Kumparan Logo

Jepang Alihkan 100% Pasokan Minyak Mentah, Tak Lagi Bergantung Selat Hormuz

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menghadiri sesi pleno KTT Pemimpin G20 di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Yves Herman/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menghadiri sesi pleno KTT Pemimpin G20 di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025). Foto: Yves Herman/REUTERS

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan impor minyak mentah pada Juli mendatang akan sepenuhnya bersumber dari wilayah yang tidak memerlukan transit di Selat Hormuz. Pemerintahan Takaichi memang berupaya mendiversifikasi pasokan energi jelang musim panas.

"Pada Juli kami memperkirakan akan mendapatkan sekitar 100 persen dari jumlah rata-rata bulanan dari sumber alternatif," kata Takaichi dalam rapat kabinet yang diadakan pada Kamis (11/6) sore, dikutip dari Bloomberg.

Takaichi juga mengatakan impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan meningkat lebih dari 10 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

"Berkat upaya semua pihak yang terlibat, tampaknya kita akan dapat sepenuhnya memasok minyak mentah dari wilayah di luar Selat Hormuz, meski sebelumnya kita bergantung pada Selat Hormuz untuk lebih dari 90 persen pasokan minyak kita," ujarnya.

Pengumuman ini muncul di tengah bentrokan antara pasukan AS dan Iran meski gencatan senjata telah disepakati. Iran mengatakan Selat Hormuz akan ditutup untuk semua jenis kapal, sementara AS mengatakan kapal komersial terus melintas melalui jalur air itu.

Takaichi telah memimpin upaya sejak awal perang di Iran untuk mendiversifikasi pasokan energi dan produk sampingan kimia Jepang untuk mengatasi gangguan rantai pasokan dan menjaga perekonomian tetap berjalan.

Pada awal April, Takaichi mengatakan sekitar setengah dari impor minyak mentah pada Mei akan berasal dari sumber alternatif. Pada akhir April, Takaichi mengatakan sekitar 60 persen impor minyak mentah pada Mei akan diimpor melalui jalur yang tidak melibatkan Selat Hormuz.

Takaichi mengatakan minyak mentah Jepang kini juga akan bersumber dari negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan, Afrika, serta Asia. Jepang juga akan membeli minyak dari Kanada, dan pengiriman pertama minyak mentah dari Meksiko akan tiba pada Juli.

Meski pengamanan volume minyak mentah lewat sumber alternatif memberikan sedikit keringanan, tantangan tetap ada. Asosiasi Perminyakan Jepang (PAJ) mengatakan karena kilang-kilang minyak Jepang dikonfigurasi untuk memproses utamanya minyak mentah Timur Tengah, analisis dan modifikasi tambahan diperlukan agar fasilitas tersebut dapat memproses minyak di tempat lain.

"Ini melibatkan banyak pekerjaan," kata Presiden PAJ, Shunichi Kito, dalam konferensi pers pada Mei lalu.

Ia mengatakan kilang-kilang Jepang harus dengan cermat memeriksa rasio pencampuran dan bagaimana sifat-sifat minyak mentah yang berbeda dapat ditoleransi oleh peralatan yang ada, dan sejauh mana dapat dilakukan tanpa berdampak signifikan pada kondisi operasi.

Takaichi juga mengatakan akan mengangkat isu pasokan minyak pada KTT G7 di Prancis pekan depan. Ia mengatakan akan menyarankan dukungan kerja sama lebih lanjut antara negara-negara Asia dan Badan Energi Internasional untuk menimbun minyak, dan menekankan perlunya negara-negara penghasil dan konsumen minyak untuk bekerja sama.

"Penting bagi kapal untuk dapat berlayar di sejumlah jalur laut, termasuk Selat Hormuz, dengan aman dan bebas," kata Takaichi.