Kumparan Logo

Sabang Bidik Pangkalan Logistik Migas, Hub India, hingga Magnet Pariwisata Internasional

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bank Indonesia menggelar Forum Group Discussion (FGD) dalam rangka pelatihan wartawan di Sabang, Aceh. Foto: Nadia Riso/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bank Indonesia menggelar Forum Group Discussion (FGD) dalam rangka pelatihan wartawan di Sabang, Aceh. Foto: Nadia Riso/kumparan

Status Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Sabang yang telah menginjak usia 25 tahun menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Letak geostrategis Sabang yang berbatasan langsung dengan perairan internasional menjadikan Sabang incaran proyek bernilai fantastis, mulai dari pangkalan logistik ladang migas Andaman, ambisi transshipment hub India, hingga kebangkitan ekosistem pariwisata historis bertaraf global.

​Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Iskandar Zulkarnain, mengungkapkan dalam dua tahun terakhir pihaknya tengah mengintensifkan komunikasi dengan operator hulu migas. Hal ini menyusul penemuan cadangan gas raksasa di perairan utara Aceh.

​"Ada rilis dari SKK Migas mengenai discovery 10 TCF potensi gas di Blok Andaman, di Andaman Selatan. Karena itu berada di laut lepas dengan kedalaman laut sampai 1.200 meter, tentunya mereka butuh pelabuhan. Kami dalam 2 tahun terakhir intens berkomunikasi, menawarkan supaya Pelabuhan Sabang ini bisa dijadikan shorebase untuk kegiatan oil and gas di Blok Andaman," kata Iskandar dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Bank Indonesia di Sabang, Kamis (5/11).

​Menurut Iskandar, Sabang siap mengakomodasi kebutuhan logistik industri migas. Fasilitas Pelabuhan CT-3 yang memiliki panjang jetty 430 meter dan kedalaman ekstrem hingga 26 meter sudah terbangun.

​"Kalau ini dijadikan pelabuhan untuk pangkalan logistik, itu tidak terlalu besar nilai investasinya, karena fasilitas untuk itu sudah cukup tersedia. Yang mereka harapkan ada open yard (lapangan penumpukan) dan warehouse (gudang) untuk 10.000 meter persegi, sekarang kita sudah tersedia 4.000 meter persegi," tambahnya.

Potensi Jadi Rantai Pasok Maritim India lewat Rute Kepulauan Andaman-Nicobar

Bank Indonesia menggelar Forum Group Discussion (FGD) dalam rangka pelatihan wartawan di Sabang, Aceh. Foto: Nadia Riso/kumparan

​Di luar sektor migas, India merupakan negara yang paling agresif meminang Sabang. Kebutuhan rute logistik dari Kepulauan Andaman-Nicobar menjadikan Sabang titik paling efisien bagi rantai pasok maritim India di Selat Malaka.

Iskandar mengatakan, minat India itu sudah berulang kali dibahas di tingkat kepala negara. Namun, implementasinya di lapangan masih menunggu lampu hijau dan kepastian skema investasi pemerintah pusat.

​"Dari tahun 2018 India itu konsisten. Pada saat pertemuan di level presiden yang terakhir kemarin waktu Perdana Menteri Modi datang, itu kali kelima India itu minta Pelabuhan Sabang menjadi pelabuhan yang dikerjasamakan dengan mereka," ungkapnya.

​Pada tahun 2023, konsultan India telah mengajukan proposal studi kelayakan untuk menyulap Pelabuhan Sabang menjadi transshipment regional.

​"Mereka menghitung biaya yang dibutuhkan, nilainya sekitar USD 140 juta. Mereka menawarkan skema 80 hingga 85 persen itu menjadi investasi pemerintah India, lalu kemudian 15 hingga 20 persen mereka harapkan itu komitmen Indonesia. Sampai sekarang yang pusat logistik itu belum terjadi, kami masih mengusulkan kepada pemerintah, pelabuhan yang sudah dibangun yang demikian megah tadi harus ada agenda nasional mau dijadikan apa," jelasnya.

