RSPI. Yang bersangkutan tidak jaga 5 hari berturutan, tapi memang 2x24 jam. Hanya saja saat itu di ICU tidak ada pasien dan tindakan operasi sehingga sebenarnya waktu istirahat cukup," kata dr. Arif dalam keterangan tertulisnya.
Meski hanya bekerja selama 2x24 jam dan memiliki waktu istirahat yang cukup, dr. Stefanus meninggal akibat penyakit Brugada Syndrome. Brugada Syndrome merupakan penyakit kelainan genetik pada pembuluh darah di koroner.
ADVERTISEMENT
"Brugada Syndrome merupakan kelainan genetik pada pembuluh darah di koroner. Kelainan ini terbanyak (dialami) pada laki-laki dan sudden cardiac death seringkali terjadi pada saat tidur," paparnya.