Kumparan Logo

Skema Pembiayaan LRT Haga-Utsunomiya yang Unik, Bikin Tarif Lebih Murah dari Bus

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
LRT Haga-Utsunomiya yang mengadopsi konsep trem di Kota Utsunomiya, Jepang, Sabtu (19/9/2026). Foto: Nadia Riso/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
LRT Haga-Utsunomiya yang mengadopsi konsep trem di Kota Utsunomiya, Jepang, Sabtu (19/9/2026). Foto: Nadia Riso/kumparan

Pembangunan LRT Haga-Utsunomiya yang terletak di Kota Utsunomiya, Prefektur Tochigi, Jepang, terbilang unik untuk ukuran proyek infrastruktur dan transportasi. Untuk proyek ini, diberlakukan skema unik yang mungkin jarang diterapkan dalam pembangunan infrastruktur transportasi, yaitu 'Publicly Built, Privately Operated Vertical Separation' -- pemisahan antara pembangunan dan operasional.

Sektor publik, yaitu Kota Utsunomiya dan Haga, bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur, termasuk rel, depo, pemberhentian LRT, dan sekaligus memiliki armadanya. Operasionalnya dijalankan oleh sektor swasta, yaitu Utsunomiya Light Rail Co., Ltd., yang menyewa armada atau train set dari pemerintah daerah dan membayar biaya penggunaannya.

Total anggaran yang dikeluarkan untuk proyek ini senilai 68,4 miliar yen atau sekitar Rp 7,6 triliun. Separuh dari anggaran itu ditanggung subsidi pemerintah pusat dan sisanya dibagi antara Kota Utsunomiya dan Haga, dengan porsi Kota Utsunomiya sekitar 31 miliar yen atau sekitar Rp 3,4 triliun.

Kota Utsunomiya menerbitkan obligasi daerah yang dicicil selama sekitar 20 tahun. Cicilan tahunannya paling besar sekitar 1,3 miliar yen atau sekitar Rp 144 miliar -- cuma sekitar 0,6 persen dari skala anggaran kota per tahun.

Struktur pemisahan aset dan operasional punya konsekuensi langsung ke neraca operator. Karena beban modal terbesar sepenuhnya ada di tangan pemerintah, operator swasta hanya menanggung biaya menjalankan layanan sehari-hari.

"Total biaya proyek ini adalah 68,4 miliar yen. Sekitar separuhnya kami terima dari subsidi pemerintah pusat, dan sisanya ditanggung Kota Utsunomiya dan Kota Haga. Porsi Kota Utsunomiya sekitar 31 miliar yen. Biaya ini kami tutup lewat obligasi daerah -- yang pada dasarnya kota meminjam uang dari bank -- yang dicicil sekitar 20 tahun. Cicilan tahunannya paling besar sekitar 1,3 miliar yen, yang kalau dibandingkan dengan skala anggaran Kota Utsunomiya itu sekitar 0,6 persen saja," kata Suzuki Kenichi saat menerima peserta training sektor kereta api yang diikuti Dirjen Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub, di Utsunomiya, Selasa (1/9).

"Karena pemerintah membangun biaya infrastruktur yang paling mahal, biaya yang ditanggung Utsunomiya Light Rail sebagian besar cuma biaya tenaga kerja. Pemerintah juga yang menangani pemeliharaan fasilitas, sehingga perusahaan bisa menjalankan bisnisnya secara ringan dan stabil," jelasnya.

Berdasarkan alokasinya, sebagian besar anggaran proyek dihabiskan untuk pembangunan infrastruktur seperti memasang rel dan membangun pemberhentian LRT senilai 61,1 miliar yen. Sementara sisanya sekitar 7,3 miliar yen dipakai untuk membeli 17 rangkaian trem yang sekarang beroperasi. 17 rangkaian trem tersebut dirakit di Jepang dengan menggunakan berbagai komponen yang diproduksi oleh produsen luar negeri dan Jepang.

Rute sepanjang 14,6 kilometer itu tidak sepenuhnya inisiatif pemerintah Kota Utsunomiya sendiri. Saat rute pertama diumumkan pada 2013, jalurnya cuma sampai perbatasan Haga. Pemerintah Haga kemudian secara resmi meminta jalur diperpanjang sampai ke kawasan industri mereka, tempat sekitar 20 ribu orang bekerja dan banyak pekerjanya tinggal di Utsunomiya. Permintaan akhirnya diterima karena merepresentasikan permintaan penumpang yang bisa diprediksi dengan jelas, bukan taksiran spekulatif.

Meskipun tarifnya tidak memakai skema subsidi, tapi tetap lebih murah jika dibandingkan menggunakan bus untuk jarak yang sama.

"Tarifnya berdasarkan jarak. Dari pintu timur stasiun sampai ke titik akhir di kawasan industri Haga-Takanezawa tarifnya 400 yen (sekitar Rp 40 ribu). Sebagai perbandingan, kalau naik bus untuk jarak yang sama, ongkosnya sekitar 900 yen sampai 1.000 yen," ungkapnya.

Strategi Tata Kota Lewat Kehadiran LRT Haga-Utsunomiya: Network-type Compact City

LRT Haga-Utsunomiya yang mengadopsi konsep trem di Kota Utsunomiya, Jepang, Sabtu (19/9/2026). Foto: Nadia Riso/kumparan

Sejak 2008, LRT Haga-Utsunomiya diposisikan sebagai proyek inti dari strategi tata kota yang disebut Network-type Compact City (NCC). Ini dinilai menjadi solusi atas masalah klasik banyak kota regional di Jepang: jumlah penduduk menyusut dan menua, ditambah ketergantungan pada mobil pribadi.

