Kumparan Logo

Inflasi Myanmar Capai 25%, Dampak Kenaikan Harga Minyak Akibat Perang AS-Iran

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi SPBU di Myanmar. Foto: maodoltee/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi SPBU di Myanmar. Foto: maodoltee/Shutterstock

Inflasi Myanmar melonjak hingga 25 persen karena guncangan perang di Timur Tengah akibat perang AS-Iran memperparah dampak perang saudara di sana. Hal ini disampaikan Bank Dunia pada Selasa (16/6).

Dikutip dari Bloomberg, Bank Dunia juga memangkas perkiraan pertumbuhan Myanmar untuk tahun fiskal yang dimulai pada April 2026.

"Dengan alasan lingkungan eksternal yang kurang menguntungkan," kata Bank Dunia dalam pernyataannya.

Myanmar telah terperangkap dalam perang saudara sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta pada 2021, menjerumuskannya ke dalam setengah dekade ketidakstabilan dan kemunduran menuju kemiskinan bagi lebih dari 50 juta warganya.

Menurut angka resmi, Myanmar juga mengimpor 90 persen bahan bakarnya, sehingga sangat rentan terhadap penutupan Selat Hormuz sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari lalu.

Menurut laporan dua tahunan Bank Dunia tentang Pemantau Ekonomi Myanmar, kondisi tersebut menyebabkan inflasi mencapai 24,6 persen secara tahunan pada April. Para pejabat juga memangkas prospek pertumbuhan ekonomi 2026-2027 menjadi dua persen, dari tiga persen yang diperkirakan sebelumnya.

"Ekonomi Myanmar stabil pada tingkat rendah, tapi guncangan bahan bakar yang baru memperbesar kelemahan struktural dan membuat prospek yang sangat rentan terhadap gangguan lebih lanjut," kata Bank Dunia.

"Guncangan (harga) bahan bakar telah memicu kembali tekanan inflasi," kata ekonom senior, Kemoh Mansaray, kepada wartawan.

Ibu kota Naypyidaw, Myanmar. Foto: AFP

"Ini berarti daya beli rumah tangga telah menurun, dan rumah tangga telah menghadapi cadangan yang sangat tipis dengan tingkat kemiskinan yang tinggi," lanjutnya.

Inflasi selama 12 bulan hingga akhir Maret mencapai 21,1 persen. Bank Dunia juga melaporkan tingkat kemiskinan pada 2025 mencapai 29,9 persen, masih jauh di atas tren pada 2021.

"Karena kami kesulitan hanya untuk membeli makanan, ada anak-anak yang tidak dapat kami sekolahkan," kata seorang ayah berusia 28 tahun di Yangon, yang namanya tidak mau disebutkan.

"Kami memiliki tiga anak usia sekolah di rumah," tuturnya.

Seorang pemilik toko di Yangon juga mengeluh bahwa kenaikan harga telah melumpuhkan bisnis dan keluarganya.

"Pendapatan dan pengeluaran kami tidak seimbang. Kami hanya bertahan hidup dari hari ke hari," katanya.

"Harga hanya naik, tidak pernah turun. Sekarang berapa pun penghasilan kami, jumlahnya tetap tidak cukup," katanya lagi.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Selat Hormuz akan sepenuhnya dibuka setelah Washington dan Teheran sepakat untuk mengakhiri perang. Trump mengeklaim Selat Hormuz akan sepenuhnya dibuka pada Jumat (19/6).

Namun, analis memperingatkan pemulihan ekonomi dari perang AS-Iran akan jadi proses yang panjang.