​Mengejar Phuket dan Langkawi lewat Wisata Premium dan Historis

Bank Indonesia menggelar Forum Group Discussion (FGD) dalam rangka pelatihan wartawan di Sabang, Aceh. Foto: Nadia Riso/kumparan

​Kekayaan Sabang tidak semata bertumpu pada pelabuhan kargo. Sabang punya modal ekosistem pariwisata yang mampu bersaing dengan Phuket di Thailand dan Langkawi di Malaysia, mengingat jarak Sabang dengan kedua kawasan tersebut sangat dekat secara geografis.

​Iskandar menyoroti ketimpangan volume turis. Phuket kini meraup lebih dari 12 juta kunjungan per tahun dan Langkawi menembus 3,2 juta kunjungan, sementara Sabang pascapandemi COVID-19 masih tertahan di angka ratusan ribu.

Padahal, lanjut Iskandar, Sabang memiliki daya tarik wisata maritim premium. Sepanjang tahun lalu, tercatat ada 140 kapal yacht internasional dari Phuket dan Langkawi berlabuh di Sabang.

Sabang juga menyimpan nilai sejarah kolonial dan peradaban Islam yang tidak dimiliki kawasan pesaingnya. Keberadaan Willem Toren, misalnya, menara navigasi peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1876 di Pulau Aceh, hingga jejak Sabang sebagai pusat karantina haji lintas negara pada abad ke-19.

​"Dulu kawasan ini pernah menjadi embarkasi haji. Kapal-kapal jemaah haji yang pulang dari Saudi Arabia singgah di sini, di Pulau Rubiah. Itu dikarantina di situ saat wabah kolera, dan itu menjadi cikal bakal Badan Karantina Nasional. Sehingga di kawasan ini juga dikenal sebagai kawasan wali, ada 44 makam wali, dan itu diziarahi sekarang oleh banyak pengunjung dari Malaysia," jelas Iskandar.

​Potensi devisa masif lainnya bersumber dari kunjungan kapal pesiar (cruise) yang bersandar di Pelabuhan CT-1. Kedatangan kapal pesiar menyumbang 40 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Sabang. Namun, dampak ekonominya belum merata karena keterbatasan paket wisata di darat.

​"Kunjungan penumpang kapal pesiar itu lumayan besar, ada yang jumlah penumpangnya sampai 2.000. Biasanya mereka yang turun itu yang mau membeli paket, nilainya sampai USD 100 per orang selama 8 jam. Kalau kita bisa mempersiapkan destinasi, setelah itu mereka bisa membelanjakannya dan itu memberi dampak bagi kita," ujar Iskandar.

Iskandar mengatakan, di Sabang tersedia 1.525 kamar penginapan. Namun, rata-rata kunjungan masih lebih banyak didatangi oleh wisatawan "kelas" backpacker.

"Jadi kami sekarang mencoba mendorong kalau misalnya kita bisa menyiapkan wisata yang lebih premium dengan strategi bisa meningkatkan length of stay si pengunjung. Jadi bukan membawa sebanyak mungkin orang ke kawasan ini, tetapi bagaimana kalau orang yang datang ke sini bisa lama tinggalnya itu bisa lebih lama," jelasnya.

​Untuk mengatasi kemandekan pendanaan dari APBN yang kian menyusut, BPKS kini tengah menjajaki komunikasi dengan Asian Development Bank (ADB) untuk mendanai tata ulang kota (urban renewal) Kota Tua Sabang dan mengembangkan kawasan pelabuhan terintegrasi secara berkelanjutan.

"Jadi ada Kota Tua Sabang, situs di Kota Sabang itu kalau dalam melihat dalam RPJMN itu direncanakan pengembangannya untuk kawasan wisata. Jadi itu semacam kawasan pada saat pengunjung dari kapal pesiar datang dia melihat keindahan alam Sabang dan kemudian bisa menikmati kuliner, UMKM di kawasan ini," tuturnya.