"Model kota ini punya satu 'pusat kota' besar tempat penduduk dan fungsi kota terkonsentrasi, dikelilingi beberapa kawasan pemukiman pinggiran yang sudah ada sejak lama. Dengan mengembangkan jaringan transportasi publik yang menyambungkan semuanya, tujuannya adalah menciptakan kota yang mudah diakses siapa pun, di mana pun mereka tinggal di Utsunomiya," jelasnya.

Lewat konsep itu, LRT Haga-Utsunomiya menemukan posisinya dalam sebuah hirarki jaringan transportasi yang jelas.

"LRT Haga-Utsunomiya jadi sumbu utama transportasi publik arah timur-barat. Jalur kereta JR sudah ada untuk arah utara-selatan, dan LRT ini melengkapi arah timur-barat, lalu kami sambungkan dengan jaringan bus, taksi, dan moda lain untuk membangun jaringan transportasi publik yang berjenjang. Bayangkan saja seperti tulang ikan. LRT ini jadi tulang punggungnya, sementara bus, taksi, dan transportasi lokal jadi tulang-tulang kecilnya," tuturnya.

LRT Haga-Utsunomiya menjalankan 4 inisiatif sekaligus untuk mewujudkan hierarki itu: membangun LRT sebagai transportasi inti, menata ulang rute bus yang sudah ada, memperkenalkan transportasi lokal untuk area yang tak terjangkau bus, dan membangun transit center atau pusat transit supaya perpindahan antarmoda jadi mudah.

Desain LRT Haga-Utsunomiya, Transaksi Cashless, dan Pemanfaatan Energi Terbarukan

LRT Haga-Utsunomiya yang mengadopsi konsep trem di Kota Utsunomiya, Jepang, Sabtu (19/9/2026). Foto: Nadia Riso/kumparan

Sejumlah detail teknis LRT Haga-Utsunomiya dirancang untuk memperkecil hambatan orang berpindah dari mobil pribadi, bus dan moda lainnya ke jaringan transportasi publik. Untuk pembayaran tarif perjalanan, LRT Haga-Utsunomiya punya kartu bernama 'totra', yang memiliki fungsi kartu Suica di dalamnya.

Kartu Suica adalah kartu pembayaran kereta yang biasa dipakai di jaringan-jaringan kereta JR di Jepang.

Totra punya salah satu layanan andalan, yaitu program dukungan bepergian untuk lansia.

"Warga berusia 70 tahun ke atas mendapat 10 ribu poin dari Kota Utsunomiya di kartu ini setiap bulan April. Poin ini bisa dipakai naik LRT, taksi, atau bus supaya mereka lebih sering berpergian dan tetap sehat," ungkapnya.

Kartu ini juga memberi diskon saat berpindah moda transportasi dan menetapkan tarif harian maksimum 500 yen khusus untuk lansia, berapa pun jarak yang mereka tempuh.

Dari sisi desain kereta, trem yang dipakai punya panjang sekitar 30 meter dengan rangkaian 3 gerbong.

"Semua pemberhentian LRT bisa diakses lewat ramp dan lantai trem ini sejajar penuh dengan peron, sehingga penumpang naik dan turun tanpa ada perbedaan ketinggian sama sekali," jelasnya.

Sementara dari sisi energi, 100 persen listrik LRT Haga-Utsunomiya berasal dari sumber energi terbarukan.

"Pasokan listriknya berasal dari fasilitas pengolahan sampah 'Clean Park Mobara' di selatan Utsunomiya, ditambah panel surya yang dipasang di atap rumah-rumah warga. Di Clean Park Mobara, sampah yang dibuang warga dibakar, lalu panasnya diubah jadi listrik. Listrik ini dipakai untuk LRT, kantor balai kota, bahkan disalurkan ke bus listrik milik perusahaan swasta. Dengan kata lain, LRT ini adalah kendaraan yang berjalan dengan 100 persen energi terbarukan," tuturnya.

Bakal Perpanjang Rute, Proyeksi Penumpang Mencapai 31 Ribu per Hari

LRT Haga-Utsunomiya yang mengadopsi konsep trem di Kota Utsunomiya, Jepang, Sabtu (19/9/2026). Foto: Nadia Riso/kumparan

LRT Haga-Utsunomiya juga telah menyiapkan rencana perluasan rute. Pada Oktober 2025, perusahaan mengajukan rencana perpanjangan rute sejauh 5 kilometer ke pemerintah pusat. Dengan perpanjangan ini, maka total rutenya akan mencapai sekitar 20 kilometer dengan proyeksi penumpang harian mencapai sekitar 31 ribu orang.

"10 tahun dari sekarang, kami berencana memperpanjang LRT ini ke sisi barat kota dengan melintasi Stasiun Utsunomiya milik JR. Jalur ini akan melewati bagian atas jalur kereta lokal JR yang ada sekarang, dan di bawah rel Shinkansen untuk mencapai sisi barat. Kami menargetkan perpanjangan sejauh 5 kilometer dari stasiun dan dengan perpanjangan ini, total jarak operasional akan mencapai sekitar 20 kilometer dengan proyeksi penumpang harian mencapai sekitar 31 ribu orang," tuturnya.

Perluasan ini juga menyasar segmen penumpang yang cenderung stabil dan bisa diprediksi jangka panjang, yaitu pelajar.

"Dari sisi barat stasiun, area dekat titik akhir rute nanti banyak dilalui pelajar SMA. Jadi kami memperkirakan pengguna utama di sana adalah pelajar. Bersamaan dengan perpanjangan rute ini, kami juga mendorong penataan ulang kota, supaya pusat kota bisa diakses terutama lewat transportasi publik dan menjadi ruang yang jauh lebih ramah pejalan kaki," pungkasnya.